PERESMIAN KANTOR WWF-INDONESIA DI JAYAPURA
Untuk segera disiarkan tanggal 16 April 2009
Jayapura, Papua – Hari ini WWF-Indonesia meresmikan berdirinya sebuah kantor baru di Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, yang merupakan pusat koordinasi bagi seluruh kantor dan program-program WWF di Papua. Peresmian tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat Pemda Propinsi, Kabupaten, Kotamadya, wakil masyarakat adat dan instansi serta mitra terkait lainnya.
Gedung kantor ini dibangun dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan, diantaranya yaitu
Kayu yang digunakan untuk pembangunan gedung ini adalah kayu yang telah mendapatkan sertifikat FSC (Forest Stewardship Council), sebuah lembaga sertifikasi yang telah diakui dunia, sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari sumber-sumber yang sah dan dikelola secara lestari.
”Kami berharap pembangunan gedung kantor yang mengadopsi prinsip-prinsip ramah lingkungan seperti ini dapat menjadi contoh bagi pembangunan gedung lainnya di Papua,” kata Benja Mambai, Direktur WWF Program Papua. Ia juga berharap penggunaan kayu bersertifikasi FSC untuk membangun kantor ini juga dapat mempromosikan segera diimplementasikannya program sertifikasi di Papua
”Selain itu bangunan ini memanfaatkan energi matahari sebagai salah satu sumber energinya, yaitu dengan menggunakan panel surya atau solar panel,” kata Benja. Menurutnya, energi yang dihasilkan dari panel surya tersebut diperkirakan dapat memenuhi sekitar 30 % persen dari kebutuhan listrik di kantor seluas 348 m2 dan memiliki kapasitas sarana untuk 35 staff tersebut.
Desain bangunan ini juga dibuat sedemikian rupa untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami (natural lighting) di dalam ruangan sehingga penggunaan AC dan pemakaian lampu listrik pada siang hari dapat diminimalkan atau dihilangkan sama sekali. Dengan dibangunnya kantor ini serta peningkatan fasilitas perpustakaan yang dimilikinya, diharapkan di masa yang akan datang WWF dapat menjadi pusat pendidikan lingkungan di Papua.
”WWF-Indonesia memiliki perhatian dan komitmen yang serius untuk bekerja demi pembangunan yang berkelanjutan di Papua,” kata Tati Darsoyo, Badan Pengurus WWF-Indonesia. Didirikannya kantor tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen jangka panjang WWF-Indonesia di Papua.
Kantor tersebut dibangun hampir seratus persen dari dana Jaringan WWF, yaitu sekitar 70 persen dari WWF-Netherland, 20 persen dari donasi staff program Papua dan sisanya dari WWF-Indonesia. Kayu bersertifikat FSC merupakan donasi dari PT. Sari Bumi Kusuma kepada WWF-Indonesia, dengan total donasi kayu mencapai 28 m3.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Benja Mambai, Direktur Program Papua, 0812 4809 407
Lie Tangkepayung, Communications Officer , 0813 4405 0098
Catatan Untuk Editor:
WWF-Indonesia merupakan yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. Sebagai Jaringan Global, WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia.
Di Papua WWF-Indonesia mulai bekerja Tahun 1980 dan telah membantu pemerintah untuk menginisiasi kawasan-kawasan konservasi penting di kawasan ini. Program WWF di Papua dikenal sebagai WWF-Indonesia Region Sahul yang mencakup Provinsi di Papua dan Papua Barat, dengan program konservasi terrestrial (hutan dan air tawar) serta kelautan (laut dan spesies laut). WWF-Indonesia Region Sahul bekerja melalui enam kantor lapangan, yaitu :
• Kantor lapangan Sorong untuk Kawasan Konservasi Laut Daerah Abun;
• Kantor lapangan Wasior untuk Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih.
• Kantor lapangan Merauke untuk Program Konservasi TransFly Landscape dan Ecoregion.
• Kantor lapangan Mapi untuk Program Konservasi berbasis Ruang Kelola Masyarakat Adat.
• Kantor lapangan Wamena untuk Program Taman Nasional Lorentz.
• Kantor Jayapura untuk Proyek Percontohan Pengelolaan Hutan Alam Lestari oleh masyarakat.
Keenam kantor tersebut dikoordinir dan didukung oleh Kantor Koordinasi Program di Jayapura. Bersama pemerintah dan mitra pembangunan, WWF-Indonesia Region Sahul mendorong pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ekologis dan sosial budaya di Tanah Papua.