EKSPEDISI ROMANG-DAMER: MENJELAJAHI KEINDAHAN DAN KEBERAGAMAN LAUT MALUKU BARAT DAYA
Ambon, 21 Oktober 2025 — Kapal Nusa Kembara yang kami tumpangi perlahan bergerak meninggalkan Teluk Ambon. Langit cerah, laut tenang tanpa gelombang, seolah memberi restu untuk perjalanan kami menuju Damer, Maluku Barat Daya. Sebanyak 19 anggota ekspedisi dan 16 kru kapal akan menjelajahi lautan serta pulau-pulau yang telah dipetakan sebagai area riset selama 14 hari ke depan. Saya begitu bersemangat merekam setiap menit di hari pertama pelayaran ini, hari yang bersejarah bagi kami semua.
Dua hari sebelumnya, seluruh anggota ekspedisi telah melakukan persiapan sekaligus berkenalan satu sama lain. Sebagian datang dari Jakarta, sebagian lagi menempuh perjalanan laut dari Moa untuk mengikuti workshop bersama di Ambon. Ekspedisi yang diberi nama Ekspedisi Romang Damer ini merupakan kerjasama WWF-Indonesia dengan Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku. Ada empat tim penelitian di ekspedisi ini, yaitu: Tim Spesies, Tim Terumbu Karang, Tim Lamun, dan Tim Mangrove (Bakau).
Selain empat tim peneliti dari WWF-Indonesia, saya bersama dua orang lainnya bergabung sebagai tim media, bertugas mendokumentasikan aktivitas riset bawah laut melalui foto dan video. Sebagai peserta baru di ekspedisi WWF-Indonesia, saya kagum melihat betapa rinci dan terstrukturnya setiap persiapan yang dilakukan masing-masing tim. “Jadi begini cara para marine scientists bekerja,” gumam saya dalam hati penuh takjub.
Setelah seremoni penyambutan di kapal, kami mengikuti safety briefing dari Course Director Nusa Kembara, Handito. Ia menjelaskan bahwa pelayaran menuju pulau pertama, Damer, akan memakan waktu sekitar 43 jam, melintasi Laut Banda, laut terdalam di Indonesia. Dua hari di tengah laut akan menjadi kesempatan berharga untuk saling mengenal lebih dekat sebelum tiba di lokasi pertama.
Pagi sebelum keberangkatan, seluruh tim melakukan pengecekan ulang terhadap peralatan dan perlengkapan penelitian karena selama ekspedisi kami mungkin tidak akan menginjak daratan sama sekali. Syukurlah, semua persiapan berjalan lancar tanpa ada kendala teknis sama sekali.
Mengapa Maluku Barat Daya?
Menurut Hafizh Adyas, Expedition Leader WWF-Indonesia, kawasan Maluku Barat Daya dipilih karena ekosistemnya masih sangat baik dan menjadi rumah bagi banyak spesies penting.
“Tutupan lamunnya masih sehat, jadi dugong masih sering ditemukan di sini. Jalur migrasi paus biru juga melintasi kawasan ini, yang dikenal sebagai blue corridor,” ujar Hafizh.
Selain itu, ekosistem terumbu karang di kawasan ini termasuk dalam kategori Bioclimatic Units (BCUs), yakni area terumbu karang yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap perubahan suhu dibandingkan wilayah lain, sesuatu yang sangat penting di tengah ancaman global warming. Karena itulah, Maluku Barat Daya patut dijaga dan dikonservasi sebaik-baiknya.
Selama ekspedisi berlangsung, para peneliti akan mengambil sampel dan melakukan pendataan ilmiah untuk menggambarkan kondisi ekosistem utama secara lebih spesifik. WWF-Indonesia juga ingin memahami tingkat pemanfaatan, potensi, serta ancaman yang dihadapi kawasan ini, baik terhadap lingkungan maupun satwa lautnya.
Saat ini terdapat empat kawasan konservasi laut atau marine protected areas (MPA) di Maluku Barat Daya. Pada tahun 2024, WWF-Indonesia telah melakukan ekspedisi di dua MPA pertama, yakni Babar dan Mdona Hiera. Tahun 2025 ini, perjalanan berlanjut ke dua MPA terakhir: Romang dan Damer.
Sebenarnya, WWF-Indonesia telah melakukan pengumpulan data awal sejak tahun 2014–2015 karena minimnya data dari wilayah ini. Melalui dialog dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, pada tahun 2022 akhirnya terbentuklah empat kawasan konservasi laut di Maluku Barat Daya.
Keberhasilan dalam membentuk empat MPA bukanlah akhir. Tanpa pengelolaan kawasan yang baik, MPA tidak dapat memberikan manfaat untuk ekosistem, dan hanya akan menjadi ‘paper park’, kawasan konservasi yang hanya sekedar di atas kertas. Ekspedisi kali ini menjadi langkah baru dalam memastikan usaha pengelolaan MPA yang dapat memberikan dampak nyata di kawasan.
“Kami ingin konservasi yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tapi juga bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, penting untuk melihat lebih jauh dari sekedar kacamata ekologis, perlu juga melihat potensi apa yang bisa dikembangkan untuk mendukung taraf hidup masyarakat di sini,” jelas Hafizh.
Kini, kami siap berlayar selama dua minggu untuk melengkapi data penting yang dapat mewujudkan keseimbangan ekologis dan ekonomi di kawasan penting ini, dan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh WWF-Indonesia selama lebih dari satu dekade lalu. Harapannya, hasil ekspedisi ini dapat membantu mengembangkan potensi Maluku Barat Daya secara berkelanjutan, memberi manfaat bagi banyak pihak, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut.
Maluku Barat Daya, yang selama ini dikenal sebagai The Forgotten Islands, semoga segera dikenal dunia sebagai The Unforgettable Islands.