HIDUP HIJAU DAN BERBICARA BAHASA INGGRIS: KOLABORASI DINAMIS ANTARA LIVING ENGLISH DAN WWF-INDONESIA
Sebuah Mantra Abadi
Reduce, Reuse, Recycle. Tiga kata ini membentuk mantra abadi untuk pengelolaan lingkungan. Meskipun sebagian besar dari kita familiar dengan “3R,” tantangannya terletak pada bagaimana kita meneruskan kebijaksanaan ini kepada generasi berikutnya. Bagaimana kita melampaui pelajaran teoritis untuk anak-anak yang lebih suka bertindak langsung?
Jawabannya sederhana: Berikan contoh.
Inilah yang menjadi motivasi di balik “The Green Adventures English Camp,” program liburan yang diselenggarakan oleh kelompok bimbingan belajar Living English bekerja sama dengan WWF-Indonesia. Diselenggarakan pada 20-21 Desember 2025, kamp ini bertujuan menanamkan kebiasaan ramah lingkungan pada anak-anak melalui aktivitas imersif dan praktis, dengan tujuan membuktikan bahwa melindungi planet ini bisa dengan cara menarik.
Pada hari kedua kegiatan, Minggu, 21 Desember, Museum Indonesia di TMII, Jakarta Timur, menjadi pusat kreativitas. Lima staf WWF-Indonesia dan sepuluh relawan yang berkomitmen tiba pagi-pagi buta untuk membantu fasilitator Living English mengubah Bale Bundar menjadi ruang kelas interaktif.
Seiring berjalannya pagi, 80 siswa—dari tingkat sekolah dasar hingga SMP—berkumpul untuk kegiatan hari itu. Peserta dibagi menjadi tiga tingkatan dengan total sembilan kelompok:
- Kelompok Merah: Siswa sekolah dasar bawah (TK - Kelas 3).
- Kelompok Biru: Siswa sekolah dasar atas (Kelas 4–6).
- Kelompok Hijau: Siswa sekolah menengah pertama dan atas.
Hari dimulai dengan sesi “kosakata hari ini”, menjembatani kesenjangan antara kemampuan bahasa Inggris dan literasi lingkungan. Setelah pengenalan singkat tentang misi global WWF-Indonesia, sukarelawan beralih ke inti workshop: proyek upcycling khusus untuk setiap kelompok.
Upcycling dalam Aksi: Pendekatan Kreatif untuk Konservasi
Di bawah bimbingan fasilitator WWF-Indonesia, ruang lokakarya ramai dengan aktivitas selama lebih dari satu jam:
- Kelompok Merah menghidupkan kembali kertas dan kardus bekas dengan membuat boneka tongkat (wayang).
- Kelompok Biru menganyam potongan kain bekas menjadi gantungan kunci berwarna-warni.
- Kelompok Hijau mengubah kaos lama menjadi tas jinjing fungsional tanpa jahitan.
Sementara siswa fokus pada karya mereka, tim fasilitator WWF-Indonesia menyisipkan pelajaran lingkungan yang penting. Mereka menjelaskan bahwa upcycling bukan sekadar hobi, ini adalah cara langsung untuk mengurangi permintaan bahan baku seperti kayu dan kapas. Dengan memberikan kehidupan kedua pada barang lama, para pemuda ini belajar cara mengurangi jejak lingkungan mereka secara nyata.
Sesi ditutup dengan sesi berbagi yang mengharukan. Perwakilan dari setiap kelompok naik ke panggung untuk menjelaskan cerita di balik karya mereka. Rasa bangga terlihat jelas; banyak peserta mengungkapkan keinginan untuk memberikan barang buatan tangan mereka kepada anggota keluarga, sementara yang lain berkomitmen untuk mengganti plastik sekali pakai dengan perlengkapan daur ulang baru mereka.
Sesi pada hari Minggu menjadi kesuksesan besar bagi Living English dan WWF-Indonesia. Dengan menggabungkan pendidikan bahasa dengan konservasi praktis, program ini membuktikan bahwa pesan keberlanjutan paling kuat ketika dirasakan dan dialami.
Saat 80 peserta muda ini pulang ke rumah, mereka membawa lebih dari sekadar kerajinan. Mereka membawa komitmen baru terhadap Bumi; komitmen yang kami harapkan akan tetap bersama mereka seumur hidup.