GAJAH

(Elephas maximus)

Status

Kritis

Populasi

2400 - 2800

Habitat

Hutan Tropis

Berat

4 - 6 Ton

Panjang

5,5 – 7,3 Meter

Overview

Hutan Indonesia adalah rumah bagi mamalia besar seperti Gajah. Gajah merupakan ‘spesies payung’ bagi habitatnya dan mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Saat ini, terdapat dua spesies gajah di Indonesia, yakni Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis). Berdasarkan lembaga konservasi internasional, IUCN (International Union for Conservation of Nature), kedua spesies gajah tersebut masuk dalam status Kritis (Critically Endangered/CR).


Gajah Sumatera mempunyai ukuran tinggi badan sekitar 1,7 – 2,6 meter. Jika dibandingkan dengan Gajah Afrika, ukuran Gajah Sumatera lebih kecil. Gajah Sumatera masuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah, yaitu PP 7/1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

MENGAPA SPESIES INI PENTING

Berdasarkan kajian WWF-Indonesia, dalam kisaran 25 tahun, Gajah Sumatera telah kehilangan sekitar 70% habitatnya, serta populasinya menyusut hingga lebih dari separuh. Estimasi populasi tahun 2007 adalah antara 2400 – 2800 individu, namun kini diperkirakan telah menurun jauh dari angka tersebut karena habitatnya terus menyusut dan pembunuhan yang terus terjadi.

Khusus untuk di wilayah Riau dalam seperempat abad terakhir ini estimasi populasi Gajah Sumatera, yang telah lama menjadi benteng populasi gajah, menurun sebesar 84% hingga tersisa sekitar 210 ekor saja di tahun 2007. Lebih dari 100 individu Gajah yang sudah mati sejak tahun 2004. 

Ancaman

Status

Kritis

Total Populasi

2400 - 2800

Ancaman Kerusakan

Kerusakan Habitat
Konflik
Perburuan Liar
Perubahan Iklim

Meskipun saat ini Gajah berstatus Appendix I berdasarkan CITES (perjanjian internasional yang mengatur perdagangan spesies) yang artinya spesies ini tidak boleh diperjualbelikan, namun perburuan dan perdagangan gadingnya menjadi salah satu ancaman serius bagi populasi gajah. Gading gajah banyak diperjualbelikan secara ilegal akibat tingginya permintaan produk gading di pasar gelap internasional.

Gading gajah banyak diburu untuk dijadikan ukiran dan aksesoris. Banyak orang yang percaya bahwa memiliki produk ukiran atau aksesoris dari gading gajah dapat mengangkat derajat sosial dan menjadi hal bergengsi. Ini menyebabkan populasi gajah terus menurun dan mengantarnya ke gerbang kepunahan.

Ancaman utama bagi Gajah Sumatera adalah hilangnya habitat mereka akibat aktivitas penebangan hutan yang tidak berkelanjutan perburuan dan perdagangan liar juga konversi hutan alam untuk perkebunan (sawit dan kertas) skala besar. Hal ini mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang semakin hari kian memuncakmenyebabkan terjadinya pembunuhan (umumnya dengan peracunan) dan penangkapan. Ratusan gajah mati atau hilang di seluruh Provinsi Riau sejak tahun 2000 sebagai akibat berbagai penangkapan satwa besar yang sering dianggap ‘hama’ ini.Selama tahun 2013, kerugian ekonomi yang disebabkan oleh konflik Gajah di Riau menyebabkan sekitar 1,99 miliar. Belum lagi jika ditambahkan dengan angka keseluruhan konflik Gajah di Sumatera.

Apa yang WWF lakukan?

WWF bekerja di tiga wilayah di Sumatera yang dinilai sangat penting bagi upaya konservasi gajah. Terobosan-terobosan besar telah berhasil dicapai dengan dideklarasikannya Taman Nasional Tesso Nilo di Riau (tahap I seluas 38,576 ha) oleh Departemen Kehutanan pada tahun 2004. Pada tahun 2006, Menteri Kehutanan menetapkan Provinsi Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera melalui Permenhut No. 5/2006. Hal ini merupakan langkah besar bagi penyelamatan habitat gajah di Sumatera.

  • Pada tahun 2004, WWF memperkenalkan Tim Patroli Gajah Flying Squad pertama di Desa Lubuk Kembang Bunga yang berada di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo yang baru ditetapkan. Tim ini, yang terdiri dari sembilan pawang dan empat gajah latih, mengarahkan gajah-gajah liar untuk kembali ke hutan apabila mereka memasuki ladang maupun kebun milik masyarakat desa tersebut. Sejak mulai beroperasi, Tim Flying Squad Tesso Nilo berhasil mengurangi kerugian ekonomi yang dialami masyarakat setempat yang timbul akibat serangan gajah dan mencegah pembunuhan gajah akibat konflik.
  • Untuk memitigasi konflik manusia dan gajah, sejak Juli 2009, WWF-Indonesia bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat, serta Forum Komunikasi Mahout Sumatera (FOKMAS) melakukan pemasangan GPS Satellite Collar. Alat ini dipasang pada Gajah liar untuk mengetahui keberadaan sebagai upaya monitoring keberadaan dan pergerakannya, dan sebagai peringatan dini untuk mitigasi konflik Gajah sehingga dapat mencegah masuknya Gajah liar ke area pemukiman atau perkebunan sehingga dapat meminimalkan konflik antara Gajah dan manusia.
  • Tahun 2012, WWF-Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Biologi Molekular Eijkman. Tujuannya adalah mengetahui sebaran, populasi dan hubungan kekerabatan Gajah khususnya di Tesso Nilo melalui DNA gajah. Lembaga penelitian ini juga memberikan pelatihan untuk pengambilan sampel kotoran gajah dan memastikan penggunaan alat dan bahan yang tepat. Sampel kotoran ini kemudian akan di ekstraksi, amplifikasi dan analisa DNA. Selain mengetahui sebaran dan populasi gajah di Tesso Nilo, studi ini diharapkan dapat mengungkapkan keanekaragaman genetika gajah Sumatera di Tesso Nilo serta hubungan kekerabatan antar individu maupun antar kelompok Gajah.

BAGAIMANA BISA MEMBANTU

  • Pelajari dan sebarkan informasi tentang Gajah untuk tingkatkan kepedulian orang-orang di sekitar
  • Laporkan jika ada penemuan kematian Gajah ke aparat setempat
  • Dukung upaya konservasi yang dilakukan baik oleh pemerintah Indonesia, WWF-Indonesia ataupun badan-badan konservasi lainnya

BERITA & CERITA TERKAIT

Kisah Sukses Perempuan Adat dalam Kedaulatan Pangan

Kisah Dayun merupakan bukti bahwa perempuan menjadi aktor utama dalam melestarikan dan melindungi ekosistem serta kelangsungan ketersediaan sumber pangan dan kelestarian hutan.

Orangutan Sumatera, Sang Satwa Pengelola Hutan

Kehadiran Orangutan Sumatera di hutan telah menunjukkan tugas pokok dan fungsi orangutan di dalam kawasan hutan, Orangutan Sumatera secara alami telah hidup dan berinteraksi dengan lingkungan hutan itu sendiri.

WWF Mendukung Pencapaian Target Nasional Melalui SRAK Orangutan 2019-2

Memanfaatkan momentum peringatan Hari Orangutan Internasional yang jatuh pada tanggal 19 Agustus ini, WWF-Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan 2019-2029.

Peningkatan Kapasitas Unit Pengelola KKP di Flores Timur

DKP Flores Timur dan Sikka mengikuti peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) melaui penerapan Sertifikasi Kompetensi Kerja Khusus (SK3) Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi.

Perjalanan Khoetiem Dalam Konservasi Orangutan

Khoetiem mengakui jika upaya konservasi Orangutan tidak selalu mudah dilakukan. Ia dan rekan-rekannya harus melalui perjalanan panjang untuk bisa mencapai habitat Orangutan, area yang tentunya jarang dikunjungi manusia.

Pengalaman Dewi Bersama Orangutan Kalimantan: Momen Keberuntungan

“Yang paling membuat saya terpesona adalah ketika saya bisa melihat Orangutan di habitat alami mereka. Itu seperti momen keberuntungan."

Untuk Gajah

Rasa sedih dan prihatin bergejolak dalam diri Chicco Jerikho, Elephant Warrior WWF. Merasa tak bisa tinggal diam melihat kenyataan itu, ia mencari jawaban tentang solusi apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan gajah - gajah sumatera di Aceh dan mencegah konflik gajah - manusia.

Donasi Sekarang

Get the latest conservation news with email