DIMANAKAH NELAYAN (PEREMPUAN) SULTRA?
Kendari Pos, (WED, 30 - JAN - 2008 ; )
Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa naiknya harga solar sudah cukup telak merobohkan sendi-sendi kehidupan nelayan? Merumahkan nelayan tradisional berminggu-minggu, menelantarkan ABK kapal ikan, membuat kuli angkut, pedagang perantara dan penjual di pasar terpaksa gigit jari. Utang di tengkulak membengkak, tak ada alternative pendapatan. Kondisi ini diperparah saat musim badai dan kenyataan bahwa daerah tangkapan semakin kurang dan jauh dari pantai akibat rusaknya ekosistem dan aktifitas tangkapan berlebih. Sudah saatnya pemerintah, pihak/payung pelindung nelayan seperti HNSPI, PPNSI, bahkan LSM dan juga masyarakat, melihat masalah ini dari sisi lain. Yaitu dari sudut nelayan itu sendiri dengan melibatkan perempuan secara penuh sebagai subjek nelayan itu sendiri dalam rangka terwujudnya suatu perikanan yang berkelanjutan (sustainable fisheries).
Selama ini kata nelayan dalam bahasa Indonesia berkonotasi maskulin. Nelayan identik dengan laki-laki. Seorang nelayan pasti merepresentasikan seorang lelaki, belum pernah seorang nelayan terwakilkan oleh seorang perempuan. Jika pun ada perempuan dalam ranah kelautan dan perikanan, maka itu hanya sebagai pelengkap atau aksesori saja. Seluruh aktifitas melaut pun akan terkonotasikan maskulin sehingga nelayan dan seluruh aktifitasnya amat bias jender. Selama ini yang terlihat di permukaan adalah nelayan sebagai profesi maskulin. Dimana yang terlihat dalam kegiatan memancing, melaut, menebar pukat hingga mengangkut hasil tangkapan adalah melulu laki-laki. Padahal, dalam kenyataannya peran laki-laki dan perempuan dalam keseluruhan aktifitas nelayan setara dan saling membutuhkan.
Nelayan tangkap tidak akan pergi berlayar sebelum jaringnya dibetulkan dan dipersiapkan oleh sang istri. Sepulangnya melaut, hasil tangkapan akan disortir, dibersihkan, dijual dan diolah oleh kaum perempuan. Bahkan untuk nelayan budidaya, peran perempuan dapat ditemukan di semua tahapan. Olehnya, saat nelayan tangkap tidak bisa melaut karena harga solar yang melambung ataupun ombak yang ganas, peran nelayan perempuan sangat dibutuhkan untuk menopang ekonomi keluarga. Mereka dapat langsung terlibat dalam usaha-usaha sampingan seperti budidaya ikan, rumput laut, kerang, dan lain-lain disaat nelayan laki-laki menganggur tidak melaut.
Salah satu aktifitas perempuan yang membedakannya dengan laki-laki adalah penangkapan. Penelitian banyak membuktikan bahwa laki-laki cenderung menangkap ikan di laut dalam, sementara perempuan melakukan aktifitas ini di sekitar pantai atau pesisir. Hal tersebut tidak lepas dari pemenuhan kebutuhan menu keluarga sehari-hari, yang menjadi tujuan perempuan mencari ikan. Sementara laki-laki lebih banyak menangkap ikan dalam rangka mencukupi mata pencaharian keluarga secara umum. Tetapi ini menjadi lebih luas cakupannya jika kita menengok aktifitas perempuan di masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara dewasa ini.
Bahwa perbedaan peran nelayan laki-laki dan perempuan memang memengaruhi aktifitas melautnya sehingga yang tampak adalah nelayan laki-laki yang secara umum terlihat melaut. Padahal kalau kita bisa jeli melihat, peran perempuan didalamnya juga sangat besar. Banyak papalele, pedagang perantara dan penjual di pasar adalah perempuan yang kebanyakan berstatus ibu-ibu (ina-ina). Ina-ina ini menjadikan profesi mereka menjadi khas karena mereka bukan saja menambah pendapatan keluarga, malah ada diantara mereka yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama yang tidak jauh beda dengan ina-ina pedagang sayuran.
Perbedaan yang juga mencolok dan turun temurun adalah peran perempuan yang besar dalam aktifitas pasca panen, terkhusus dalam penangkapan berskala kecil. Di Filipina dan Vanuatu, perempuan terlibat penuh dalam menentukan jenis ikan yang hendak dipasarkan atau dikeringkan. Bahkan adalah tugas perempuan untuk menentukan hasil tangkap para suami yang pulang melaut. Begitu juga dalam menentukan kepada siapa hasil tangkap tersebut dijual, mana untuk keperluan keluarga (untuk disimpan dan dimasak), dan mana untuk diberikan begitu saja kepada tetangga atau orang yang membutuhkan. Untuk suatu program yang juga didanai sponsor internasional, keterlibatan perempuan disini sangat penuh dan langsung sesuai framework yang diinginkan funding.
Sementara dalam skop nasional, di Bali Barat dalam satu program menangani wilayah laut dan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buleleng yang berdiam disana, perempuan dilibatkan dalam budidaya rumput laut. Kegiatan ini memang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan semua nelayan pada saat tidak melaut. Disini jelas bahwa program yang diimplementasikan oleh pemerintah masih belum menyetarakan peran nelayan perempuan dan laki-laki. Meski perempuan dilibatkan, kelompok ibu-ibu tersebut lebih memfokuskan kepada pengolahan rumput laut untuk melengkapi kegiatan budidaya ini, apalagi dengan alasan untuk menambah pendapatan rumah tangga dan juga meningkatkan kemandirian dan peran perempuan di tingkat lokal. Hal ini menyajikan fakta bahwa perempuan Indonesia masih dianggap bergantung secara finansial kepada suami dan belum terlibat secara penuh, terlepas dari faktor budaya yang melingkupi suatu daerah.
Adalah penting untuk mempertimbangkan perbedaan ini, sebab peran perempuan jarang dibicarakan dalam analisa ekonomi dan dalam pengalokasian dana kredit, juga dalam melibatkan partisipasi penuh perempuan dalam pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan penangkapan dan budidaya berskala besar dalam framework sustainable fisheries (perikanan yang berkelanjutan). Aktifitas perekonomian perempuan juga berbeda dan sangat sulit dibandingkan dengan laki-laki jika kita mengkategorikan aktifitas-aktifitas tersebut.
Perempuan lebih cenderung melakukan kegiatan dalam waktu bersamaan (multiple activities), seperti melakukan pengolahan rumput laut sebagai makanan olahan bersamaan dengan kegiatan mengasapi ikan saat suami pulang dari melaut. Belum lagi tanggung jawab mereka dalam tugas-tugas domestik seperti memasak, menjaga anak, membersihkan rumah dan pekarangan yang kurang dianggap sebagai pekerjaan produktif. Pekerjaan ini lebih sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan perempuan bagaimanapun juga. Belum lagi jika kita berbicara masalah akses mereka ke laut dan pesisir yang masih mengatasnamakan laki-laki (apakah atas suami, bapak atau anak laki-laki mereka), bukan atas diri mereka sendiri, apalagi akses mereka ke pemerintahan dan sebagai pengambilan kebijakan.
Dalam hal pemeliharaan lingkungan pesisir pun perempuan sangat berperan dalam mewujudkan perikanan yang berkelanjutan. Perempuan banyak berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem. Merekalah yang bisa merusak atau menjaga terumbu karang, membuang limbah perikanan dengan sembarangan atau semestinya, sehingga perikanan berkelanjutan dengan salahsatunya menggagas perikanan budidaya (Kendari Pos, 25-26 Januari 2008), sangat membutuhkan peran nelayan perempuan di dalamnya. Sebagai sebuah alternatif, perikanan budidaya yang berlokasi di pesisir dan darat, pada akhirnya tak lepas dari peran perempuan sebagai penabur benih, pemberi makan ikan, udang dan kerang, sampai pemelihara areal.
Walaupun perannya masih dikategorikan sebagai sekunder dan bersifat membantu. Begitupun jika membincangkan perlunya teknologi tinggi dalam perikanan atau tidak. Sebab perempuan pasti akan lebih dekat kepada daerah pesisir, keterlibatan perempuan lebih ke shore-based fisheries yang tentu saja lebih memperhatikan (secara sadar atau tidak) sustainable fisheries.Sehingga, sudah saatnyalah kita menghadirkan praksis nelayan dengan segala aktifitasnya menempatkan perempuan sebagai bagian tak terpisahkan dari nelayan itu sendiri, sehingga kesetaraan dalam perikanan berkelanjutan pun patut didorongkan