WORKSHOP INTERNASIONAL EKOWISATA HEART OF BORNEO: EKOWISATA, HARMONISASI NILAI-NILAI KONSERVASI DAN EKONOMI
Malinau-Indonesia. Sebuah workshop berskala internasional diselenggarakan di Malinau, Kalimantan Timur pada tanggal 5-7 Agustus 2008 ini. Acara tersebut dihadiri para wakil pemerintah, pihak swasta dan praktisi pariwisata Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia untuk menggagas ekowisata di kawasan Heart of Borneo (HoB), termasuk pemasaran dan pengembangannya ke depan.
© WWF-Indonesia / Annas NASRULLAH
Kawasan HoB, yang telah dideklarasikan oleh ketiga negara tersebut pada Februari 2007, menyediakan keindahan dan atraksi alam yang mempesona dan berpotensi besar untuk dikembangkan. Adat, budaya dan filosofi hidup masyarakat adat Dayak yang menarik telah tercermin dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga hutan hujan tropis alam Borneo dan keanekaragaman hayati yang unik dapat terpelihara dan terlindungi dengan baik selama ini.
Akhir-akhir ini industri pariwisata cenderung menunjukkan ketertarikan lebih pada wisata alam. Ekowisata merupakan bentuk pengembangan pariwisata yang menempatkan alam dan budaya lokal sebagai nilai utama, yang dalam jangka panjang dapat membantu mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, ekowisata bisa menjawab minat terhadap wisata alam dan sekaligus menunjukkan bahwa konservasi bisa berjalan selaras dengan ekonomi.
© WWF-Indonesia / Annas NASRULLAH
Kabupaten Malinau sebagai tuan rumah kegiatan, yang belum lama ini telah mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Konservasi, berkomitmen akan mempertahankan sebagian besar wilayahnya yang merupakan hutan hujan tropis alam agar dapat terus terpelihara dengan baik. ”Selain memberikan manfaat dan jasa bagi kehidupan masyarakat lokal dan global, hutan ini juga mengandung daya tarik yang bisa dimanfaatkan, salah satunya sebagai obyek wisata,” ujar Dr. Martin Billa, Bupati Malinau saat dimintai pendapatnya mengenai potensi ekowisata di daerahnya.
Beberapa proyek percontohan (pilot project) ekowisata telah dilaksanakan di kawasan
© WWF-Indonesia / Annas NASRULLAH
HoB yaitu di Kabupaten Malinau (Kaltim), Nunukan (Kaltim) dan Kapuas Hulu (Kalbar), contohnya di Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Kayan Mentarang. Proyek ini membangun ekowisata yang pengelolaannya bertumpu pada masyarakat. Dengan dipandu oleh masyarakat, para wisatawan bisa datang ke lokasi dan menikmati keramahtamahan masyarakat dan hidup keseharian masyarakat di rumah-rumah penduduk yang telah difungsikan sebagai rumah tinggal para wisatawan.
Workshop ini diharapkan dapat menjembatani program ekowisata yang telah ada termasuk rencana baru pengembangannya di tempat lain di Kalimantan secara terpadu dengan jaringan pariwisata di negara tetangga Brunei Darussalam dan Malaysia. Dr. Samedi, anggota Kelompok Kerja HoB Nasional dari Departemen Kehutanan menyampaikan, ”Pengembangan ekowisata merupakan salah satu program strategis HoB yang disepakati oleh Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Kerjasama antar tiga negara HoB ini diharapkan dapat memfasilitasi ekowisata lintas batas negara. Sebagai contoh, dalam hal ini ada kemungkinan feeding tourist dari Malaysia atau Brunei ke Indonesia dan sebaliknya.” Departemen Kehutanan melihat ekowisata sebagai titik temu antara konservasi dan ekonomi; dan mengarahkan kebijakan insitusinya untuk mendukung pengembangan ekowisata di kawasan Heart of Borneo.
Menurut Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif WWF-Indonesia, masyarakat dan kekayaan alam, budaya dan petualangan di kawasan Heart of Borneo bisa menjadi suatu paket wisata alam yang berpeluang menarik minat wisatawan untuk berkunjung. ”Ekowisata tersebut bisa juga menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungannya. Sebab dengan lingkungan yang masih terjaga dengan baik, masyarakat bisa tetap memperoleh keuntungan melalui ekowisata tersebut,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela pelaksanaan workshop. WWF-Indonesia mendukung sepenuhnya workshop yang merupakan upaya positif mengoptimalkan nilai konservasi dan ekonomi di kawasan tersebut. (***)
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
1. Yulius, Plt. Humas Pemda Kabupaten Malinau, +62 813 478 61916
2. Nancy Ariaini, HoB Communication Officer, WWF Indonesia +62 811529538, nariaini@wwf.or.id
3. Arman Anang, Communication Officer, Kayan Mentarang Project, WWF-Indonesia +62 8125303883, aanang@wwf.or.id
Catatan untuk Redaksi:
1. Inisiatif Heart of Borneo adalah sebuah inisiatif yang dirancang sebagai program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi yang bertujuan mempertahankan keberlanjutan manfaat salah satu hutan terbaik yang masih tersisa di Borneo bagi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang.
2. Cakupan wilayah kerja HoB membentang pada rangkaian dataran tinggi Borneo yang terhubung secara langsung dengan dataran rendah di bawahnya. Wilayah kerja ini melintasi wilayah Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia.
3. Kabupaten Konservasi adalah unit administrasi yang berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan: perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, pemanfaatan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; Yang ditetapkan berdasarkan criteria seperti termasuk dalam kawasan konservasi yang ditetapkan, ada batasan dalam aktivitas pembangunan, memiliki misi yang berdasarkan prinsip konservasi, menunjukkan komitmen politik untuk mengimplementasikan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan mendapat manfaat dari insitusi pengelola lingkungan yang kompeten.
4. Ekowisata berbasis Masyarakat. Ekowisata dapat menciptakan nilai ekonomi untuk kawasan konservasi. Sepanjang masyarakat lokal dapat berpartisipasi dalam pengembangan ekowisata, maka ekowisata bisa menjadi sebuah bisnis penting berbasis konservasi dan strategi mata pencaharian. Ekowisata juga dapat berkelanjutan secara sosial dan ekologi asalkan ada kemitraan yang adil antara masyarakat, pemerintah daerah dan sektor swasta. Berbasis masyarakat berarti masyarakat haruslah memperoleh manfaat dari pengusahaan ekowisata, ada kendali atas pengembangan ekowisata dalam rangka mengurangi dampak negatif terhadap kawasan, budaya dan kehidupan sosial mereka serta terlibat dalam pengelolaan aktivitas ekowisata.
5. Kelompok Kerja Nasional Heart of Borneo merupakan sebuah kelembagaan pengelolaan kerja Heart of Borneo di Indonesia yang terdiri dari institusi pemerintahan yang relevan (Kementerian Koordinasi Perekonomian, Departemen Kehutanan, Kementrian Lingkungan Hidup, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Luar Negeri, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Departemen Dalam Negeri, dll); pemerintah provinsi dan kabupaten, akademisi dan masyarakat (termasuk LSM). Kelembagaan ini melakukan koordinasi pembangunan dan penjangkauan domestik, sinergi dalam regulasi dan mekanisme kerja internal di Indonesia.
6. Tentang WWF-Indonesia
WWF merupakan salah satu dari organisasi konservasi mandiri terbesar dan sangat berpengalaman di dunia, dengan hampir 5 juta supporter dan memiliki jejaring global yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 24 wilayah kerja lapangan dan di 16 propinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs nasional di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di http://www.wwf.or.id/.
WWF-Indonesia di Kalimantan Timur:
Saat ini WWF-Indonesia membantu Departemen Kehutanan membantu pengembangan kapasitas pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang dalam rangka kerjasama pemerintah Republik Indonesia dan Republik Federal Jerman-GTZ. WWF-Indonesia juga mendukung program bersama tiga negara: Jantung Kalimantan atau the Heart of Borneo di mana peran Provinsi Kalimantan Timur sebagai salah satu pemilik hutan paru-paru dunia diakui keberadaannya secara luas. Pada bulan Mei 2008 lalu, WWF-Indonesia meresmikan kerjasama dengan Pemerintah Kota Tarakan untuk rehabilitasi hutan mangrove, serta dengan Pemerintah Kabupaten Malinau untuk pengelolaan sumber daya alam lestari. WWF-Indonesia juga berkerjasama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat dan swasta untuk menerapkan prinsip-prinsip kelestarian dalam pengelolaan kebun Kelapa Sawit.