DARI BALI MENUJU AKSI: MEMPERKUAT INDUSTRI HIJAU LEWAT LOKAKARYA RENCANA AKSI KEBERLANJUTAN
Sebagai upaya memperluas aksi kolaborasi keberlanjutan di sektor swasta, WWF-Indonesia bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Desperindag) Provinsi Bali melaksanakan Lokakarya Rencana Aksi Keberlanjutan di Bali pada 27 November 2025 lalu. Kegiatan yang dilaksanakan di Prime Plaza Hotel Sanur ini dihadiri oleh 19 mitra perusahaan di Bali mulai dari industri restoran, produk kecantikan, hotel, tekstil hingga IKM.
Lokakarya ini menyoroti pentingnya transisi dari model bisnis konvensional yang hanya mementingkan profit menuju model bisnis berkelanjutan yang fokus pada profit, pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Angga Prathama Putra, Sustainable Commodities Lead WWF-Indonesia, dalam sambutan pembuka memaparkan tentang keberlanjutan di tingkat global, bahwa industri saat ini turut bertanggung jawab pada perubahan iklim dan kondisi lingkungan. “Untuk menjawab ini, perusahaan dapat berkontribusi dengan melakukan aksi mulai dari energi hingga penggunaan bahan baku berkelanjutan,” ungkapnya.

Isu keberlanjutan juga menjadi sangat mendesak di sektor kelautan dan perikanan. Tiara Erinanda dari Seafood Savers WWF-Indonesia mengungkapkan bahwa urgensi ini muncul akibat penurunan produksi perikanan tangkap sejak 2017 dan penurunan stok ikan di laut yang mengancam ketersediaan sumber daya. Di sektor ini, WWF-Indonesia turut mendukung pelaku usaha dengan memberikan edukasi, pelatihan, sertifikasi, serta mempromosikan sertifikasi keberlanjutan/ekolabel global seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC) untuk perikanan budidaya dan Marine Stewardship Council (MSC) untuk perikanan tangkap.

Mewakili pemerintah Bali, Kepala Bidang Perindustrian Disperindag, Dw Gd Aditya Nova Prawisandi, menekankan bahwa penerapan Industri Hijau merupakan upaya yang tidak bisa ditawar lagi untuk mencapai efektivitas dan efisiensi sumber daya. "Perusahaan yang tersertifikasi seperti Lembaga Sertifikasi Industri Hijau akan memperoleh Logo Industri Hijau yang dapat meningkatkan daya saing. Meskipun transisi model ini memerlukan biaya awal yang tinggi, namun akan menekan biaya jangka panjang," jelasnya.
Salah satu bentuk komitmen nyata ditunjukkan oleh mitra WWF-Indonesia yang hadir untuk berbagi cerita keberlanjutan, yakni Cuca, sebuah restoran casual fine dining di Jimbaran yang telah berkomitmen menggunakan minyak goreng sawit berkelanjutan (Certified Sustainable Palm Oil) dalam produksi kulinernya. Erika Ayu Wulandari, HR Manager Cuca, berbagi pengalaman Cuca dalam mengadopsi konsep keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa aksi keberlanjutan adalah keharusan, bukan sekadar tren. “Setiap unit usaha, bahkan setiap dapur, memiliki kekuatan untuk membentuk masa depan,“ katanya.
Samuel Pablo Pareira, Business Engagement Specialist for Sustainable Commodities WWF-Indonesia, menyampaikan bahwa Rencana Aksi Keberlanjutan perlu bersifat pragmatis dan disesuaikan per sektor usaha. Intinya, maksimalisasi profit juga dapat sejalan dengan aspek lingkungan dan sosial, meskipun tantangannya meliputi biaya transisi tinggi dan keterbatasan sumber daya manusia yang perlu dilatih lebih lanjut. "Manfaat yang diperoleh bagi perusahaan juga sangat besar, termasuk akses ke pasar yang lebih luas dan pencitraan merek (branding) yang lebih positif.", tambahnya.

Lokakarya ditutup dengan sesi penyusunan Rencana Aksi Keberlanjutan olah para mitra industri. Beberapa pelaku industri seperti Prime Plaza Hotel Sanur menargetkan peningkatan pengolahan limbah sisa makanan menjadi ecoenzym melalui budidaya larva lalat hitam (black soldier fly) hingga 80 persen pada Desember 2026. Sementara itu, PT Sensatia Botanicals juga berupaya untuk mencapai 100 persen kemasan plastik dari daur ulang (PCR) pada Desember 2027.
Lokakarya ini membuka peluang bagi WWF-Indonesia dan pelaku industri di Bali untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong penerapan aksi keberlanjutan, khususnya bagi industri yang ingin bertransformasi menggunakan bahan baku ramah lingkungan. Melalui komitmen dan sinergi bersama, kolaborasi ini dapat mempercepat transformasi industri menuju praktik yang lebih bertanggung jawab, sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan masa depan Bali yang lebih baik bagi generasi mendatang.
