MENELUSURI KEINDAHAN DAN KETAHANAN TERUMBU KARANG DAMER, PERMATA LAUT MALUKU BARAT DAYA
Damer, 23 Oktober 2025 — Di ujung barat daya Maluku, jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan jalur wisata populer, terbentang gugusan pulau yang nyaris tak tersentuh: Kepulauan Romang-Damer. Wilayah ini termasuk dalam gugusan kepulauan yang dijuluki Forgotten Islands atau Kepulauan yang Terlupakan, nama yang pas untuk menggambarkan betapa terpencilnya kawasan ini. Namun di balik keterpencilannya, perairan Romang-Damer menyimpan kekayaan ekosistem laut yang luar biasa, terutama pada ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut.
Pada Oktober 2025, tim peneliti terumbu karang dari WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya dan Taman Nasional Teluk Cenderawasih melakukan ekspedisi riset laut selama 14 hari di dua wilayah kawasan konservasi Kepulauan Romang-Damer. Penelitian ini diadakan sebagai upaya untuk menilai status kondisi ekosistem terumbu karang di Maluku Barat Daya.
Terumbu karang di Romang-Damer dikenal masih relatif sehat. Kawasan ini dikenal termasuk dalam kategori Bioclimatic Units (BCUs), yakni area terumbu karang yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap perubahan suhu dibandingkan wilayah lain, sesuatu yang sangat penting di tengah ancaman global warming.
Menurut data sementara dari Taufik Abdillah selaku coral team lead, tutupan karang hidup di stasiun pengamatan area Damer, memiliki nilai rata-rata 51% yang berarti kondisinya ‘baik’. Sedangkan di area Romang, memiliki nilai rata-rata 39%, yang berarti tutupan karangnya dalam kondisi ‘sedang’. Spesies karang dari genus Acropora, Montipora, dan Porites mendominasi area yang disurvei, dengan koloni yang tumbuh subur dan sedikit tanda-tanda pemutihan (coral bleaching).

Perairan di sekitar Romang-Damer juga bagian dari sistem laut dalam yang kompleks di Laut Banda. Kawasan ini dikenal memiliki topografi dasar laut yang curam dan arus laut yang dinamis, kombinasi yang sempurna untuk terjadinya fenomena upwelling, atau arus naik dari lapisan laut dalam ke permukaan.
Fenomena ini mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi efeknya luar biasa bagi kehidupan laut. Ketika arus laut dalam yang kaya nutrien naik ke lapisan atas, ia membawa unsur penting seperti nitrat dan fosfat yang sangat dibutuhkan oleh fitoplankton organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut.
Fitoplankton yang tumbuh subur berfungsi sebagai sumber energi utama bagi zooplankton, ikan kecil, hingga predator besar seperti tuna dan paus. Siklus produktivitas ini menciptakan ekosistem laut yang sangat kaya dan seimbang, yang pada akhirnya mendukung kehidupan terumbu karang yang sehat dan beragam.
Dalam beberapa titik penyelaman, tim menemukan tutupan karang keras (hard coral cover) yang tinggi dengan keanekaragaman bentuk dan warna yang memukau. Struktur karang yang kompleks ini menyediakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan karang, invertebrata, dan biota laut lainnya.
Keanekaragaman ikan karangnya pun tinggi. Dalam satu kali penyelaman, pengamat mencatat kehadiran berbagai spesies seperti snapper, grouper, sweet lips, wrasse hingga predator karismatik seperti trevally dan barracuda. Ikan-ikan ekonomis target yang berenang di antara percabangan karang menunjukkan bahwa ekosistem ini masih berfungsi dengan baik sebagai tempat pemijahan, pembesaran, dan perlindungan bagi biota laut.
Kegiatan penelitian dilakukan dengan metode ilmiah yang terstandarisasi. Saya ikut melihat langsung bagaimana tim peneliti bekerja di bawah laut. Dimulai dari ‘roll master’ yang bertugas untuk memasang lima transect tapes yang masing-masing berukuran 50 meter. Setelah line terpasang, di belakangnya sudah ada tim benthic observer yang bertugas mendokumentasikan kondisi dasar laut menggunakan metode transek titik (Point Intercept Transect). Metode ini memungkinkan peneliti mengukur persentase tutupan karang hidup, karang mati, pasir dan biota lain di sepanjang garis pengamatan.
Sementara itu, tim fish observer melakukan pengamatan terhadap ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). Setiap penyelam mencatat jumlah, panjang dan jenis ikan yang ditemui di dalam transek berukuran tertentu. Data ini kemudian digunakan untuk menghitung kelimpahan dan biomassa ikan di masing-masing lokasi.
Selain pengamatan bawah laut, tim juga mengumpulkan data karakteristik lokasi pengamatan seperti tipe terumbu karang, exposure, reef slope, visibility dan current. Semua data ini nantinya akan dianalisis untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi status ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Romang-Damer dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Ekosistem terumbu karang di kawasan terpencil seperti Damer memiliki nilai ekologis dan sosial yang sangat tinggi. Secara ekologis, karang berperan sebagai “paru-paru laut” yang mendukung kehidupan ribuan spesies. Mereka juga berfungsi sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi dan gelombang besar.
Dari sisi sosial ekonomi, masyarakat pesisir di sekitar Maluku Barat Daya bergantung pada laut sebagai sumber pangan dan penghidupan. Terumbu karang yang sehat berarti ketersediaan ikan yang melimpah dan keberlanjutan ekonomi nelayan lokal.
Namun, keterpencilan tidak selalu berarti bebas ancaman. Perubahan iklim, peningkatan suhu laut, dan praktik penangkapan ikan yang merusak dapat berdampak negatif pada karang, bahkan di wilayah yang jauh dari pusat aktivitas manusia. Karena itu, penelitian seperti yang dilakukan WWF-Indonesia menjadi sangat penting untuk memahami kondisi terkini dan mencegah kerusakan sebelum terjadi.
Hasil dari ekspedisi ini nantinya akan digunakan sebagai dasar rekomendasi kebijakan pengelolaan kawasan konservasi Romang-Damer, Maluku Barat Daya. WWF-Indonesia bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan masyarakat lokal untuk mendorong pengelolaan berbasis sains dan berkelanjutan.
Harapannya, data yang dikumpulkan tidak hanya berhenti di meja laboratorium, tetapi menjadi panduan nyata dalam menjaga ekosistem laut Indonesia.
