PILIHAN STRATEGIS RENCANA PEMBANGUNAN KABUPATEN DAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL TELUK CENDERAWASIH
Manokwari, 02 Juni -Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dan Nabire dalam usaha meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pembangunan sarana-prasarana penunjang pertumbuhan ekonomi memerlukan ruang pembangunan infrastuktur seperti jalan dan sarana lainnya dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun hal ini juga akan membawa dampak lain yang sadar atau tidak dengan terbukanya akses ke wilayah ini akan memberi peluang meningkatnya jumlah penduduk pada daerah sekitar kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan tekanan terhadap kawasan ini.
Merujuk kepada Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor 472/Kpts-II/1993 Tanggal 03 September 1993 mengenai Luas Taman Nasional Teluk Cenderawasih seluas 1.453.500 Ha, dimana dari total luas tersebut dua wilayah administratif termasuk di dalamnya, yaitu Kabupaten Teluk Wondama dengan tiga belas distrik yang seluruh wilayah perairannya berada dalam kawasan Taman Nasional serta Kabupaten Nabire dengan Distrik Yaur dan Teluk Umar.
Selain menjadi menjadi sumber pakan yang menyediakan kelimpahan ikan dan berbagai sumber daya laut untuk masyarakat di Teluk Cenderawasih, taman nasional ini juga merupakan daerah penting bagi berbagai jenis ikan dan species laut untuk memijah (breeding ground), berkembangbiak dan menemukan makanannya yang berlimpah. Untuk melindungi sumberdaya kawasan ini melalui pengelolaan bersama telah ditetapkan zona-zona (daerah-daerah tertentu) bersama masyarakat dan lembaga terkait yang penetapannya melalui penelitian mendalam dan riset yang komprehensip.
Untuk mengsosialisasikan rencana pengelolaan taman nasional ini maka selama sehari (02/06) bertempat di SwissBel Hotel Manokwari diadakan pertemuan antar stakeholder atau pemangku kepentingan. Pertemuan ini diharapkan dapat menjembatani berbagai pemikiran dan pilihan strategis bersama untuk mendesain proses dan tahapan guna penyatuan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cendrawasih dengan Rencana Pembangunan Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire kedepan.
Pertemuan ini dibuka oleh Kepala Bapeda Provinsi Papua Drs. Ishak Hallatu, MM yang dalam sambutannya menekankan bahwa seiring dengan laju pembangunan daerah di Kabupaten Teluk Wondama dan Nabire yang menuntut adanya suatu pengelolaan kawasan yang integratif dengan semua pihak (stakeholders) terkait, dengan prinsip dan asas keserasian, partisipatif, dan kebersamaan, guna terwujudnya kelestarian kawasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di dalamnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa saat ini aspek konservasi dalam pengelolaan kawasan ini telah dan terus mendapatkan perhatian tetapi kita tidak boleh lupa untuk memperhatikan peningkatan ekonomi masyarakat di dalamnya.
Konsultasi stakeholder ini memberikan input penting kepada rencana zonasi di dalam taman nasional dan menghasilkan kesepakatan dan dukungan para pihak (stakeholder) bagi Rencana Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Pertemuan ini diisi dengan pemaparan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih 2010-2029 oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Ir. Kemal Amas, MSc dan Konsultant Mr. Peter Moss. Pertemuan ini hadiri oleh Kepala Bapeda dan para kepala dinas terkait di Provinsi Papua Barat dan Papua, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, para kepala UPT Departemen Kehutanan di Papua Barat, WWF-Indonesia, Universitas Negeri Papua, Lembaga Masyarakat Adat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih, WWF-Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Papua dalam pengelolaan bersama Taman Nasional Teluk Cenderawasih.
==Selesai==
Untuk informasi lebih lanjut:
- Ir. Kemal Amas, MSc. Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Jl. Esau Sesa Sowi Gunung Manokwari Papua Barat. Tel 0986 212303. Fax 0986 214719. Email btntc@telkom.net
- Herman Orisu, WWF-Indonesia Papua Marine Portofolio Manager. Hp 085244708509, email horisu@wwf.or.id atau
- Marthen Leuna, WWF-Indonesia Teluk Cenderawasih Project Leader. Hp 08124812444. Email mleuna@wwf.or.id
Catatan untuk redaksi:
- Tentang TN. Teluk Cenderawasih
Teluk Cendrawasih adalah kawasan lindung berstatus Taman Nasional yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 472/Kpts-II/1993 dengan luas 1.453.500 Ha. Terdapat dua wilayah administratif, yaitu Kabupaten Teluk Wondama dengan 13 distrik yang seluruh wilayah perairannya berada dalam kawasan taman nasional serta Kabupaten Nabire dengan 2 distrik yaitu Distrik Yaur dan Teluk Umar masuk dalam kawasan taman nasional. Total 15 distrik di dalam taman nasional dengan 31.453 jiwa bermukim di dalamnya.
Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih memiliki ± 46 jenis vegetasi daratan pulau, mulai dari vegetasi hutan pantai sampai dengan hutan pegunungan daratan pulau. Pada ekosistem padang lamun yang luas ditumbuhi Thalassia sp, Enhalus sp, dan Cymodeca sp, Siringodium sp, Halopilla sp, yang menahan banyak bahan endapan organik dan anorganik sehingga membentuk suatu lingkungan yang dipenuhi bahan makanan yang cukup bagi sekian banyaknya fauna khususnya Duyung (Dugong dugon), serta menjadi tempat pembiakan bagi berbagai jenis ikan, penyu dan biota laut lainnya. Terdapat ± 200 jenis karang, yang terdiri dari 67 genus dan sub genus 183 jenis karang Scleractinia tersebar pada tepi pulau baik pulau besar maupun kecil. - Tentang WWF-Indonesia
WWF-Indonesia merupakan yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. Sebagai Jaringan Global, WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. Kantor sekretariat nasional WWF-Indonesia berada di Jakarta, memimpin dan mengkoordinasi 20 Kantor Lapangan serta menjamin keselarasan WWF-Indonesia serta Prioritas Global Jaringan WWF di dunia. Program Konservasi WWF-Indonesia bekerja di 17 Propinsi dengan lebih dari 300 staf.
Di Papua WWF-Indonesia mulai bekerja Tahun 1980 dan telah membantu pemerintah untuk menginisiasi kawasan-kawasan konservasi penting di kawasan ini. Program WWF di Papua dikenal sebagai WWF-Indonesia Region Sahul yang mencakup Provinsi di Papua dan Papua Barat, dengan program konservasi terrestrial (hutan dan air tawar) serta kelautan (laut dan spesies laut). WWF-Indonesia Region Sahul bekerja melalui enam kantor lapangan (Sorong, Wasior, Merauke, Mapi, Wamena dan Jayapura) yang dikoordinir dan didukung oleh kantor koordinasi program di Jayapura. Bersama pemerintah dan mitra pembangunan, WWF-Indonesia Region Sahul mendorong pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek ekologis dan sosial budaya di Tanah Papua.