PUASA DARI BERLEBIHAN, SEBUAH REFLEKSI RAMADHAN ATAS KONSUMSI YANG BIJAK
Saat ini pola konsumsi semakin masif dan memiliki peran dalam menentukan keberlanjutan lingkungan. Dalam praktik rumah tangga, kita sering memilih produk yang terjangkau, mudah ditemukan, dan sesuai kebutuhan. Namun, jarang sekali kita memperhatikan asal produk, proses produksinya, maupun dampaknya terhadap lingkungan.
Padahal, sebagian besar pola konsumsi terjadi di dalam rumah tangga. Dalam hal ini, seorang ibu sering menjadi pihak yang menentukan kebutuhan keluarga, baik untuk barang maupun makanan sehari-hari. Melihat peran tersebut, WWF-Indonesia mengajak para ibu untuk mulai mengenali produk yang lebih baik. Baik tidak hanya untuk tubuh, tetapi juga bagi lingkungan dan sosial. Hal ini sejalan dengan konsep dalam Islam, yaitu Halalan Thayyiban - yang berarti tidak sekadar halal secara hukum, tetapi juga baik, bersih, dan tidak merugikan siapa pun maupun alam sekitar. Terlebih di bulan Ramadhan yang mengajarkan kita untuk sadar dan bijak dalam memilih apa yang kita konsumsi.
Acara kolaborasi antara WWF-Indonesia, Kampung Takakura, dan Komunitas Akhwat Bergerak Bandung menghadirkan pembahasan yang cukup komprehensif. Tidak hanya membahas dari sisi lingkungan, namun juga dari sisi nilai keagamaan melalui tausiyah serta praktik langsung dari para narasumber.
Acara diawali dengan sambutan dari Angga Prathama Putra (Climate & Market Transformation Act Director, WWF-Indonesia) dan Ega Meganitari (Koordinator Akhwat Bergerak Bandung) yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kesadaran dalam pola konsumsi sehari-hari. Pesan ini kemudian dilanjutkan oleh tiga pembicara yang membahas bagaimana cara mengonsumsi secara lebih sadar, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Rizka Nurul Annisa mewakili WWF-Indonesia menyampaikan pentingnya peran ibu dalam rumah tangga dalam menentukan pilihan produk yang digunakan di rumah. Ibu merupakan salah satu aktor utama yang banyak mempengaruhi pola konsumsi keluarga. Dalam diskusinya, Rizka turut memperkenalkan logo ekolabel kepada ibu-ibu yang hadir dan peserta lainnya. Ia juga menyampaikan cara praktis untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan dalam rumah tangga, seperti memilah sampah, menghemat energi, dan memilih produk yang ber-ekolabel.
Topik tersebut dijelaskan secara lebih praktis oleh Mel Shandy yang merupakan figur publik sekaligus ibu rumah tangga. Ia membagikan pengalamannya dalam menerapkan kebiasaan sederhana di rumah, seperti membuat daftar belanja agar tidak membeli barang secara impulsif atau berlebihan. Namun dalam praktiknya, tantangan sering muncul ketika menyesuaikan kebutuhan seluruh anggota keluarga, misalnya saat anak menjadi picky eater atau ketika keinginan membeli makanan muncul hanya karena lapar mata. Karena itu, orang tua perlu memberikan nasihat dan contoh secara konsisten.
Dari panggung narasumber, cerita bergeser ke lapangan — ke tangan seorang perempuan pelaku UMKM yang memproduksi kue kering bernama Rahadiana Budhi Sullysetiawati, S.E. Di tengah tumpukan limbah sayur dan telur, ia melihat hal tersebut bukan masalah, melainkan sebagai sebuah peluang, yakni kompos. Baginya, ini adalah caranya ikut merawat Bandung dari krisis sampah yang kian mengkhawatirkan. Komitmen Ibu Rahadiana tidak berhenti di situ. Ia juga menerapkannya dalam proses pembuatan kue, dengan berupaya menggunakan bahan baku yang lebih berkelanjutan, seperti minyak sawit yang ramah lingkungan.
Pilihan tersebut membuat harga produknya relatif lebih tinggi. Pada awalnya, para konsumen sempat mengeluhkan hal tersebut. Namun, Ibu Rahadiana memilih untuk menyampaikan secara jujur apa yang ada di balik setiap produknya, tentang pilihan-pilihan yang ia ambil setiap hari demi keberlanjutan.
Setelah diskusi dengan para narasumber, para peserta mengikuti workshop pembuatan sabun dan lilin dari minyak jelantah bersama Kampung Takakura. Sesi ini diawali dengan penyampaian materi singkat, lalu dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan sabun yang dibarengi dengan proses pembuatan lilin. Kegiatan ini terasa menyenangkan karena para peserta dapat melihat langsung prosesnya sekaligus belajar memanfaatkan kembali minyak jelantah agar tidak menjadi limbah.
Sebelum berbuka puasa, para peserta mendengarkan tausiyah singkat. Pesannya sederhana namun membekas, yakni bahwa kerusakan alam bukan hanya karena kekurangan aturan, tetapi juga karena minimnya kesadaran untuk bergerak menjaga lingkungan. Ketika hati manusia tergerak untuk berbuat baik, menjaga bumi menjadi sesuatu yang dilakukan dengan sendirinya.