PAMERAN FOTO LAMALERA DAN BOTI, KUPANG, NOVEMBER-DESEMBER 2008
Pelestarian Alam dan Budaya dari Sudut Pandang Masyarakat
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
<!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Ann Mcbride Norton, Photovoices Director - 0812-38-7840, annmcbridenorton@yahoo.com Photovoices Project office: Jl. By Pass Ngurah Rai No 121X Denpasar-Bali - 0361-285-298
Kupang, Nusa Tenggara Timur (5/11/08 ) – UPTD Museum Budaya Tradisional Kupang, Photovoices International dan WWF-Indonesia pada 5 dan 6 November akan menyelenggarakan sebuah pameran fotografi yang dihasilkan oleh masyarakat desa tradisional penangkap paus Lamalera, Lembata dan Boti, sebuah desa berbentuk kerajaan di daerah pegunungan Timor yang masih menganut system kepercayaan dan budaya kuno. Photovoices International dengan slogannya “Memberdayakan Masyarakat Melalui Fotografi” merupakan sebuah program kerjasama antara WWF-Indonesia, National Geographic dan Ford Foundation.
Pembukaan pameran di Kupang akan dihadiri oleh para tokoh spiritual, para tokoh adat/masyarakat, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Kepala UPTD Museum Daerah NTT Drs. Leonardus Nahak MA, Direktur Photovoices Ann McBride Norton, dan Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia Wawan Ridwan. Pameran “Lamalera dan Boti Dalam Sudut Pandang Masyarakat Setempat” menampilkan lebih dari 100 foto yang diambil oleh kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak dari kedua daerah terpencil di Indonesia bagian Timur ini yang sebelumnya belum pernah menggunakan kamera.
“Memahami tradisi dankepercayaan sebuah komunitas merupakan hal penting yang dapat membantu kita dalam membuat strategi pembangunan berkesinambungan dan untuk melindungi sumber daya alam yang ada,” Ann McBride Norton.
Para fotografer desa dari Lamalera dan Boti akan menghadiri pameran ini dan berbicara mengenai foto-foto beserta setiap kisah dibalik foto tersebut, termasuk keadaan lingkungan, apa yang mereka hargai mengenai budaya tradisional, kelebihan-kelebihan komunitas mereka serta tantangan dan harapan-harapan untuk masa depan.
“Kegiatan pameran dan sarasehan Photovoices ini bias menjadi salah satu strategi yang dapat menemukan titik temu dimana tradisi dan hak hidup masyarakat tradisional serta kepentingan konservasi alam dan lingkungan dapat berjalan seiring dan sejalan searah dengan kaedah-kaedah global yang berlaku,” demikian sambutan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT.
Disela-sela pameran selama dua hari juga akan diselenggarakan sarasehan diantara kaum akademis, pelestari lingkungan, aparat pemerintah dan para fotografer desa untuk membicarakan masalah-masalah penting berdasarkan foto-foto beserta cerita dibaliknya dan hal-hal lain yang adihadapi oleh daerah-daerah ini. Dalam acara ini, para fotografer desa juga akan memperagakan tenunan tradisional, musik dan tarian khas mereka.
“Hasil karya masyarakat Lamalera dan Boti yang luar biasa ini akan menjadi informasi penting untuk Museum dan juga dapat mengajarkan masyarakat luar yang belum tahu adat tradisi Lamalera dan Boti bisa belajar langsung dari kegiatan pameran ini dan kedepannya museum berharap akan terus dapat mengembangkan diri menjadi pusat informasi budaya serta tempat dialog budaya untuk memupuk pemahaman, saling mengerti dan menerima keragaman budaya sebagai kekayaan kita semua,” kata Drs. Leonardus Nahak, MA, Kepala UPTD Museum Daerah NTT.
“WWF-Indonesia menganggap suara masyarakat setempat sebagai sebuah aset penting untuk membuat strategi/kebijakan-kebijakan pelestarian dan Photovoices merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melibatkan masyarakat lewat informasi visual dan naratif yang dihasilkan dalam membuat perencanaan masa depan. WWF juga sangat percaya untuk mengimplementasikan program konservasi yang lebih baik yakni belajar dari pengetahuan/kearifan dan budaya tradisional masyarakat setempat,” ujar Wawan Ridwan.
Foto-foto yang telah dihasilkan oleh masyarakat Lamalera akan didokumentasikan ke dalam sebuah buku dalam waktu dekat. Buku ini tidak akan dijual, namun akan dijadikan sebagai bahan pustaka masyarakat Lamalera sehingga anak-anak dan para generasi muda Lamalera memiliki sebuah informasi sebagai acuan untuk melestarikan, memahami dan mencintai adapt serta budaya mereka sendiri. Dengan demikian, nilai-nilai yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenk moyang mereka tidak akan punah.
| Photo Strips |
| |
| Boti Musician © WWF-Indonesia |
| |
| The Exhibition © WWF-Indonesia |
| |
| The Exhibition © WWF-Indonesia |
| |
|
Whale hunting dancing © WWF-Indonesia |
WWF, sebuah organisasi konservasi, dengan misi menghentikan perusakan lingkungan alami di planet bumi dan untuk membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alamnya, melalui perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan mempromosikan pengurangan polusi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hamper 5 juta pendukung di dunia. WWF mulai bekerja di Indonesia tahun 1962. Untuk informasi lebih jauh tentang WWF, kunjungi www.wwf.id atau www.panda.org
Photovoices merupakan sebuah program yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan menyediakan kamera digital kepada masyarakat lokal untuk mendokumentasikan apa yang mereka hargai tentang alam dan budaya, sebagai sebuah cara untuk memberikan informasi sebagai salah satu bahan acuan bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan pelestarian di wilayah tersebut.
Photovoices menghasilkan dokumentasi visual yang akan memberikan sudut pandang berbeda bagi organisasi-organisasi pelestarian serta para pembuat kebijakan. Selian itu juga, Photovoices membantu masyarakat untuk mengekspresikan ide-ide serta pemikiran mereka tentang alam dan budaya, sehingga suara mereka dapat didengar oleh pemerintah.
Program Photovoices di Cina menyediakan 300 kamera digital di 60 desa yang masih alami dan tradisional. Foto-foto yang mereka hasilkan telah membantu pemerintah dalam membuat kebijakan kosnervasi di wilayahnya, diterbitkan oleh media-media terkenal dan dipamerkan di American Museum of Natural History di New York. Program Photovoices di Lamalera dan Boti merupakan program kedua di Indonesia. Photovoices didanai oleh Ford Foundation Indonesia dan National Geographic Society, dan bekerjasama dengan WWF-Indonesia.
Photovoices menyediakan:
<!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Sebuah cara nyata bagi masyarakat lokal untuk mendokumentasikan apa yang mereka hargai tentang alam, budaya dan kehidupan desa serta untuk merekam kelebihan-kelebihan dan keprihatinan mereka;
<!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Sebuah metode untuk memberdayakan masyarakat dengan informasi visual yang langsung didapat dari masyarakat yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dan mempengaruhi pembuatan kebijakan;
<!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Sebuah bentuk seni visual yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat dunia pada umumnya tentang berharganya keanekaragaman alam dan budaya ditengah-tengah dunia yang sedang mengalami perubahan secara pesat seperti pada saat ini.
Photovoices memiliki sebuah fokus program khusus yang disebut “Voices from the Archipelago” yang ditujukan bagi masyarakat lokal untuk mendokumentasikan alam dan budaya Indonesia yang sangat kaya dan beraneka ragam. Untuk informasi lebih lanjut tentang Photovoices, kunjungi: www.photovoicesinternational.org