Wisata Sungai yang Menantang dan Eksotik

Posted by Anastasia Joanita on 12 June 2019
Author by Regina Nikijuluw

Ada penyebutan “Pulau Seribu Sungai”, itulah Kalimantan. Bila kita melihat dari pesawat, akan tampak banyaknya sungai besar, dan sungai kecil yang meliuk-liuk bak ular. Di beberapa lokasi, insftastuktur daratnya belum memadari dan areal hutan padat sehingga sungai dijadikan sebagai salah satu jalur transportasi.

Bagi masyarakat di Kalimantan, banyaknya sungai tidak hanya mereka manfaatkan sebagai transportasi. Dalam perjalanan ke Kabupaten Mahakam Ulu dan Kabupaten Kutai Barat kami bergabung dan turut menikmati beberapa kegiatan di sungai.

Rekreasi adalah salah satu aktifitas yang dilakukan. Di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), ada lokasi yang mereka sebut KM21 atau Sungai Alan Batu Majang. Letaknya di pinggir sungai dan pohon-pohonnya cukup rindang sebagai payung untuk menutupi cuaca panas yang menyengat.

Mari kita intip suasana apa saja yang terjadi saat rekreasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mahakam Ulu!

Sesampai di lokasi, tidak membuang waktu lama, beberapa laki-laki mengambil jala ikan. Puluhan ikan “Batangan” berhasil di dapatkan. Ikan tersebut langsung dibersihkan dan dimasak dengan kayu bakar oleh para wanita. Di tepi sungai, para wanita juga menyiangi sayur-sayuran, dan menyiapkan sambal. Di sisi lain, ada sebaris ayam di panggang dengan menggunakan bumbu lokal.

Setelah makanan siap, proses penyajian makanan dilakukan. Nasi misalnya, dibungkus di dalam daun pisang, ayam di potong-potong dan di bagi-bagi dalam beberapa daun pisang. Sementara sayur-sayuran dan sambal juga di pisah-pisah dalam beberapa tempat. Pembagian ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses makan nantinya karena secara menyeluruh hampir 50 orang ikut di acara ini. Serunya lagi, kita makan tidak menggunakan piring, tetapi memakai daun pisang.

Selesai makan dan selesai beres-beres, semua menceburkan badan ke sungai. Airnya jernih dan cukup dingin sehingga bisa membuat badan menjadi segar. Sangat nyaman untuk berenang dan berendam yang tentunya cocok sekali untuk cuaca panas siang itu. Canda dan tawa terdengar riuh rendah sepanjang mereka berendam di sungai.

Saat kami di Kampung Long Tuyoq, pemuda-pemuda menggunakan sungai sebagai area olahraga arung jeram. Sungai Mahakam (920 Km), terpanjang nomor 2 di Indonesia, melintas di beberapa kampung di Kalimantan Timur. Kondisi air bisa sangat aman, namun di saat tertentu sangat berbahaya. Misalnya saat musim kering, air sungai agak dangkal dan ditemui banyak batu yang bisa membahayakan perahu karet. Atau, saat musim hujan aliran air sangat deras sehingga menyulitkan untuk mengendalikan perahu.

Adrianus Liah Blawing (Liah), Ketua Komunitas Giham yang juga Instruktur Arum Jeram dari Kampung Long Tuyoq, Mahakam Ulu membimbing kami di kegiatan arung jeram. Kegiatan diawali dengan briefing pemakaian dayung dan kode-kode sederhana yang perlu dipahami oleh pemula. Selanjutnya Liah memimpin proses pelenturan otot atau pemanasan di pinggir sungai. Sebelum arung jeram dilakukan kami berlatih mendayung di tepi sungai.

Kondisi air saat kami turun cukup aman. Ada beberapa jeram sepanjang sungai, dan cukup banyak putaran air yang cukup membahayakan. Liam bersama teman-temannya berhasil menjauhkan perahu kami dari putaran air karena bila terjerat di putaran tersebut maka perahu tidak bisa keluar. Di penghujung arum, tempat berhenti untuk pindah ke long boat, ada Air Terjun Kenheq yang luar biasa indah dan semua kelelahan terbayar melihatnya.

Lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Kampung Linggang Melapeh, Kabupaten Kutai Barat.

Di Kampung ini, salah satu wisata sungainya di Jantur (air terjun) Tabalas. Kalau Air Terjun Kenheq kita hanya bisa memandangi, menjaga jarak dan tidak boleh terjun karena cukup tinggi sehingga tekanan air besar. Sedangkan Air Terjun di Jantur Tabalas, malah mengundang wisatawan untuk terjun dari atas tebing yang tingginya hanya sekitar 7 meter.

Kebetulan saat kami di sana merupakan awal puasa sehingga sekolah sedang libur. Beberapa anak-anak dan pemuda pemudi berkumpul di sekitar jantur dan ada juga yang naik ke atas tebing untuk loncat ke sungai. Yuk kita saksikan bagaimana 2 orang pemuda loncat dari tebing.

Lokasi wisata Jantur Tabalas cukup bersih, terawat dan di tata dengan baik.  Masyarakat lokal yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengelola area tersebut. Selain tempat sampah yang disediakan di beberapa tempat, kamar untuk ganti pakaian-pun sudah dibangun.

Cerita ini menggambarkan sebagian kecil dari kegiatan yang bisa dilakukan di Sungai. Banyak hal lain yang bersifat budaya dan adat istiadat serta keanekaragaman hayati tidak terekam dalam perjalanan kami. Salah satunya pesut air tawar atau pesut Mahakam yang saat ini statusnya terancam punah dalam kategori di IUCN Red list.

Kalau kamu seorang petualang, jangan ragu ayunkan kaki untuk mengunjungi area Heart of Borneo.



Catatan: Kunjungan ini didukung juga oleh Yayasan Kehati, TFCA Kalimantan, dan dilakukan bersama dengan team Jejak Petualang Trans7, serta 2 orang media dari Kompas da Media Indonesia.


Cerita Terkini

Dugong

Dugong

Memelihara Koridor Bukit Tiga Puluh

Memelihara Koridor Bukit Tiga Puluh

Dukung Konservasi dan Edukasi Lingkungan Hidup, Angkasa Pura I Tandatangani Nota Kesepahaman dengan WWF-Indonesia

Dukung Konservasi dan Edukasi Lingkungan Hidup, Angkasa Pura I Tandatangani Nota Kesepahaman dengan

Get the latest conservation news with email