Kembali

© USAID SEA/Juli Adha

.



Upaya Mengurangi Tangkapan Sampingan, PT. IMPD Lakukan Uji Coba Alat Tangkap Jaring Insang Berkantong

Posted by Nur Arinta on 21 May 2020
Author by Alfian Trendy Apriyanto dan Abdul Kadir Zailani

Kabupaten Sorong Selatan dikenal sebagai salah satu sentra perikanan tangkap di Provinsi Papua Barat khususnya untuk komoditas udang. Udang menjadi incaran pasar ekspor dan menjadikan udang sebagai target utama tangkapan masyarakat yang menetap di wilayah pesisir Sorong Selatan. Proses penangkapan yang dilakukan oleh nelayan masih cukup konvensional, dimana dominan menggunakan alat tangkap jaring tiga lapis (trammel net). Sejak pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan, yang kemudian dicabut dan diterbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 71/ PERMEN-KP/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, alat tangkap trammel net mulai marak digunakan dan merupakan satu-satunya alat tangkap yang diandalkan oleh nelayan di Sorong Selatan.

Penggunaan alat tangkap trammel net, memiliki beberapa kelemahan, hasil pendataan dan pengamatan Enumerator WWF-Indonesia melalui Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) di Sorong Selatan memperlihatkan tingginya hasil tangkapan sampingan (bycatch) yang didapatkan, bahkan bisa mencapai 50% dari berat target tangkapan utama. Jenis bycath yang dominan tertangkap yaitu jenis ikan gulama (Johnius borneensis), ikan sembilang (Netuma thalassina), ikan pari (Rhinobatos tyipus), dan hiu (Carcharhinus dussumieri) dengan ukuran yang remaja dan bahkan masih kecil (juvenile). Sebagian besar jenis ikan ini tidak memiliki nilai ekonomi sehingga dibuang ke laut dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Selain itu, pada saat membuka hasil tangkapan dari trammel net nelayan membutuhkan waktu yang relatif lama sekitar 2 jam dan penanganan pasca tangkapnya terlambat, sehingga mengakibatkan penurunan pada kualitas udang dan tentunya dapat menurunkan harga jualnya. Disisi lain, jika cara membuka hasil tangkapan dari jaring ini keliru maka menyebabkan alat tangkapnya mudah rusak dan umur pemakaiannya singkat.

Sejak terlibat dalam Seafood Savers, sebuah inisiasi WWF-Indonesia untuk mewujudkan perikanan yang berkelanjutan, PT. IMPD (Irian Marine Product Development) telah berkomitmen untuk mengimplementasi Program Perbaikan Perikanan (FIP, Fisheries Improvement Program) dengan menerapkan penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dan memperbaiki kualitas taraf hidup para nelayan yang berada di dalam rantai pasokannya. Hal ini mendorong PT. IMPD Sorong menggandeng Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta melakukan uji coba alat tangkap gilltong atau biasa kita kenal sebagai jaring insang berkantong. Gilltong merupakan jaring inovasi yang pengoperasiannya bersifat aktif, dengan kontruksi  satu lapis jaring berukuran 1,75 x 2 inci, memiliki kantong–kantong jaring dengan berbentuk kubus 20 x 20 inci. Sasaran tangkapan utamanya adalah udang banana (Penaeus merguiensis) dengan panjang kerapas 1,57 inci yang layak tangkap.

Dari segi teknis, tujuan utama dari uji coba ini yaitu membandingkan alat tangkap gilltong dan trammel net dari aspek pengurangan tangkapan sampingan (bycatch) terutama hewan laut yang terancam punah, langka dan dilindungi, aspek efektivitas dan efisiensi penggunaannya, serta aspek mutu hasil tangkapannya. Uji coba alat tangkap gilltong dilakukan pada tanggal 15 Januari - 15 Februari 2020 di daerah calon Kawasan  Konservasi Perairan Teo-Enebikia Kabupaten Sorong Selatan, terutama pada area yang dominan digunakan nelayan sebagai wilayah tangkapnya. Alat ini diuji coba oleh nelayan Distrik Konda dengan penerapan 2 metode; sweeping atau menghadang arus dan beach seine atau ditarik melingkar. Pertama metode sweeping seperempat putaran, metode sweeping setengah lingkaran (180°, 270°, 360°), dan metode beach seine dengan menggunakan satu kapal dan dua kapal, masing-masing metode dilakukan 3 kali pengulangan.

Dari proses uji coba tersebut, hasil pendataan dan pengamatan Tim Enumerator Perikanan WWF-Indonesia di Distrik Konda menunjukan bahwa selama pengoperasian alat tangkap gilltong, udang banana (Penaeus merguiensis) dan jenis udang lainnya sama sekali tidak ditemukan. “Jenis ikan yang tertangkap selama 9 metode yaitu 10,2% jenis ikan tiga wajah (Johnius dussumieri), 9,5% ikan lidah (Cynoglossus lingua), 10,1% ikan sembilang (Netuma thalassima), 2% Ikan layur (Trichiurus savala), 7,5% ikan selanget (Dorosoma chacunda), 9,8% ikan tembang (Sardinella fimbriata), dan 4% ikan beloso (Saurida undosquamis),” jelas Juli Adha mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, salah satu peneliti alat tangkap gilltong.

Selain itu, Christian mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, sebagai salah satu dari peneliti gilltong dari aspek analisa usaha, menambahkan bahwa “biaya operasional trammel net lebih rendah dibandingkan gilltong” sehingga lebih menguntungkan trammel net, namun dari aspek efektivitas lebih efektif untuk mengurangi tangkapan sampingan. Kendala dan faktor-faktor yang mempengaruhi alat tangkap gilltong sehingga hasil tangkapan kurang maksimal, diantaranya yaitu daya mesin kapal tidak memadai sehingga sapuan gilltong belum maksimal, arus dasar perairan yang cukup deras karena dioperasikan di depan muara, dasar perairan berbatu dan kayu di dasar perairan menambah beban sapuan jaring dan menghambat proses penangkapan. Selain itu, Juli Adha menegaskan bahwa kendala utama yang didapatkan yaitu banyaknya sampah plastik di dasar perairan yang terjaring.

Walaupun dalam tahapan uji coba ini belum cukup mendekati harapan, PT. IMPD masih terus berupaya melakukan inovasi alat tangkap yang ramah lingkungan untuk mengurangi tertangkapnya biota laut yang dilindungi dan terancam punah di perairan sekaligus bisa mengurangi kebutuhan biaya modal untuk operasional alat tangkap. Diperlukan upaya-upaya yang cukup progresif untuk mengakselarasi proses implementasi FIP dalam mengurangi tangkapan sampingan hewan laut dilindungi dan terancam punah, misalnya:

  1. Ukuran kapal dan daya mesin kapal belum memadai, menyebabkan pengoperasian alat tangkap gilltong belum optimal. Maka diperlukan uji coba lanjutan dengan menggunkan kapal yang ukurannya berkapasitas > 5 GT dengan daya mesin ± 120 PS (kecepatan operasional >2,5 knot) agar teknik pengoperasiannya optimal.
  2. Selain mengangkat bycatch yang terjaring di alat tangkap, juga banyak mengangkat sampah plastik. Oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi intensif kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sorong Selatan tentang dampak dari sampah terhadap lingkungan dan terutama pada proses penangkapan.

Cerita Terkini

Untuk Garda Terdepan Konservasi yang Lebih Baik

WWF-Indonesia menyelenggarakan  pelatihan dan  pembekalan bagi volunteer dan fundraiser pada Rabu, 19 Ju...

Panda Mobile dan Seafood Savers Memperingati Hari Ikan Nasional di Man

Oleh: Dwi Widya MutiaraPanda Mobile dan Seafood Savers WWF-Indonesia mendatangi sejumlah sekolah di Manado dan Tom...

Bergerak, Kurangi dan Atasi Timbulan Sampah Plastik

Seiring bertambahnya populasi penduduk, maka konsumsi berlebihan terhadap penggunaan plastik juga turut meningkat....

Get the latest conservation news with email