LAGI, ANGGOTA TIM RISET BERTEMU HARIMAU DI TESSO NILO
Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ini, sudah dua kali Tim Riset Harimau bertemu dengan harimau sumatera. Setelah akhir April lalu, salah seorang anggota tim bertemu dengan harimau disekitar daerah usulan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo, kali ini tepatnya 10 Juli 2008, tim riset bertemu kembali dengan harimau sumatera. Eka Septayuda, salah seorang anggota tim tersebut bertemu dengan harimau di daerah perbatasan konsesi akasia dan Taman Nasional Tesso Nilo.
Mulai minggu kedua Juli, Tim Riset Harimau melakukan survei dan pengambilan kamera jebak (camera trap) yang telah dipasang pada bulan sebelumnya di beberapa lokasi penelitian di kawasan hutan Tesso Nilo. Baru satu jam setengah berjalan meninggalkan camp mereka di hutan Eka dan Toni, seorang guide, lokal dikagetkan dengan temuan jejak-jejak harimau yang masih baru di tanah kosong perbatasan perkebunan akasia PT. Rimba Lazuardi dan Taman Nasional Tesso Nilo. Mereka kemudian menyusuri jejak-jejak tersebut dan menemukan pasir tempat harimau tersebut berguling-guling dan bekas air seninya. Melihat tanda-tanda yang masih baru ini, mereka jadi penasaran namun harus waspada karena bisa saja harimau itu masih berada disekitar lokasi tersebut.
Tim riset menemukan air seni harimau sumatra yang masih baru. © WWF-Indonesia/Eka Septayuda
Jejak-jejak tersebut akhirnya mengarah ke semak belukar. Sejenak Eka dan Toni memperhatikan belukar tersebut, tanda-tanda fisik disekitar belukar tersebut menunjukkan bahwa daerah itu merupakan perlintasan harimau. Karena penasaran, Eka dan Toni memberanikan diri menyusuri semak belukar tersebut. Belum jauh melangkah ke dalam semak, Eka yang berjalan di depan tiba-tiba dikagetkan dengan seekor harimau dengan posisi “stand by” menatap dirinya. Dalam kekagetannya, Eka tidak tahu untuk berbuat apa, ia pun hanya diam memandangi harimau yang diperkirakannya masih remaja tersebut.
Seingat Eka, tidak sampai satu menit dia dan harimau tersebut saling bertatapan dalam jarak sekitar 10 meter. Harimau tersebut kemudian berbalik arah dan lari menjauh, Eka berbalik arah dan berlari kearah Toni yang masih tertinggal di belakangnya. Dengan rasa cemas mereka meninggalkan lokasi tersebut dan menuju arah lokasi kamera jebak (camera trap) yang telah dipasang bulan lalu sambil terus waspada melanjutkan pekerjaan hari itu.
Sejak dilakukannya survei dan monitoring harimau Sumatera dengan menggunakan metoda camera trap dari Desember 2004, sudah tiga kali tim riset bertemu dengan harimau. Dua kali di kawasan hutan Tesso Nilo dan satu kali di Suaka Margasatwa Rimbang Baling.
Pertemuan langsung dengan harimau di Tesso Nilo ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut benar-benar masih menyimpan kekayaan terutama spesies dilindungi. Hal ini juga terbukti dengan hasil foto yang didapat dari pemasangan camera trap selama ini telah menghasilkan ratusan foto satwa dilindungi. Hingga April 2008, camera trap yang ditempatkan di Taman Nasional Tesso Nilo telah menghasilkan 107 buah foto-foto harimau. Dari hasil foto-foto ini, untuk sementara kami telah dapat mengidentifikasi 10 individu harimau yang berbeda. Studi kami terhadap populasi dan distribusi harimau di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo memperkirakan bahwa dengan ukuran taman seluas 38.576 ha tersebut, kepadatan harimau berkisar 0,6-1,2/ 100 km².