MENEMUKAN KEHIDUPAN DI PADANG LAMUN MAOPORA, RUMAH SUNYI BAGI SANG DUGONG
Romang, 27 Oktober 2025 — Di antara laut biru jernih dan hamparan terumbu karang yang sehat di Romang, Maluku Barat Daya, terbentang ekosistem yang sering luput dari perhatian: padang lamun atau seagrass bed. Terletak di perairan dangkal antara pulau dan garis pantai, lamun mungkin tampak seperti sekadar hamparan rumput laut biasa. Namun, lamun memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Pada ekspedisi laut WWF-Indonesia di Maluku Barat Daya pada Oktober 2025, selain meneliti terumbu karang dan ikan karang, tim juga melakukan survei ekosistem lamun di perairan sekitar Romang-Damer. Temuan mereka membuka kisah menarik tentang hubungan antara lamun dan salah satu mamalia laut paling langka dan misterius di Indonesia, dugong (Dugong dugon).
Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di laut dangkal dengan dasar pasir atau lumpur. Berbeda dengan alga laut, lamun memiliki akar, batang, daun, bahkan bunga dan biji seperti tumbuhan darat. Karena kemampuannya untuk berfotosintesis, lamun menghasilkan oksigen dan menjadi sumber energi utama bagi banyak organisme laut.

Bagi masyarakat pesisir, lamun sering dianggap “rumput laut” tanpa nilai ekonomi langsung. Namun secara ekologis, padang lamun adalah fondasi penting dalam rantai makanan laut. Ia berfungsi sebagai penyerap karbon biru (blue carbon), penstabil sedimen pantai, tempat berlindung bagi anakan ikan, dan yang paling istimewa, sumber makanan utama bagi dugong dan penyu hijau.
Menyelami Padang Lamun Damer
Tim peneliti WWF-Indonesia mendapati bahwa padang lamun di beberapa teluk di Romang-Damer tumbuh cukup subur dengan kerapatan tinggi. Dalam survei lapangan, mereka mencatat keberadaan hingga tujuh spesies lamun, termasuk Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Enhalus acoroides, spesies yang dikenal sebagai makanan favorit dugong.
Sebelum ekspedisi, tim WWF-Indonesia sudah mendapatkan informasi dari masyarakat lokal yang melaporkan adanya bekas jejak makan dugong di padang lamun, dikenal sebagai feeding trail, yaitu jalur yang terbentuk ketika dugong menggali dan memakan lamun dengan moncongnya. Beberapa kali, nelayan juga melaporkan melihat sosok dugong muncul di permukaan air pada pagi hari di sekitar teluk yang tenang.
Hingga akhirnya di hari ini kami menyaksikan sendiri ada puluhan dugong berenang dan mencari makan bersama-sama di area laguna Pulau Maopora. Kami semua berteriak dengan penuh kegirangan saat melihat penampakan mereka dari pantauan drone.
Penemuan ini sangat berarti karena dugong merupakan spesies langka dan dilindungi di Indonesia. Hewan herbivora laut ini dikenal memiliki pergerakan luas dan sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kehadirannya di Romang-Damer menunjukkan bahwa ekosistem lamun di kawasan ini masih cukup sehat dan mampu mendukung kehidupan mamalia laut tersebut.
“Dugong adalah indikator penting dari kesehatan padang lamun. Kalau dugong masih datang untuk makan, artinya lamun di sini masih produktif dan alami,” ujar Jan Ericson, seagrass team lead di ekspedisi ini.

Antara Harapan dan Tantangan
Meski masih relatif terjaga, ekosistem lamun di Maluku Barat Daya menghadapi tantangan. Aktivitas manusia seperti penambangan pasir, pembuangan limbah, serta perubahan iklim dapat mengancam kelestariannya. Peningkatan suhu laut dan sedimentasi berlebih juga bisa menghambat pertumbuhan lamun, yang pada akhirnya berdampak pada kehadiran dugong.
WWF-Indonesia bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat tengah berupaya memperkuat monitoring ekosistem lamun di kawasan ini. Program pelatihan masyarakat lokal sebagai “penjaga lamun” akan direncanakan agar mereka dapat turut memantau perubahan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.
Selain itu, data hasil penelitian akan menjadi dasar untuk mendorong kebijakan perlindungan habitat penting dugong di Maluku Barat Daya. Dengan demikian, wilayah seperti Romang-Damer tidak hanya dikenal karena keindahan terumbu karangnya, tetapi juga sebagai salah satu benteng terakhir bagi padang lamun dan dugong di Indonesia bagian timur.
Menjaga Rumah Sang Dugong
Lamun memang tak sepopuler terumbu karang, tetapi tanpa lamun, kehidupan laut akan kehilangan salah satu penopang utamanya. Di Romang-Damer, padang lamun tumbuh tenang di bawah permukaan laut, menjadi dapur alami bagi dugong, penyu, dan ribuan makhluk kecil lainnya.
Menjaga lamun berarti menjaga keseimbangan laut. Dan selama lamun tetap hijau di dasar perairan Romang-Damer, selalu ada harapan bahwa dugong, sang penjelajah sunyi akan terus datang dan menari lembut di bawah sinar matahari pagi.