Kembali

© Administrator

Administrator



WWF Kembangkan Upaya Mitigasi Tangkapan Sampingan Penyu di Ujung Tenggara Pulau Sulawesi

Posted on 11 March 2019
Author by

Oleh : Darwan Saputra (Bycatch Fisheries Improvement Program)



WWF – Indonesia pada November 2018 telah melakukan survey pengumpulan data tangkapan sampingan penyu dari para nelayan, di kawasan perairan atau selat yang berada di antara Kabupaten Konawe, Muna dan Buton dimana merupakan salah satu jalur migrasi penyu. Masyarakat pesisir yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan membudi dayakan rumput laut ini mengaku sering bertemu dengan Penyu saat melaut. Hampir setiap hari dan sepanjang tahun penyu - penyu itu tinggal dekat dengan masyarakat.
 
Komposisi jenis API (alat penangkap ikan) nelayannya sendiri cukup beragam, di antaranya purse seine 7.04%, sero (mini setnet) 5.50%, pancing dan rawai 36.55%, jaring insang 17.69%, bagan 0.4%, bubu 12.14% dan jenis lainnya sebanyak 20.69% dari total API yang kurang lebih terdapat 3700 unit armada. Angka ini menjadi ancaman cukup besar untuk penyu yang bisa saja tersangkut secara tidak sengaja.
 
Penyu yang tertangkap secara tidak sengaja umumnya di temukan pada alat tangkap sero. Ada pula beberapa nelayan pengguna jaring insang (gill net) menemukan penyu tersangkut dijaring mereka, meski seringkali ditemukan masih hidup, namun ada pula yang ditemukan dalam kondisi mati. Jenis penyu yang sering di temukan adalah penyu sisik dan penyu hijau.
 
Selain ancaman bycatch, tantangan perilaku masyarakat pesisir di kabupaten Muna terhadap penyu sendiri masih cukup besar. Penyu yang ditemukan dalam kondisi hidup biasanya di ambil dan di angkut ke rumah untuk di pelihara. Masyarakat hingga saat ini juga masih mengonsumsi telur dan daging penyu. Pak Aci dan Pak Adi, Ketua Pokwasmas Kabupaten Muna mengatakan bahwa masih perlu penyadar tahuan akan fungsi dan peran penyu dalam ekosistem laut bagi masyarakat desa. Melihat hasil survei yang telah dilaksanakan, sebanyak 79,37% nelayan sudah melakukan pelepasliaran penyu kembali ke laut, sedangkan 11,11% masih dikonsumsi, dan 9,52% lainnya dijual dan dipelihara.
 
Baca Juga : Ancaman Keberadaan Penyu di Ujung Tenggara Pulau Sulawesi
 
Upaya yang dilakukan dalam mengurangi resiko tertangkapnya biota ETP diantaranya pengembangan teknologi dan metode penangkapan, penyesuaian alat tangkap, dan peningkatan kapastitas kepada nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan yang ramah lingkungan. Salah satu contoh upaya yang saat ini sedang dikembangkan yaitu pemasangan lampu LED pada alat tangkap jaring insang (gillnet) untuk menurunkan dan atau menghindari potensi tertangkapnya penyu sebagai bycatch. Cahaya yang dihasilkan oleh lampu LED tersebut diharapkan bisa terdeteksi oleh penyu sehingga mereka akan menjauh atau mengubah arah renangnya dan tidak akan terjerat oleh gillnet.
 
Keberhasilan penggunaan lampu LED sendiri sudah terbukti pada uji coba yang dilakukan WWF – Indonesia di perairan Paloh pada tahun 2018. Dalam hal uji coba lampu LED Hijau di Paloh, interaksi nelayan dengan penyu mengalami penurunan yang signifikan. Harapannya, keberhasilan nelayan di Paloh dapat diterapkan juga di perairan Kabupaten Muna ini, mengingat tingginya angka interaksi antara nelayan dan Penyu.
 
Baca juga : Nelayan Paloh Pasang Lampu LED Hijau di Jaring, Angka Tangkapan Sampingan Penyu Turun 61%

Cerita Terkini

Manisnya Madu ‘Odeng’ Ujung Kulon

‘Odeng’ adalah panggilan sayang masyarakat Ujung Kulon untuk lebah jenis Apis Dorsata, jenis lebah penghasil m...

Kadup dan Sawora Masyarakat Teluk Wondama di TNTC

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) yang berada di Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki luas 1.453.500.00 ...

Nelayan Seraya Marannu, Penangkap Ikan Karang Ramah Lingkungan dari Ma

Oleh: Muhammad G. Salim (Fisheries Program Assistant, WWF-Indonesia)Desa Seraya Marannu di Pulau Seraya Besar, Ke...

Get the latest conservation news with email