Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Dicky P. Herdianto

.



PRESS RELEASE

Teknik Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Posted on 22 October 2021
Author by -

SURABAYA, 22 Oktober 2021 – Bertempat di Hotel Singgasana, Dukuh Pakis, Surabaya, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga bekerja sama dengan Yayasan WWF Indonesia, melaksanakan kegiatan Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar. Kegiatan yang dilakukan pada 21-22 Oktober 2021 ini, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kemampuan peserta sebagai First Responder dalam penanganan dan memberikan pertolongan pertama pada kejadian mamalia laut terdampar.

Sejak tahun 2013 hingga September 2021, terdapat 550 kasus mamalia laut terdampar yang tercatat. Dalam setiap kejadian terdampar, respon cepat dari tenaga medis dan relawan memiliki peran penting yang mempengaruhi tingkat keselamatan (survival rate) satwa. Kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten dalam teknik penanganan, pelepasliaran, hingga aspek medis dalam kejadian mamalia laut terdampar menjadi beberapa alasan yang melatarbelakangi kegiatan pelatihan jejaring First Responder.

 “Sejak tahun 2013 hingga sekarang ini setidaknya terdapat 1.200 orang di berbagai wilayah Indonesia yang telah berkompeten sebagai tenaga First Responder,” jelas Drh. Dwi Suprapti, M.Si selaku salah satu trainer dalam kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan ini penting dilakukan bagi tenaga First Responder karena penanganan yang tidak tepat dapat membahayakan satwa, maupun tenaga First Responder itu sendiri. 

Sebagai pihak pelaksana, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian mamalia laut di Indonesia, yakni dengan berkontribusi secara khusus di bidang kesehatan hewan akuatik. Hal ini disampaikan oleh Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Dr. Mustofa Helmi Effendi, DTAPH., drh dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan pelatihan. “Penanganan mamalia laut yang terdampar sampai sekarang masih menjadi masalah yang sulit teratasi. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan penanganan yang tanggap dan tepat,” tutupnya. 

Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar ini turut dihadiri oleh Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ir. Andi Rusandi, M.Si. “Kejadian mamalia laut terdampar di Indonesia merupakan salah satu isu prioritas bagi kami. Namun, faktor penyebab kejadian terdampar masih belum banyak diketahui. Hal ini penting untuk dipelajari sebagai bahan rekomendasi penanganan dan pengelolaan oleh pemerintah.” Ujarnya dalam sambutan yang disampaikan secara daring. Di samping itu, beliau juga menyampaikan apresiasi bagi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga yang mau berkontribusi dalam penanganan kejadian mamalia laut terdampar di wilayah Jawa Timur. 

Selain melakukan pelatihan bagi masyarakat umum sebagai First Responder, kegiatan ini juga merupakan ajang peningkatan kemampuan dokter hewan sebagai responder medis dalam kejadian mamalia laut terdampar. 

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dipercaya oleh IAM Flying Vet dan Yayasan WWF Indonesia untuk menjadi simpul perpanjangan tangan IAM Flying Vet di wilayah Jawa Timur melalui penetapannya sebagai komisariat yang disahkan dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) dari IAM Flying Vet kepada Drh. Djoko Legowo, M.Kes, selaku ketua pelaksana kegiatan sekaligus Dosen Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga yang menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, keterlibatan dalam First Responder merupakan kerja besar untuk melengkapi data bio-surveillance untuk menentukan tindakan-tindakan lanjutan. Indonesian Aquatic Megafauna (IAM Flying Vet) adalah sebuah asosiasi dokter hewan yang memiliki fokus pada penanganan kejadian mamalia terdampar, khususnya dari aspek medis.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso yang juga menyambut baik program pelatihan ini. Sebagai salah satu daerah dengan intensitas kejadian mamalia laut terdampar di Indonesia yang cukup tinggi, Jawa Timur yang masih termasuk dalam wilayah kerja BPSPL Denpasar menjadi lokasi yang tepat untuk pemilihan komisariat IAM Flying Vet. Menurutnya, tidak semua orang paham apa yang harus dilakukan di lokasi saat ada kejadian terdampar. Kesalahan penanganan justru akan mengakibatkan kematian atau bahkan penularan penyakit mamalia laut tersebut kepada masyarakat di sekitarnya. “Fenomena mamalia laut terdampar erat hubungannya dengan kondisi kesehatan laut Indonesia. Dengan mengetahui penyebab kejadian terdampar, diharapkan kita dapat semakin bisa merumuskan berbagai cara pencegahan dan penanggulangannya,” tambahnya. 

Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari yakni tanggal 21 dan 22 Oktober 2021 ini diikuti oleh berbagai pihak; seperti Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar - satuan kerja Jawa Timur, Dinas Kelautan dan Propinsi Jawa Timur, Dinas PU dan Bina Marga Jawa Timur, Basarnas Propinsi Jawa Timur, BPBD Jawa Timur, BKIPM Surabaya II tanjong Perak, PSDKP Satwas Surabaya, BKSDA Jawa Timur, Polairud Daerah Jawa Timur, Perhimpunan Dokter Hewan (PDHI) Jawa Timur 1, serta sejumlah mahasiswa dari FKH Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Kristen Wijaya Kusuma.

Pada hari pertama, pelatihan berfokus pada pemberian materi mengenai pengenalan kejadian mamalia laut terdampar, teknik penanganan, identifikasi jenis mamalia laut, regulasi konservasi mamalia laut, hingga pemaparan aspek medis dan investigasi penyebab kejadian terdampar. Sedangkan pada hari kedua, pelatihan ini fokus pada praktik pengumpulan data dan pengambilan dokumentasi, simulasi dari kejadian terdampar (kondisi mati, hidup, terperangkap jaring), dan diakhiri dengan diskusi pembentukan First Responder yang akan berhubungan langsung dengan jejaring lainnya di seluruh Indonesia.

Dengan adanya pelatihan ini Dwi Suprapti berharap agar kapasitas dan kemampuan para First Responder serta kesadartahuan masyarakat terkait pentingnya pelaporan dan penanganan mamalia laut terdampar di Indonesia terus meningkat, sehingga mamalia-mamalia laut yang statusnya dilindungi ini dapat memiliki kesempatan hidup atau survival rate yang lebih tinggi. Hal ini juga didukung oleh Direktur Program Kelautan dan Perikanan 

Yayasan WWF Indonesia, Dr. Imam Musthofa Zainudin yang menyatakan bahwa “Kelestarian populasi mamalia laut memiliki hubungan dengan berbagai aspek, salah satunya adalah perikanan tangkap. Upaya pelestarian mamalia laut juga berarti menjaga kelangsungan perikanan dan perekonomian masyarakat pesisir. 

Kerja sama dalam bentuk pelatihan First Responder penanganan mamalia terdampar dan penetepan komisariat IAM Flying Vet ini diharapkan dapat menjadi batu loncatan bagi upaya menjaga kelestarian mamalia laut dan keseimbangan ekosistem di laut."

--- SELESAI ---

Informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

  1. Permana Yudiarso, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar | 0812-928-6254
  2. drh. Bilqist Ari Putra M.Si, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga | 0813-3098-8664
  3. Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & Public Relations Team, Yayasan WWF Indonesia | Email: [email protected] | 0852-181-616-83

Cerita Terkini

PT MRT Jakarta dan WWF-Indonesia Jalin Kemitraan Ajak Masyarakat Berg

Jakarta, 20 September 2019 – PT. Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) dan Yayasan WWF-Indonesia (WWF-Indo...

CEO WWF-Indonesia Menjadi Pimpinan Inisiatif Global di Asia Pasifik

WWF-Indonesia Antusias Atas Penunjukan Rizal Malik sebagai Pimpinan Inisiatif Global “New Deal for Nature dan Pe...

Dugong

Duyung atau Dugong (Dugong dugon), adalah salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-...

Get the latest conservation news with email