Ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia terjaga dan dikelola secara berkelanjutan dan merata, untuk kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang.

Sejarah

Tahun 2012 menandai peringatan 50 tahun kegiatan konservasi WWF di Indonesia.Sukses yang dicapai selama lima dekade adalah buah dari sinergi dan dukungan banyak pihak. Kami akan terus bekerja untuk bumi yang lebih baik.

WWF mulai berkiprah di Indonesia pada 1962 sebagai bagian dari WWF Internasional, melakukan penelitian di Ujung Kulon untuk menyelamatkan populasi badak jawa yang nyaris punah. Saat itu hanya tersisa sekitar 20 individu saja. Bekerjasama dengan Kementrian Kehutanan, lambat laun jumlah populasi satwa bercula satu itu meningkat hingga stabil sekitar 40-50 individu pada survey tahun 1980-an

Pada tahun 1996, WWF resmi berstatus yayasan, menjadi sebuah entitas legal, yang berbadan hukum sesuai ketentuan di Indonesia.Adalah Prof. Emil Salim, Pia Alisjahbana dan Harun Al Rasjid (alm) yang menjadi pendorong berdirinya Yayasan WWF-Indonesia, menempatkannya sebagai organisasi nasional dalam Jaringan Global WWF, yang memiliki Dewan Penyantun sendiri, independen dan fleksibel dalam penggalangan dana dan pengembangan program.

CATATAN SINGKAT 50 TAHUN PERJALANAN WWF DI INDONESIA

Mengumpulkan catatan perjalanan selama 50 tahun bukanlah hal yang mudah. Berikut ini adalah sebagian dari ringkasan perjalanan lima dekade WWF di Indonesia, dari tahun 1962 hingga 2012.

Kami akan terus bekerja menghadapi tantangan konservasi yang paling serius dihadapi planet ini.

1960-1970

WWF mulai beroperasi di Ujung Kulon pada 1962, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dengan proyek perdana konservasi Badak Jawa. Saat itu, berdasarkan hasil studi terdapat 20-29 individu Badak Jawa di Ujung Kulon. Pada rentang waktu ini, WWF ikut dilibatkan dalam penyusunan dokumen pertama mengenai Rencana Strategi Konservasi Badak dan penyempurnaan Rencana Utama Konservasi Alam.

1971-1980

Dalam rentang waktu ini, WWF bekerja sama dengan Pemerintah dan Frankfurt melakukan survei Orangutan Sumatera pertama kali dan membuat pusat edukasi Orangutan di Gunung Leuser, Aceh. WWF juga mendukung penyusunan rencana lima tahun edukasi konservasi oleh Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam dan di rentang waktu yang sama, kondisi populasi Badak Jawa di Ujung Kulon mulai stabil.

1981-1990

WWF mengadakan program survei Badak Sumatera di Gunung Leuser dan menginisiasi kampanye hutan hujan tropis. Selain itu, program konservasi kelautan juga dimulai pada periode ini dan ditandai dengan hadirnya WWF di Timur Indonesia, yakni Irian Jaya (Papua). Dalam periode yang sama, WWF bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dalam meluncurkan perangko seri Orangutan.

1991 - 2000

Periode ini merupakan waktu dimulainya upaya memadukan konservasi dan pembangunan di Nusa Tenggara. WWF pun mulai bekerja di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Bersama masyarakat adat, WWF turut mendukung perubahan status Kayan Mentarang dari Cagar Alam menjadi Taman Nasional pada tahun 1996. Pada periode yang sama, WWF terdaftar sebagai organisasi berbadan hukum Indonesia "Yayasan WWF-Indonesia" menggantikan WWF Indonesia Programme.

2000-2005

Dalam periode ini, WWF memulai kerja konservasi di Derawan, Kabupaten Berau dan melakukan beberapa kampanye besar, di antaranya: kampanye perlindungan kawasan Sebuku-Sembakung di Nunukan, Kalimantan Timur; kampanye menolak tambang di kawasan lindung; inisiatif Indonesia Forest and Media Campaign (INFORM) serta kampanye melawan illegal logging "Greencom"; kampanye Power Switch! dan pembentukan komunitas Energy Troopers. WWF-Indonesia juga mengadakan program pendidikan lingkungan yang ditandai dengan diluncurkannya buku seri pendidikan lingkungan. WWF juga terlibat dalam komitmen tiga negara (Indonesia, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon) dalam kesepakatan "Bismarck Solomon Seas Marine Ecoregion for Leatherback Turtle Conservation" (konservasi Penyu Belimbing). Dalam periode ini juga Panduan Pemberantasan Illegal Logging, bekerja sama dengan Departemen Kehutanan-ITTO dan WWF) diperkenalkan.

2006-2010

Program Supporter WWF dan Supporter Kehormatan WWF dimulai pada periode ini. WWF-Indonesia juga mendukung pemerintah dalam perumusan rencana tata ruang berbasis ekosistem di Sumatera dengan konsep "Sumatra Low-carbon Economy" dan terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi dan Strategi Nasional Konservasi Orangutan, Badak, dan Harimau Sumatera. Sejumlah kampanye WWF-Indonesia juga meraih penghargaan dalam kompetisi insan periklanan "Citra Pariwara". Dalam periode ini, Earth Hour mulai diadakan di Indonesia (2009) dan diluncurkannya komunitas Marine Buddies dan truk edukasi "Panda Mobile", dan masih banyak program-program lainnya.

2011-SEKARANG

Pada rentang waktu ini, PT SJM, anggota GFTN Indonesia meraih  sertifikat Forest Stewardship Council (FSC) setelah berhasil melakukan integrasi rencana pengelolaan produksi dan pelestarian Orangutan melalui pendekatan pengelolaan hutan secara lestari. WWF juga membuahkan film berjudul "The Mirror Never Lies" pada tahun 2011 dan meluncurkan kampanye publik "Bijak Memilih Seafood". Kapal Gurano Bintang untuk misi pendidikan lingkunga di sekitar Teluk Cenderawasih, Papua diluncurkan dalam periode ini. WWF juga turut berkontribusi atas dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Tata Ruang Pulau Sumatera yang mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan dan Deklarasi Bersama Kepulauan Kei Kecil sebagai kawasan perlindungan laut. Selain program yang disebutkan di atas, masih banyak lagi program dan kerja-kerja konservasi yang WWF-Indonesia lakukan hingga saat ini demi kelestarian alam Indonesia.



CERITA DI BALIK LOGO PANDA

                                                   

"Kami menginginkan satwa yang kharismatik, terancam punah, dan dicintai oleh banyak orang di dunia.Dengan menggunakan panda sebagai logo, kami juga dapat menghemat biaya percetakan karena logo ini hanya memerlukan tinta hitam."

Begitu kata Sir Peter Scott, seorang ahli ilmu burung (ornithologist) berkebangsaan Inggris dan salah satu pendiri WWF Internasional, tentang penggunaan panda sebagai logo WWF.

Inspirasi awal untuk menjadikan panda sebagai logo WWF datang dari lahirnya seekor panda bernama Chi-Chi ke Kebun Binatang London tidak lama sebelum WWF didirikan. Logo WWF pertama kali dirancang oleh ahli lingkungan dan seniman, Gerald Watterson, sedangkan finalisasi logo dilakukan oleh Sir Peter Scott yang juga adalah pelukis.

Panda raksasa (giant panda) dimaksudkan sebagai simbol dari semua spesies terancam punah dan mewakilkan komitmen WWF untuk melindungi kehidupan alam liar, termasuk satwa liar dan habitatnya serta seluruh ekosistem penting di planet Bumi. Logo ini digunakan oleh WWF di seluruh dunia.


Cerita Terkini

Pilih Pangan Bijak Untuk Keanekaragaman Hayati, Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat

Pilih Pangan Bijak Untuk Keanekaragaman Hayati, Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Kesejahteraan Masyar

Sungai Sebagai Sumber Energi Terbarukan di Kalimantan Utara

Sungai Sebagai Sumber Energi Terbarukan di Kalimantan Utara

Penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) TNBKDS

Penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) TNBKDS

Get the latest conservation news with email