MELALUI KAMPANYE CERDAS, WWF-INDONESIA DORONG KESADARAN KONSUMSI DAN PRODUKSI BERKELANJUTAN DI BALI
Krisis lingkungan saat ini berkaitan erat dengan pola konsumsi manusia sehari-hari. Apa yang kita beli dan konsumsi berkontribusi pada kondisi bumi, sehingga pilihan konsumen menjadi kunci untuk mengurangi dampak lingkungan. Karena itu, WWF-Indonesia terus mendorong peningkatan kesadaran publik, terutama di kota-kota besar, mengenai pentingnya konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Sebagai upaya tersebut, WWF-Indonesia menggelar acara “CERDAS: Choose Eco-friendly, Responsible, Diverse, and Sustainable” di ZodiacXII Coffee & Eatery, Denpasar pada 30 November 2025, yang dihadiri lebih dari 90 peserta dan dikemas secara menarik mulai darin talkshow interaktif, stand-up comedy performance, workshop roll-on perfume berbahan produk sawit berkelanjutan, hingga booth yang memfasilitasi peserta dalam pembuatan merchandise sebagai media edukasi.

Talkshow dihadiri oleh empat narasumber lintas sektor yakni Samuel Pablo Pareira (WWF-Indonesia), Gde Made Adhi Dwiswara (Dinas Perindustrian dan Perdagangan/Disperindag Provinsi Bali), Ribka Anastasia (BOEMI Botanicals), dan Dian Sonnerstedt (Ecopreneur & Founder Bodega Ubud). Dalam diskusi, mereka menekankan urgensi aksi keberlanjutan, pentingnya kolaborasi dari hulu ke hilir, serta pengenalan sertifikasi keberlanjutan/label ramah lingkungan (ekolabel) untuk membantu konsumen memilih produk ramah lingkungan.
Samuel Pablo Pareira selaku Business Engagement Specialist for Sustainable Commodities WWF-Indonesia menjelaskan bahwa industrialisasi yang terus meningkat menuntut keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan industri dan keberlanjutan lingkungan, di mana WWF-Indonesia berperan mendorong pengarusutamaan komoditas berkelanjutan melalui perubahan pasar, kebijakan, dan edukasi ekolabel. “Ekolabel membantu konsumen mengenali produk yang diproduksi secara berkelanjutan, memastikan rantai pasok dari hulu ke hilir dikelola dengan baik bagi alam dan manusia, ” ungkapnya.
Mewakili pemerintah provinsi Bali, Gde Made Adhi Dwiswara selaku Ketua Tim Industri Agro Disperindag memaparkan bahwa pihaknya menerapkan prinsip leading by example dengan memulai praktik ramah lingkungan dari internal instansi, mulai dari larangan penggunaan botol sekali pakai hingga pengurangan sampah melalui kebijakan larangan kantong plastik. “Langkah ini bertujuan membentuk kebiasaan baru yang ramah lingkungan dan menjadikan aparat pemerintah sebagai teladan bagi masyarakat.” jelasnya.
Ecopreneur, influencer, sekaligus pendiri Bodega Ubud, Dian Sonnerstedt, juga menekankan pentingnya memberi teladan dalam mendorong publik memilih produk berkelanjutan serta bagaimana keberlanjutan menjadi fondasi bisnis yang tahan lama. “Bisnis yang sukses di masa depan adalah bisnis yang peduli dan peka terhadap sumber daya yang digunakan,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi pelaku bisnis, Ribka Anastasia selaku General Manager BOEMI Botanicals menyoroti komitmen BOEMI sebagai produk kecantikan yang peduli terhadap isu lingkungan dan pemberdayaan perempuan. Hal ini ditunjukkan dengan produk-produk mereka yang menggunakan bahan alami dan produk turunan sawit berkelanjutan ber-ekolabel Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). BOEMI juga memiliki prinsip pemberdayaan perempuan, termasuk perlibatan ibu-ibu paruh baya dalam setiap proses produksinya. Selain itu, “BOEMI juga mengurangi dampak lingkungan pasca-penggunaan dari produk-produk kami dengan memakai bahan baku alami yang tidak menghasilkan limbah berbahaya bagi tanah dan air,” tambahnya.

Sebagai penutup, WWF-Indonesia menggandeng BOEMI Botanicals untuk menggelar workshop membuat roll-on perfume dari bahan baku produk sawit berkelanjutan yang diikuti oleh 30 peserta dengan antusiasme luar biasa, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana praktik keberlanjutan dapat dihadirkan secara aplikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari
Melalui kampanye publik ini, WWF-Indonesia memperkuat peran masyarakat sebagai aktor utama yang dapat memengaruhi transformasi pasar dan industri ke arah berkelanjutan. Semakin banyak konsumen memilih produk yang bertanggung jawab, semakin besar dorongan bagi pelaku usaha untuk bertransformasi menuju rantai nilai yang berkelanjutan dan masa depan bumi yang lebih sehat dan lestari.
