PMI DAN WWF-INDONESIA SEPAKATI AKSI BERSAMA STRATEGI ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM
Jakarta – Kesepakatan bersama dalam lingkup kawasan Asia Pasifik yang dipelopori oleh Palang Merah Indonesia (PMI) dan WWF-Indonesia ini didukung oleh Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC/International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies) dan WWF regional Asia Pasifik.
Para praktisi kemanusiaan Palang Merah dan penggiat lingkungan WWF duduk bersama dalam lokakarya 3 hari (3 – 5 September 2008) bertema “Peningkatan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Strategi Manajemen dan Penurunan Risiko Bencana” untuk menyamakan persepsi atas konsep dan implementasi adaptasi, dan membangun dasar kerja strategis demi mengurangi risiko dampak perubahan iklim.
Turut memberikan masukan dalam diskusi adalah perwakilan Palang Merah negara-negara sahabat yang melakukan operasi kemanusiaan di Indonesia, Climate Centre RC/RC (Palang Merah/Bulan Sabit Merah), dan WWF-Nepal yang secara signifikan telah lebih dulu mengalami dampak perubahan iklim.
Berangkat dari kesepakatan tersebut, kedua organisasi ini membuat rekomendasi bersama berupa:
- dokumen dampak perubahan iklim di kawasan Asia Pasifik,
- rencana adaptasi untuk menurunkan risiko bencana terkait perubahan iklim dan agenda kerja bersama,
- dan yang terpenting adalah ajakan atau pernyataan dukungan kepada komunitas dunia dan para pembuat kebijakan untuk membuat kebijakan adaptasi perubahan iklim yang substantif dalam kerangka kerja negosiasi paska 2012.
Di Indonesia sendiri, dampak perubahan iklim telah terasa. Perubahan musim hujan dan bertambahnya angka bencana lingkungan adalah dua dari sekian indikator fenomena ini. Fakta ini dikonfirmasi oleh Iyang Sukandar, Sekjen PMI, yang menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang rentan terhadap bencana terkait perubahan iklim. “Secara geografis pun Indonesia rentan bencana. Apalagi ditambah perubahan iklim yang akan menambah frekuensi bencana. Tidak hanya mengancam dari sisi kerusakan lingkungan, tapi yang jelas mengancam nyawa manusia,” ungkapnya.
Sementara Bob McKerrow, Kepala Delegasi IFRC Indonesia, berpendapat senada dengan menambahkan bahwa yang paling penting sekarang adalah komitmen dari pihak-pihak yang peduli ini terhadap dampak perubahan iklim sehingga bisa bersama-sama menghadapinya.
“Jadi, menunggu bencana berikutnya bukan lah pilihan. Program adaptasi yang komprehensif untuk Indonesia sebagai negara kepulauan perlu menjadi prioritas,” tegas Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia.
Ditambahkan oleh Ari Muhammad, Koordinator Nasional Adaptasi dan Kebijakan, Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia, “Program adaptasi ini harus mulai dimasukkan dalam kerangka kerja pengelolaan risiko bencana untuk memantau dan mengantisipasi risiko bencana yang lebih besar terhadap masyarakat dan lingkungan.”
Suasana workshop © WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN
Dari ki-ka:
Fitrian Ardiansyah - Direktur Program Iklim dan Energi / WWF-Indonesia
Nana Firman - Eks Project Leader Green Reconstruction - Aceh Program
Heru Santoso - Moderator - CIFOR
Moon Shrestha - Climate and Energy - WWF-Nepal
© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN
Informasi lebih lanjut:
Aulia Arriani, Media Relations PMI Pusat, t: +62-816-795379, aulia.arriani@pmi.or.id
Verena Puspawardani, Campaign Coordinator, Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia, t: +62-818-897383, vpuspawardani@wwf.or.id
Ahmad Husein, Communications Coordinator IFRC Indonesia, t: +62-812-1064579, ahmad.husein@ifrc.org
Catatan untuk Editor:
Siaran pers dan informasi terkait bisa diakses secara online di www.pmi.or.id atau www.wwf.or.id
Tentang PMI merupakan organisasi netral dan independen yang melakukan kegiatannya untuk kemanusiaan. Lahir pada 17 Agustus 1945, PMI memiliki mandat utama yaitu membantu meringankan penderitaan masyarakat dalam respon bencana dan pertolongan pertama. Dalam bertugas, PMI berpegang teguh pada tujuh prinsip Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yaitu kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian, kesatuan, dan kesemestaan.
Selain respon terhadap bencana, PMI juga melakukan program pengurangan risiko terpadu berbasis masyarakat (Integrated Community Based Risk Reduction-ICBRR). Program ini dimaksudkan untuk mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk menyiagakan dalam mencegah serta mengurangi dampak dan risiko bencana yang terjadi di lingkungannya.
Saat ini PMI berada di 33 propinsi dan 408 cabangnya di tingkat kabupaten/kotamadya dengan 120 ribu relawan tersebar di Indonesia.
Tentang IFRC Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah organisasi kemanusiaan terbesar di dunia, memberikan bantuan tanpa diskriminasi negara, ras, kepercayaan, kelas sosial atau pandangan politik. Didirikan pada 1919, Federasi Internasional memiliki 186 anggota Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, dengan sekretariat yang berlokasi di Jeneva dan lebih dari 60 delegasi strategis untuk mendukung aksi di seluruh dunia. Bulan Sabit Merah banyak digunakan oleh Palang Merah di banyak Negara Islam. Visi Federasi adalah bekerja, melalui aksi kerelawananan, untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi penderitaan manusia dan krisis harapan, menghormati martabat kemanusiaan dan peduli pada keadilan. Misi Federasi Internasional adalah untuk meningkatkan hidup masyarakat rentan (korban bencana alam, kemiskinan akibat krisis sosio-ekonomi, pengungsi dan korban darurat kesehatan) dengan memobilisasi kekuatan kemanusiaan. Peran Federasi adalah untuk membantu operasional relief untuk menolong korban bencana, dan memadukan dengan kerja pengembangan untuk memperkuat kapasitas anggota perhimpunan nasionalnya.
Tentang WWF mulai bekerja di Indonesia pada awal 1960-an melakukan penelitian pada spesies mamalia, khususnya badak dan harimau di Jawa dan Sumatera yang terancam punah. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi upaya konservasi hutan habitat satwa-satwa tersebut. Pada April 1998, berubah menjadi WWF-Indonesia; organisasi nasional Indonesia dengan bentuk yayasan. WWF-Indonesia merupakan bagian independen dari jaringan global WWF dan afiliasinya yang bekerja di 110 negara di dunia. Kantor sekretariat WWF-Indonesia memimpin dan mengoordinasi 23 kantor lapangan dengan lebih dari 300 staf. Upaya konservasi WWF-Indonesia saat ini dilakukan di kawasan-kawasan lindung di 16 propinsi di Indonesia.
Visi WWF-Indonesia adalah konservasi keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan. Misi WWF-Indonesia adalah memelihara keanekaragaman hayati Indonesia dan mengurangi dampak aktivitas manusia melalui:
- Mendorong etika konservasi yang kuat, kesadaran, dan pelaksanaan di masyarakat Indonesia
- Membantu usaha-usaha berbagai pihak terkait untuk memelihara keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis dalam skala ekoregional
- Mendukung kebijakan, hukum, dan pelaksanaan hukum yang mendukung konservasi
- Mendorong konservasi untuk kesejahteraan manusia melalui pemanfaatan sumber-sumber alam yang terpelihara