20 TAHUN GERAKAN EARTH HOUR, BERHASIL MENYATUKAN JUTAAN ORANG UNTUK HEMAT ENERGI DAN MENGINGATKAN INDONESIA UNTUK SEGERA TRANSISI ENERGI
- Earth Hour kembali dilakukan di tahun 2026 dengan memanfaatkan momen selama 60 menit untuk menyatukan dunia dalam mendukung dan merayakan planet kita. Earth Hour menjadi mercusuar positif berskala global, yang menginspirasi dan menggerakkan sebanyak mungkin orang untuk berpartisipasi dalam aksi nyata bagi bumi.
- Tantangan yang kita hadapi tidak pernah sebesar ini. Laporan Living Planet 2024 oleh WWF mengungkapkan bahwa sistem alam berada dalam kondisi mengkhawatirkan, ditandai dengan penurunan populasi satwa liar dunia secara drastis. Perubahan iklim dan kerusakan alam semakin mengancam kelangsungan hidup manusia. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk bertindak sebelum mencapai titik yang tak dapat dibalikkan. Earth Hour menjadi pengingat kuat akan urgensi untuk mengambil langkah nyata selagi waktu masih ada.
- Berlandaskan pencapaian luar biasa selama 20 tahun terakhir, WWF kembali menggaungkan “Jam Terbesar untuk Bumi” dengan mengajak setiap individu, komunitas, dan pelaku usaha di seluruh dunia untuk mematikan lampu mereka dan #BeriRuanguntukBumi, serta meluangkan 60 menit melakukan aksi positif bagi planet Bumi.
Banda Aceh, 28 Maret 2026 – Mulai pukul 20.30 waktu setempat, jutaan orang di seluruh dunia akan kembali mematikan lampu mereka sebagai simbol momen merayakan Earth Hour—gerakan akar rumput lingkungan terbesar di dunia—yang tahun ini memasuki perayaan global ke-20 dan tahun ke-19 di Indonesia. Mengusung tema “Beri Ruang untuk Bumi,” Earth Hour menjadi ajakan sederhana tapi bermakna untuk berhenti sejenak, merefleksikan hubungan kita dengan alam, dan menunjukkan kepedulian terhadap planet yang kita tinggali. Lebih dari sekadar satu jam tanpa cahaya, Earth Hour hadir sebagai simbol harapan dan kekuatan kolektif, menginspirasi jutaan orang di lebih dari 180 negara dan wilayah untuk bergerak bersama demi masa depan bumi.
Tahun ini, perayaan Earth Hour akan dipusatkan di Kota Banda Aceh. Semangat kolaborasi semakin kuat dengan keterlibatan puluhan komunitas serta dukungan Pemerintah Provinsi Aceh dalam menyukseskan kampanye ini. Rangkaian kegiatan akan diawali di pagi hari dengan parade bersama para komunitas di pusat Kota, menciptakan ruang bagi masyarakat untuk terhubung dan merayakan aksi nyata bagi lingkungan. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, turut mengajak seluruh warga untuk ambil bagian dengan mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan selama satu jam sebagai langkah sederhana dalam penghematan energi, sekaligus kontribusi nyata dalam menghadapi krisis iklim dan ancaman pemanasan global.
Di tengah penyelenggaraan Earth Hour tahun ini, masyarakat Aceh juga tengah dihadapkan pada dampak bencana yang baru saja terjadi di sejumlah wilayah. Peristiwa banjir bandang menjadi pengingat nyata bahwa krisis iklim dan degradasi lingkungan merupakan tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menegaskan urgensi upaya kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta memperkuat ketahanan lingkungan. Oleh karena itu, pelaksanaan Earth Hour di Banda Aceh tidak hanya menjadi bagian dari gerakan global, tetapi juga momentum reflektif untuk mendorong kesadaran dan aksi bersama dalam melindungi bumi secara berkelanjutan.
Pada tahun 2026, Kampanye Earth Hour di Indonesia mengajak masyarakat untuk menciptakan “Jam Terbesar untuk Bumi” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melalui seruan aksi “Beri Ruang Untuk Bumi”, Earth Hour mendorong setiap orang, di mana pun berada untuk memberikan jeda sejenak untuk bumi, agar bumi dapat memulihkan diri. Luangkan satu jam untuk melakukan aktivitas ramah lingkungan, seperti berjalan kaki atau bersepeda santai, menikmati alam di gunung maupun pantai, menghemat air saat beraktivitas, atau sekadar beristirahat sejenak dari gawai Anda.
Tantangan yang kita hadapi, belum pernah sebesar ini. Laporan Living Planet 2024 dari WWF menunjukkan bahwa, sistem alam dunia berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan, ditandai dengan penurunan populasi satwa liar secara drastis. Berbagai ekosistem penting—mulai dari hutan Amazon, terumbu karang, hingga lapisan es di kutub—kini mendekati titik kritis yang berpotensi memicu kerusakan permanen. Dampak krisis ini pun semakin nyata dan dirasakan secara langsung. Banjir bandang yang baru-baru ini melanda Aceh menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan krisis yang telah memengaruhi kehidupan masyarakat saat ini.
Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati pada akhirnya mengancam keselamatan dan keberlanjutan hidup manusia. Namun, kita belum mencapai titik tanpa jalan kembali—masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan jika kita bertindak sekarang. Dalam konteks inilah Earth Hour menjadi pengingat kuat bahwa setiap individu memiliki peran untuk mengambil aksi, selagi harapan itu masih ada.
Merayakan 20 tahun berdampak
Earth Hour pertama kali dilakukan pada tahun 2007 di Sydney, Australia ketika lebih dari 2,2 juta orang dan lebih dari 2.000 pelaku usaha mematikan lampu mereka sebagai simbol kepedulian terhadap isu perubahan iklim. Sejak saat itu, Earth Hour berkembang menjadi salah satu kampanye lingkungan pertama yang viral secara global, memicu gerakan solidaritas lintas negara yang membawa harapan dan mendorong dukungan luas terhadap aksi iklim.
Sejalan dengan keberhasilan tersebut, pada tahun 2009, 88 negara turut berpartisipasi dalam Earth Hour, dan lebih dari satu juta komitmen terkumpul untuk mendorong aksi nyata terhadap perubahan iklim pada COP15. Dalam tahun-tahun berikutnya, Earth Hour juga berkontribusi pada beberapa pencapaian penting, seiring berkembangnya kampanye ini untuk mendorong dampak nyata, seperti;
- Pada tahun 2016, dua candi Hindu dan Buddha terbesar di dunia—Candi Borobudur dan Candi Prambanan—untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam Earth Hour.
- Pada tahun 2021, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Earth Hour sebagai aksi rutin melalui Instruksi Gubernur No. 14 Tahun 2021. Kebijakan ini menyasar gedung perkantoran Pemprov, jalan protokol, serta gedung-gedung komersial. Aksi pemadaman lampu tersebut secara berkala dilakukan pada peringatan Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, dan Earth Hour sebagai upaya penghematan energi sekaligus pengurangan emisi karbon.
- Di Indonesia, terdapat 15 kota yang berpartisipasi dalam perayaan Earth Hour, baik secara daring maupun luring, yang diselenggarakan oleh komunitas Earth Hour Indonesia.
Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia mengatakan,” Gerakan Earth Hour harus dapat memacu percepatan transisi energi Indonesia yang menuju positif bagi alam. Di dekade penentu ini, kita perlu segera mengalihkan subsidi fosil ke Solusi Berbasis Alam (NbS). Integrasi agenda energi dan pemulihan alam adalah keharusan untuk menjaga stabilitas bumi sebelum mencapai titik kritis ekosistem. Apalagi dengan kondisi dunia saat ini, penghematan energi yang digaungkan dalam gerakan ini menjadi sangat relevan.”
Gerakan Earth Hour tahun ini juga mengajak para gamer atau pemain gim daring untuk turut berpartisipasi. Di Indonesia, terdapat sekitar 200 juta pemain gim daring dan PC. Data yang diungkap Bryan Schatz dalam media Mother Jones menunjukkan bahwa industri gim video mengonsumsi listrik dalam jumlah besar, bahkan melebihi kapasitas yang dihasilkan oleh 25 pembangkit listrik. Secara global, pemain gim PC menghabiskan energi sekitar 75 miliar kilowatt-jam energi per tahun—setara dengan listrik yang dihasilkan oleh 25 pembangkit listrik standar, atau setara dengan 7 miliar lampu LED yang menyala selama tiga jam. Menariknya, penelitian tersebut juga memprediksi bahwa konsumsi listrik ini dapat turun hingga 24 persen dalam lima tahun ke depan, jika para pemain beralih ke perangkat yang lebih efisien serta mengubah kebiasaan mereka bermain.
Selama hampir dua dekade, Earth Hour telah menjadi momentum bagi komunitas di seluruh dunia untuk menunjukkan dukungan terhadap gerakan lingkungan sekaligus terhubung kembali dengan planet kita—melalui belajar, berkreasi, dan menikmati alam. Kini, setelah hampir 20 tahun sejak pertama kali digelar, pesan Earth Hour terasa semakin relevan dan mendesak. Tahun ini, kami berupaya menghadirkan Earth Hour terbesar yang pernah ada dengan mengajak masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha di seluruh dunia untuk “Memberikan Satu Jam untuk Bumi” sebagai bentuk dukungan nyata bagi planet kita pada momen yang sangat penting ini.
**
Catatan untuk Editor
Dokumentasi klik disini
Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
Karina Lestiarsi, Media Relations Officer WWF-Indonesia
+62 852-1816-1683/ klestiarsi@wwf.id
Tentang Yayasan WWF Indonesia
Yayasan World Wildlife Fund Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi Yayasan World Wildlife Fund Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan.
Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di X (Twitter) @WWF_ID | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | Youtube WWF-Indonesia