PENYU

(Dermochelys coriacea)

Status

Kritis

Populasi

Alaska Utara hingga Tanjung Harapan Selatan

Habitat

Perairan Tropis Hingga Lautan Kawasan Sub Kutub

Berat

S/d 500 Kg

Panjang

S/d 180 Cm

Overview

Sebagai rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, Indonesia memberikan tempat yang penting untuk bersarang dan mencari makan, disamping merupakan rute perpindahan yang penting di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Keenam spesies penyu tersebut antara lain penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Menurut IUCN Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies Yang Terancam Menurut IUCN) populasi enam spesies penyu laut tersebut tercantum sebagai yang rentan, terancam, atau sangat terancam. Ancaman utama yang dihadapi oleh penyu laut mencakup hancurnya habitat dan tempat bersarang, penangkapan, perdagangan ilegal dan eksploitasi yang membahayakan lingkungan.


A. PENYU BELIMBING


Ciri-ciri fisik:

  • Memiliki kulit cangkang berwarna gelap dengan bintik-bintik putih yang tidak sekeras penyu lain
  • Sirip depannya panjang
  • Ukurannya dapat mencapai hingga 180 cm dan berat 500 kg
  • Merupakan penyu laut terbesar dan salah satu reptil terbesar yang masih hidup.
  • Penyu belimbing betina dapat bertelur empat sampai lima kali per musim, setiap kali sebanyak 60 sampai 129 telur. Anehnya, sekitar setengah dari telur di setiap sarang sangat kecil untuk dapat berkembang dengan baik, atau tidak memiliki kuning telur. Penyu belimbing bertelur setiap dua atau tiga tahun dengan masa inkubasi sekitar 60 hari.

Penyu belimbing berukuran besar sangat luar biasa, karena hanya makan makanan rendah energi dan rendah protein dari mahluk-mahluk lunak seperti ubur-ubur, cumi-cumi dan tunicates (invertebrata seperti ubur-ubur laut).


MENGAPA SPESIES INI PENTING

Dikarenakan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berburu sarang telur penyu untuk dijual dan dikonsumsi, meskipun semua spesies penyu tersebut merupakan satwa dilindungi dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tidak hanya itu, perburuan penyu untuk diambil karapasnya dan dijadikan aksesoris seperti gelang, liontin, dan lain sebagainya, hingga diawetkan untuk menjadi pajangan pun masih sangat marak hingga saat ini. Hal ini sangat berpengaruh pada populasi penyu di alam dan harus dihentikan sebelum seluruh spesies penyu yang tersebar di perairan Indonesia punah. 


B. PENYU HIJAU

Ciri-ciri fisik:

  • Memiliki warna kuning kehijauan atau coklat hitam gelap
  • Cangkangnya bulat telur bila dilihat dari atas dan kepalanya relatif kecil dan tumpul
  • Ukuran panjang adalah antara 80 hingga 150 cm dan beratnya dapat mencapai 132 kg
  • Usia untuk kematangan seksualnya tidak pasti; Sampai saat ini diperkirakan 45-50 tahun. Penyu hijau betina bermigrasi dalam wilayah yang luas, antara kawasan mencari makan dan bertelur, tetapi cenderung untuk mengikuti garis pantai dibandingkan menyeberangi lautan terbuka.


Pola makan:

Penyu hijau dewasa serupakan penyu laut herbivora. Makanan utama mereka dalah lamun laut atau alga, yang hidup di perairan tropis da subtropik. Tetapi anak-anaknya diasumsikan omnivore untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka. Kemungkinan besar terjadi transisi bertahap saat penyu mencapai besar yang cukup untuk dapat menghindari predatornya.


MENGAPA SPESIES INI PENTING

Dikarenakan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berburu sarang telur penyu untuk dijual dan dikonsumsi, meskipun semua spesies penyu tersebut merupakan satwa dilindungi dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tidak hanya itu, perburuan penyu untuk diambil karapasnya dan dijadikan aksesoris seperti gelang, liontin, dan lain sebagainya, hingga diawetkan untuk menjadi pajangan pun masih sangat marak hingga saat ini. Hal ini sangat berpengaruh pada populasi penyu di alam dan harus dihentikan sebelum seluruh spesies penyu yang tersebar di perairan Indonesia punah.

Ancaman

Status

Kritis

Total Populasi

Alaska Utara hingga Tanjung Harapan Selatan

Ancaman Kerusakan

Kerusakan Habitat
Perburuan Liar
Perubahan Iklim

A. PENYU BELIMBING

Apa Saja Penyebab Buruknya Kondisi Penyu Belimbing Saat Ini?

  • Terlalu sedikit individu ditengah ancaman yang bertubi-tubi; seperti spesies penyu laut lainnya, penyu belimbing terancam oleh pengambilan telurnya, perburuan penyu dewasa untuk diambil dagingnya, pengrusakan panatai tempat bertelur, dan kematian tidak sengaja karena tertangkap oleh kapal ikan. Karena berbagai ancaman ini, penyu belimbing termasuk dalam daftar Critically Endangered yang disusun oleh IUCN Red List.
  • Pengambilan secara langsung; telur penyu diambil secara tradisional, khususnya di Asia, dan praktek ini kemungkinan merupakan penyebab turunnya populasi spesies ini di dunia.
  • Pengambilan secara tidak langsung; pada periode 1990an, setiap tahunnya diperkirakan sekitar 1.500 penyu belimbing betina dewasa terbunuh di jaring longline dan gillnet di kawasan Pasifik.
  • Pencemaran; pencemaran laut oleh plastik merupakan salah satu penyebab kematian. Phthalates, bahan kimia yang berasal dari plastik, ditemukan dalam kuning telur penyu belimbing. Penyu belimbing sering mengira plastik adalah ubur-ubur, makanan kesukaan mereka dan kemudian tercekik saat menelannya.

B. PENYU HIJAU

Apa Saja Penyebab Buruknya Kondisi Penyu Hijau Saat Ini?

  • Hilang dan rusaknya habitat: Pembangunan yang tidak terkendali menyebabkan rusaknya pantai-pantai yang penting bagi penyu hijau untuk bertelur. Demikian juga habitat tempat penyu hijau mencari makan seperti terumbu karang dan hamparan lamun laut terus mengalami kerusakan akibat sedimentasi atau pun pengrusakan oleh manusia.
  • Pengambilan secara langsung: Para peneliti memperkirakan setiap tahun sekitar 30.000 penyu hijau ditangkap di Baja, California dan lebih dari 50.000 penyu laut dibunuh di kawasan Asia Tenggara (khususnya di Bali, Indonesia) dan di Pasifik Selatan. Di banyak negara, anak-anak penyu laut ditangkap, diawetkan dan dijual sebagai cendera mata kepada wisatawan. .
  • Pengambilan secara tidak langsung: Setiap tahun, ribuan penyu hijau terperangkap dalam jaring penangkap. Penyu laut merupakan reptile dan mereka bernafas dengan paru-paru, sehingga saat mereka gagal untuk mencapai permukaan laut mereka mati karena tenggelam
  • Penyakit: Di sejumlah pulau di Kepulauan Hawai, hampir 70% dari penyu hijau yang terdampar terkena fibropapillomas, yaitu penyakit tumor yang dapat membunuh penyu laut. Sampai saat ini, penyebab tumor belum diketahui.
  • Pemangsa Alami: Penyu laut dapat mengeluarkan lebih dari 150 telur per sarang dan bertelur beberapa kali selama musimnya, agar semakin banyak penyu yang berhasil mencapai tingkat dewasa. Keseimbangan antara penyu laut dan pemangsanya dapat menjadi lawan bagi keberlanjutan hidup penyu saat pemangsa baru diintroduksi atau jika pemangsa alami tiba-tiba meningkat sebagai hasil dari kegiatan manusia. Seperti yang terjadi di pantai peneluran di Guianas, kini anjing menjadi ancaman utama bagi telur dan penetasan.

Apa yang WWF lakukan?

A. PENYU BELIMBING

Sejak 1984 WWF-Indonesia terlibat dalam beberapa proyek dan program konservasi penyu laut. Di antaranya mempromosikan dan memfasilitasi pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) berbasis penyu laut, pembentukan Kebijakan “Konsesi Penolakan Telur”, pembentukan kesepakatan dengan masyarakat terhadap perburuan penyu belimbing, peningkatan kepedulian terhadap status konservasi penyu belimbing di Berau dan Pulau Kei Kecil, implementasi alat tangkap ramah penyu laut dan penanganan terhadap penyu laut sebagai bycatch langsung di atas kapal nelayan, serta penandatanganan sejumlah nota kesepahaman dalam rangka perlindungan dan komitmen dari berbagai pihak terkait untuk kelangsungan hidup penyu laut di Indonesia.


B. PENYU HIJAU

Pekerjaan kami di Pantai Jamursba Medi, Papua, terfokus pada pelacakan pergerakan penyu belimbing betina (Dermochelys coriacea) setelah terpisah dari pantai tempat mereka bersarang di Papua dan mempelajari genetika dari populasi yang bersarang. Salah satu aspek kunci dari penelitian ini adalah keterlibatan dan kerjasama penuh dari masyarakat setempat dalam team pemantau. Kami juga bekerja melestarikan habitat penting dari penyu hijau (Chelonia mydas) di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Bali, dan Sukamade, Jawa Timur, dan memusatkan perhatian pada pengembangan rencana pembiayaan yang berkesinambungan untuk Gugus Tugas Penyu dan untuk jaringan pariwisata lingkungan berbasis penyu. Kami juga mendukung pemerintah untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam melaksanakan Rencana Pelestarian dan Pengelolaan (CMP) Samudera Hindia dan Nota Kesepahaman Asia Tenggara (IOSEA-MoU) untuk penyu laut.


BAGAIMANA BISA MEMBANTU

  • Pelajari dan sebarkan informasi tentang penyu belimbing dan penyu hijau untuk tingkatkan kepedulian orang-orang di sekitar
  • Laporkan jika menemukan kejadian terkait penyu belimbing dan penyu hijau ke aparat setempat
  • Dukung upaya konservasi yang dilakukan baik oleh pemerintah Indonesia, WWF-Indonesia ataupun badan-badan konservasi lainnya

BERITA & CERITA TERKAIT

Kisah Sukses Perempuan Adat dalam Kedaulatan Pangan

Kisah Dayun merupakan bukti bahwa perempuan menjadi aktor utama dalam melestarikan dan melindungi ekosistem serta kelangsungan ketersediaan sumber pangan dan kelestarian hutan.

Orangutan Sumatera, Sang Satwa Pengelola Hutan

Kehadiran Orangutan Sumatera di hutan telah menunjukkan tugas pokok dan fungsi orangutan di dalam kawasan hutan, Orangutan Sumatera secara alami telah hidup dan berinteraksi dengan lingkungan hutan itu sendiri.

WWF Mendukung Pencapaian Target Nasional Melalui SRAK Orangutan 2019-2

Memanfaatkan momentum peringatan Hari Orangutan Internasional yang jatuh pada tanggal 19 Agustus ini, WWF-Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan 2019-2029.

Peningkatan Kapasitas Unit Pengelola KKP di Flores Timur

DKP Flores Timur dan Sikka mengikuti peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) melaui penerapan Sertifikasi Kompetensi Kerja Khusus (SK3) Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi.

Perjalanan Khoetiem Dalam Konservasi Orangutan

Khoetiem mengakui jika upaya konservasi Orangutan tidak selalu mudah dilakukan. Ia dan rekan-rekannya harus melalui perjalanan panjang untuk bisa mencapai habitat Orangutan, area yang tentunya jarang dikunjungi manusia.

Pengalaman Dewi Bersama Orangutan Kalimantan: Momen Keberuntungan

“Yang paling membuat saya terpesona adalah ketika saya bisa melihat Orangutan di habitat alami mereka. Itu seperti momen keberuntungan."

Untuk Gajah

Rasa sedih dan prihatin bergejolak dalam diri Chicco Jerikho, Elephant Warrior WWF. Merasa tak bisa tinggal diam melihat kenyataan itu, ia mencari jawaban tentang solusi apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan gajah - gajah sumatera di Aceh dan mencegah konflik gajah - manusia.

Donasi Sekarang

Get the latest conservation news with email