WWF MENAMBAH 30 VIDEO KAMERA INTAI OTOMATIS UNTUK MENELUSURI PERILAKU BADAK JAWA
Taman Nasional Ujung Kulon—WWF-Indonesia and Balai Taman Nasional Ujung Kulon secara resmi telah menerima 30 unit tambahan video kamera otomatis untuk mempelajari distribusi dan perilaku satwa Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di dalam hutan TN. Ujung Kulon. Video kamera baru ini menambah jumlah video yang ada sehingga total menjadi 34 unit, tersebar di semua titik area jalur badak di Semenanjung Ujung Kulon. Kamera-kamera tersebut didapatkan berkat dukungan dana dari WWF-AREAS Program, International RhinoFoundation (IRF) dan Asian Rhino Conservation Program (ARCP).
“Pemantauan badak secara seksama dan intensif sangat diperlukan, tidak hanya untuk memantau perilaku makan dan berkubang namun juga untuk mempelajari perilaku berkembangbiak seperti perilaku kawin, mengasuh dan proses penyapihan induk-anak badak,” ujar Adhi Hariyadi, Project Leader program konservasi badak WWF-Ujung Kulon. Video kamera tambahan ini telah dipasang sejak tanggal 26 Desember 2008 hingga 3 Januari 2009 dan rekaman video akan diambil setiap bulan. “ Mudah-mudahan bulan depan kami sudah bias melihat hasil rekaman video yang baru dipasang itu,” ujar Adhi.
Badak Jawa merupakan jenis badak yang terlangka dari 5 jenis badak di dunia dan masuk dalam kategori sangat terancam punah. Saat ini populasi badak Jawa di dunia hanya ada di 2 negara: Indonesia dan Vietnam. Badak yang ada di Vietnam populasinya kurang dari 10 individu dan dianggap tidak memungkinkan untuk berkembang biak. Oleh sebab itu badak Jawa di TN. Ujung Kulon dengan populasi kurang dari 60 individu -- lebih dari 90% dari total populasi badak Jawa didunia -- dianggap satu-satunya populasi yang memiliki harapan untuk dapat bertahan hidup.
Tim peneliti WWF dan lembaga peneliti lain telah mempelajari badak bercula satu ini menggunakan video intai otomatis untuk membantu melindungi mereka dari ancaman kepunahan. Dan dengan bantuan inframerah sebagai sensor gerak, video intai otomatis sangat bermanfaat untuk mempelajari kehidupan satwa misterius ini dengan petunjuk yang lebih terperinci. Hal tersebut dapat menjadi bukti kuat dari setiap tanda-tanda kehadiran individual badak, baik ukuran tubuh, distribusi populasi dan usia, jenis kelamin dan kesehatan.
Pada Mei 2008 lalu, WWF-Indonesia bersama Balai Tn. Ujung kulon telah merilis rekaman video pertama badak Jawa hasil video intai otomatis, merekam aktivitas induk dan anak badak di malam hari.
Upaya meningkatkan ketersediaan tumbuhan pakan badak
Saat ini, kompetisi pakan dan ruang menjadi ancaman besar yang dihadapi oleh badak Jawa. Badak harus membagi hutan Ujung Kulon sebagai satu-satunya ruang hidup dengan banteng. Selain itu juga ancaman tumbuhan sejenis palem, atau dikenal dengan langkap (Arenga obtusifolia), yang menyebar dengan cepat mendominasi tumbuhan pakan badak.
Hampir setahun sudah WWF-Indonesia memulai upaya intervensi habitat melalui eradikasi atau pengurangan langkap di area yang diketahui sebagai rumpang badak. Dan kini kita sudah mendapatkan hasilnya. Bulan Desember 2008 lalu dilaporkan adanya kunjungan seekor badak ke area tsb seiring tumbuhnya tunas tumbuhan pakan yang mulai tumbuh disana. Sebelumnya karena ada invasi langkap menyebabkan tidak ada tumbuhan pakan badak yang dapat ditemukan di area tsb. Perilaku makan badak tersebut dideteksi oleh tim pemantau yang terdiri dari petugas taman nasional dan tim lapangan WWF-Indonesia. Tanda-tanda kehadiran badak ditunjukan melalui temuan tapak badak dan juga jejak gigitan yang ditinggalkan pada beberapa tumbuhan pakan.
Upaya intervensi habitat ini didukung penuh oleh WWF-Jerman. Kegiatan intervensi habitat dilakukan dengan mengurangi jumlah langkap; seiring dengan pertumbuhan jenis pakan yang meningkat. Pengurangan langkap dilakukan secara mekanis dengan mencabut tumbuhannya sampai ke akar, sedangkan penggunaan unsur herbisida belum dapat dilakukan terkait dengan izin. Data menunjukan bahwa walau area intervensi tidak terlalu luas namun peningkatan tumbuhan pakan secara signifikan menarik kunjungan badak ke area tsb. Temuan ini membuktikan bahwa peningkatan daya dukung habitat dapat menambah tingkat kunjungan badak, namun untuk keberhasilan pertumbuhan jenis pakan yang signifikan diperlukan area yang lebih luas dan pengawasan yang lebih efektif.
Pada Desember 2008 lalu Balai TNUK telah dilakukan sensus badak. Hasil sensus menunjukan indikasi temuan anak badak yang masih sangat muda (baru lahir) dengan ukuran tapak 17-18 cm yang masih bersama induknya. Kehadiran anak badak yang baru lahir ini konsisten dengan pola kelahiran badak setiap 2-3 tahun sekali di TN. Ujung Kulon.
Berita Terkait:
Dephut dan WWF Gunakan ‘Video Trap’ untuk Pelajari Kehidupan Badak Jawa
Kelahiran Empat Bayi Badak di Ujung Kulon
Camera Trap : Bagaimana Cara Kerjanya ?
How You Can Help? Click to www.rhinocare.info