WWF: KONFERENSI POZNAN HARAPAN TERAKHIR AGAR KENAIKAN SUHU BUMI DI BAWAH 2°C
Siaran Pers, 28 November 2008
Jenewa, Swiss (28/11): Analisis WWF terkini tentang iklim mengingatkan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini berada di titik kritis untuk menjaga pemanasan global di bawah suhu ambang bahaya 2°C. Organisasi konservasi dunia tersebut menghimbau para pemerintah yang hadir pada konferensi perubahan iklim PBB di Poznan tanggal 1- 12 Desember agar menghasilkan rancangan pertama kesepakatan tentang iklim yang kokoh dan diharapkan selesai pada akhir tahun 2009.
""Penelitian terakhir menegaskan bahwa saat ini kita tengah menyaksikan dampak buruk pemanasan yang selama beberapa dekade tidak pernah kita perkirakan akan terjadi sekarang"" ungkap Kim Carstensen, WWF Global Climate Initiative leader.. ""Mencairnya es di Antartika dan Greenland bisa mendorong terjadinya dampak iklim yang lebih buruk yakni laju pemanasan lebih cepat dan kuat dari prakiraan. Politikus yang bertanggung jawab tidak boleh membuang waktu lebih lama menghadapi tanda-alam alam yang nyata ini.""
Menurut WWF, bahkan pemanasan global kurang dari 2°C dapat memicu hilangnya lautan es kutub utara dan pencairan lapisan es di Greenland. Efek timbal balik kekuatan yang tak terduga ini adalah penyebab terlampauinya titik-titik kritis tersebut. Hal ini akan menyebabkan peningkatan permukaan laut beberapa meter secara global yang akan mengancam puluhan juta manusia di dunia.
""Bumi saat ini menghadapi perubahan kualitas dimana kita semakin sulit beradaptasi dan mustahil membalikkannya dalam waktu dekat,"" ungkap Carstensen. ""Di Poznan, para pemerintah harus sepakat untuk menghentikan ini dan mengurangi emisi dunia sebelum 2020 guna memberikan harapan baik kepada masyarakat bahwa pemanasan global masih dapat dijaga di dalam batas menghindari dampak terburuk. Sebagai tambahan diskusi yang membangun di Poznan itu, kita perlu mencari langkah-langkah segera untuk bertindak.""
Kapasitas penyimpanan CO2 di lautan dan daratan - penyerapan alami bumi- telah turun sekitar lima persen selama lebih dari 50 tahun belakangan ini. Pada saat yang bersamaan, emisi CO2 manusia yang berasal dari bahan bakar fosil terus meningkat - empat kali lipat lebih cepat di dekade ini daripada dekade sebelumnya. WWF mendesak para pemerintah tersebut memanfaatkan konferensi Poznan sebagai titik balik untuk menghindari arah kehancuran yang sedang dituju oleh dunia saat ini.
""Kita sedang pada titik dimana sistem iklim bergerak tanpa kendali,"" kata Carstensen. ""Hanya satu tahun lagi tersisa bagi kita untuk menyepakati perjanjian baru dunia yang akan melindungi iklim, namun konferensi PBB tahun depan di Kopenhagen hanya berhasil jika pertemuan di Poznan tahun ini dapat menghasilkan naskah awal kesepakatan baru yang kokoh.""
Harapan yang sama terhadap Pemerintah Indonesia juga diungkapkan oleh Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia. ""Indonesia perlu memastikan bahwa hasil COP 13 di Bali perlu diperkuat pada COP 14 di Poznan sehingga nantinya dapat tercapai kesepakatan pada COP 15 di Kopenhagen. Pengurangan emisi besar-besaran terutama dari negara maju menjadi suatu hal penting. Dari dalam negeri, posisi dan negosiasi untuk adaptasi (menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim) dan REDD (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) harus mendapat porsi utama. Konferensi Kopenhagen tidak akan berhasil tanpa keberhasilan di Poznan dan Bali. Karenanya, kepemimpinan Indonesia kini tengah diuji untuk memastikan capaian positif di perundingan kali ini.''
Kontak Media:
Verena Puspawardani (Indonesia), +62 818897383, vpuspawardani@wwf.or.od, Christian Teriete (English, German), +852 9310 6805, cteriete@wwf.org.hk; Martin Hiller (English, German, French), +41 79 347 2256, mhiller@wwfint.org,
Nara sumber: Kim Carstensen, Leader, WWF Global Climate Initiative, mob: +45 40 34 36 35, k.carstensen@wwf.dk; Kathrin Gutmann, Head of Policy, WWF Global Climate Initiative, mob: +49 162 29 144 28, kathrin.gutmann@wwf.de; Stephan Singer, Head of Energy, WWF International, mob: +32 49 655 0709, ssinger@wwfepo.org; Ireneusz Chojnacki, Managing Director, WWF Poland, mob: +48 606 947 094, ichojnacki@wwf.pl; Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia, mob: +62 8129355105
Catatan untuk Redaksi
1. Tentang WWF
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta supporter dan memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakkan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs lokal di http://www.wwf.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di http://www.supporterwwf.org/.