Kembali

© Administrator

Administrator



Youth Summer Camp Ajak Generasi Muda Peduli Mamalia Laut Terdampar

Posted on 01 July 2019
Author by Hendra Setiawan

Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan satwa lautnya, tidak terkecuali mamalia laut. Fakta menunjukkan bahwa laut Indonesia menjadi jalur migrasi lebih dari 30 spesies mamalia laut, lebih dari sepertiga seluruh spesies Paus dan Lumba-lumba (Cetacean) dan satu spesies Dugong (Sirenian) yang terancam punah. Berbagai ancaman yang mengintai kehidupan spesies mamalia laut tersebut mencakup perburuan, kerusakan habitat, penangkapan secara tidak sengaja (bycatch), dan individu yang mati karena terdampar akibat berbagai macam faktor.

Hampir setiap bulan terjadi kasus mamalia laut terdampar di pesisir pantai Indonesia, tidak kurang dari 300 kasus sejak tahun 2000. Bila terdapat kasus mamalia laut terdampar, masih banyak masyarakat yang penasaran sehingga menyebabkan kerumunan di sekitar satwa terdampar. Bila satwa tersebut masih hidup, hal ini tentu meningkatkan tingkat stress satwa dan semakin memperbesar potensi kematiannya. Untuk itu, sosialisasi dan edukasi mengenai pertolongan pertama bila ada mamalia laut terdampar perlu dilakukan dalam rangka upaya penyelamatan satwa itu sendiri.

Pada 21-24 Juni 2019 lalu, Komunitas Marine Buddies didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Angkasa Pura I (Persero) dan WWF-Indonesia menyelenggarakan Youth Summer Camp 2019 di Bukit Asah, Karangasem, Bali. Salah satu bagian dari rangkaian acara ini adalah diadakannya diskusi konservasi bertajuk “Penanganan Kejadian Mamalia Laut Terdampar”. Diadakannya diskusi ini bertujuan mengajak generasi muda untuk ikut andil dalam upaya konservasi dan mengedukasi tentang hal apa yang dapat dilakukan bila ada mamalia laut yang terdampar. Pada sesi ini, drh. Dwi Suprapti (Marine Species Coordinator WWF-Indonesia) sebagai dokter hewan yang berpengalaman menangani kasus mamalia laut terdampar hadir dan berbagi ilmunya kepada para peserta.

Menurut Dwi Suprapti, definisi terdampar adalah suatu kejadian apabila satwa tersebut tidak dapat kembali ke habitatnya secara mandiri baik karena mati, sakit, terjebak di perairan dangkal, di daratan, atau terjebak di jaring karena tersangkut (bycatch). Lantas apa yang harus kita lakukan bila menemukan mamalia laut yang terdampar?

Umumnya, bila ada mamalia laut terdampar di bibir pantai, orang-orang pasti penasaran dan akan berkumpul untuk melihat satwa tersebut. Untuk itu, upaya pertolongan yang paling pertama harus kita lakukan jika menemukan mamalia terdampar, terutama yang masih hidup, adalah mengatur massa agar tidak mendekat atau berinteraksi secara langsung kepada satwa, karena hal tersebut dapat meningkatkan stress pada satwa dan meningkatkan resiko kematian pada satwa tersebut.

Drh. Dwi juga menjelaskan tentang ada beberapa kode kejadian terdamparnya mamalia laut yang dapat diidentifikasi, antara lain:

Kode 1: Mamalia terdampar hidup, dengan ciri-ciri seperti lubang pernafasan masih bergerak aktif, masih ada detak jantung (raba dada satwa sebelah kiri), masih ada refleks (antara lain kelopak mata berkedip saat disentuh, ada penolakan dari hewan saat sirip dada disentuh). 

Kode 2: Mamalia terdampar, baru mati. Dalam kondisi ini satwa tidak bergerak, tidak adanya refleks, dan tidak bernafas. Kondisi daging masih kencang dan berkilau. Bila ditemukan kondisi ini, maka harus segera menghubungi dokter hewan atau pihak yang sudah terlatih untuk melakukan nekropsi.

Kode 3: Mamalia mulai membusuk. Kondisi satwa sudah menjadi bangkai. Bangkai mulai membengkak dan mengeluarkan cairan tubuh yang mengeluarkan bau. Jika masih sempat dapat dilakukan nekropsi.  

Kode 4: Pembusukan tingkat lanjut. Kondisi ini terjadi ketika bangkai sudah sangat membusuk dan kulit mulai mengelupas, maka yang dapat dilakukan mengambil sampel untuk uji DNA dan menyelamatkan kerangkan untuk museum.

Kode 5: Kerangka atau mumi. Pada kondisi ini, tindakan yang dapat dilakukan adalah mengambil sampelnya untuk uji DNA dan menyelamatkan kerangka untuk museum.

Dibuatnya kode-kode tersebut dapat membantu masyarakat umum yang hidup di pesisir, maupun pihak yang terlatih dalam upaya penanganan mamalia yang terdampar di pesisir pantai. Bila kode-kode tersebut telah diidentifikasi, maka baru dapat ditentukan langkah apa yang dapat dilakukan selanjutnya, tentunya tanpa melupakan langkah pelaporan kepada pihak-pihak terkait seperti tim ahli terdekat dan atau tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Diskusi ini dapat menjadi langkah awal untuk membuka mata masyarakat,  khususnya generasi muda untuk mengetahui kondisi satwa mamalia laut. Tidak hanya itu, generasi muda pun diharapkan tergerak untuk melakukan aksi nyata menyelamatkan lingkungan terutama mamalia laut.



Cerita Terkini

Asap Tak Menghalang Niat Belajar Para Pengajar

Api kebakaran hutan dan lahan masih menyala di sebagian wilayah di Provinsi Riau. Asap semakin tebal hingga membua...

Jalan Panjang Menuju KKPD Paloh: Harapan Menjadi Nyata

SK Pembentukan Pokja menjadi acuan para pihak berjibaku, begerak bersama, melewati tahapan demi tahapan untuk fina...

Stop Perdagangan Satwa Dilindungi, Amankan Keberlanjutan Pangan

Jakarta, 5 November 2018. Mengambil momen Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) para pemangku kepentingan k...

Get the latest conservation news with email