WWF DAN SIEJ GELAR PELATIHAN JURNALIS MENUJU KTT PERUBAHAN IKLIM KOPENHAGEN
Oleh: Masayu Yulien Vinanda
Bogor (24/10)-Bekerja sama dengan kelompok Jurnalis Lingkungan yang tergabung dalam SIEJ (Society of Indonesian Environmental Journalists), WWF-Indonesia gelar pelatihan wartawan menjelang forum KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, selama 2 hari sejak Jumat (23/10) hingga Sabtu (24/10) di Novotel, Bogor.
Pelatihan wartawan ini diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan kepada wartwaan mengenai perubahan iklim sebelum mereka melakukan peliputan KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen. Workshop “Road to Copenhagen” ini diikuti oleh beberapa wartawan dari berbagai media massa diantaranya Kompas, Jakarta Post, Antara, Suara Pembaruan, Koran dan Majalah Tempo, Media Indonesia, Sinar Harapan, dan TV One.
Topik mengenai REDD di Indonesia dan perkembangannya dalam negosiasi global menjadi topik pertama yang dibahas. Hadir sebagai pembicara kunci yaitu Ketua Pokja Perubahan Iklim Departemen Kehutanan Wandoyo Siswanto yang mempresentasikan mengenai kerangka kebijakan implementasi REDD di Indonesia serta Doddy S. Sukadri dari Dewan Nasional Perubahan Iklim ( DNPI) Indonesia yang mengulas mengenai REDD dan REDD Plus dalam Struktur Negosiasi Global.
“Progress REDD saat ini kita masih terus mengembangkan strategi REDD Readiness Indonesia antara lain menyiapkan sistem Fris Forest Resource Information System dan NCAS atau National carbon Accounting System. Kita juga menyiapkan penyiapan perangkat REDD di tingkat nasional dan sub-nasional melalui UNFREDD dan FCPF, kemudian menyusun demonstrastion activities bekerjasama dengan Australia dan Jerman. Semua ini untuk mendukung strategi nasional kesiapan REDD sehingga pada akhir fase Readiness ini, Indonesia siap memasuki full implementation REDD termasuk market based,” ungkap Wandoyo.
Terkait Konferensi perubahan iklim di Kopenhagen Desember mendatang, Doddy Sukardi mengatakan, prioritas permasalahan untuk disepakati di Kopenhagen selain REDD adalah kelautan, mitigasi, Nationally Appropriate Mitigation Actions atau NAMAs, serta pendanaan. Selain itu,Indonesia juga akan menindaklanjuti pernyataan presiden pada pertemuan G20 di Pittsburgh terkait pasal-pasal pengurangan emisi, pendanaan adaptasi dan teknologi transfer.
Selain dua pembicara kunci tersebut, Ketua Pokja Pasca Kyoto-2012 DNPI yang juga Ketua Tim Perunding Delegasi RI Tri Tharyat juga dihadirkan sebagai narasumber.
Kesuksesan COP 15 nanti ditegaskan Tri Tharyat, sangat bergantung terhadap perubahan sikap negara-negara maju yang tergabung dalam Annex I. Pasca negosiasi perubahan iklim di Bangkok, Thailand, September Lalu, Tri menilai, negara maju belum menunjukkan komitmen mereka untuk menaikkan target pengurangan emisi dalam jangka menengah.
“Tanpa adanya perubahan sikap dari negara maju, khususnya Amerika maupun China untuk menurunkan emisinya secara agregat hingga mencapai 45 persen pada 2020, saya pesimis Konferensi Kopenhagen akan sesuai harapan,” pungkas Tri.
Artikel Terkait:
Kesepakatan Kopenhagen Bukan Akhir dari Upaya Penanganan Perubahan Iklim