Kembali

© Yayasan WWF Indonesia/Nouval Isnin Akbari

Pantai peneluran penyu di Paloh.



Heaven on the Kalimantan’s Tail

Posted on 11 January 2021
Author by Hendro Susanto & Agri Aditya Fisesa

The Paloh coast is not only home to four of the six turtle species found in Indonesia, it’s also home to several protected aquatic and terrestrial species. The 102.56 kilometers long coastline that stretches from Kalimantan Village to Temajuk Village, around 63 kilometers are the turtle nesting beaches. However, only around 10 kilometers area are protected. Other areas are still unprotected and vulnerable to be damaged caused by human. 

Located in the northernmost coast of West Kalimantan, this paradise is called Paloh District, which is geographically directly adjacent to neighboring Malaysia. A sub-district under the Regional Government of Sambas Regency, with the longest spawning beach and one of the 12 major nesting beaches in Indonesia. The annual average of more than 3,700 landed turtles (2009-2019), with nearly half of them performing their nesting rituals. This number is the second largest contributor to the Green Turtle population in the coastline of Peninsula Malaysia to the Sulu Sulawesi Ocean.

Pantai Peneluran Penyu Paloh (Paloh Turtle Hatchery Beach) is divided into 3 beach segments, namely Tanjung Belimbing Nature Park (a conservation area under the management unit of the West Kalimantan BKSDA), Sebubus Village Beach and Temajuk Village Beach. There are approximately 19.3 kilometers which are the hotspot areas or locations with the highest number of landings, from Sungai Mutusan Beach to Sungai Ubah Beach.

Every year 3 types of turtles, namely the Green Turtle (Chelonia mydas), Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata) and Olive Ridley Sea Turtle (Lepidochelys olivacea) are found landing on the Paloh coast to lay their eggs. Meanwhile, leatherback turtles (Dermochelys coriacea) have been found stranded dead and caught accidentally by fishermen (bycatch) in Paloh waters. The peak spawning season occurs between May and October, which is dominated by Green Turtles by 98%.

Based on the results of preliminary studies in 2009-2010, almost 100% of turtle eggs were the target of hunting. For the waters alone, preliminary data from a 2012 bycatch study showed that more than 500 turtles were caught accidentally by fishing nets.

Apart from being a nesting beach, along the Paloh coast has high biodiversity with various key species that play an important role in the ecosystem, such as proboscis monkey (Nasalis larvatus), Saltwater crocodile (Crocodylus porosus), Finless Porpoise (Neophocaena phocaenoides), Humpback Dolphin (Sousa chinensis), Horseshoe crabs (Tachypleus gigas), Hornbills (Bucerotidae), etc.

In 2012, the tourism in Paloh Subdistrict began to grow along with the opening of road access from Sebubus village to the northernmost village, Temajuk village. In fact, in 2016 the Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia designated Temajuk Village as the National Tourism Strategic Area (KSPN) Sambas Regency. Some of the tourist attractions are watching turtles lay eggs, releasing hatchlings, planting trees, traversing mangrove habitat rivers, bird watching, proboscis monkeys watching, border touring, hiking, etc.

Nevertheless, development always brings both positive and negative impacts. After land access was opened, people flocked to open coastal forests on a large scale, land conversion through slash and burned that damaged the nesting beach ecosystem. Open access to the beach also resulted in the difficulty of monitoring sea turtle protection. Because of increased community activity around the coast, it is getting more difficult to attract turtles to lay their eggs in several hotspots. 

This paradise is slowly starting to lose its beauty and threatens the turtle nesting activity. Without any effort to protect the area, Paloh turtles face various pressures from both land and water.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

SURGA DI EKOR KALIMANTAN

Pesisir Paloh bukan hanya rumah bagi empat dari enam jenis penyu yang dapat dijumpai di Indonesia, namun juga rumah bagi beberapa spesies perairan dan darat yang dilindungi. Garis pantai sepanjang 102,56 kilometer yang membentang dari Desa Kalimantan hingga Desa Temajuk, terdapat 63 kilometer yang menjadi pantai peneluran penyu. Namun, hanya  sekitar 10 kilometer yang sudah berstatus lindung. Sisanya masih menunggu penetapan sambil bertahan menahan laju kerusakan akibat tangan manusia.

Terletak paling utara dipesisir Kalimantan Barat, surga tersebut bernama Kecamatan Paloh yang secara geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Sebuah kecamatan dibawah Pemerintah Daerah Kabupaten Sambas, merupakan pantai peneluran terpanjang dan termasuk dalam 12 pantai peneluran mayor di Indonesia. Rata-rata pertahun lebih dari 3.700 (data tahun 2009-2019) ekor penyu yang mendarat, dengan hampir setengahnya melakukan ritual peneluran. Jumlah tersebut sebagai penyumbang populasi Penyu Hijau terbesar kedua dalam jajaran pantai Peninsula Malaysia hingga lautan Sulu Sulawesi.

Pantai Peneluran Penyu Paloh terbagi menjadi 3 segmen pantai, yaitu Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing (kawasan konservasi dibawah unit kelola BKSDA Kalbar), Pantai Desa Sebubus dan Pantai Desa Temajuk. Terdapat kurang lebih 19,3 kilometer yang menjadi hotspot area atau lokasi dengan jumlah pendaratan tertinggi, dari Pantai Sungai Mutusan hingga Pantai Sungai Ubah. 

Setiap tahunnya 3 jenis penyu, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dijumpai mendarat di pesisir Paloh untuk bertelur. Sedangkan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) pernah dijumpai terdampar dalam keadaan mati serta tertangkap tidak sengaja oleh nelayan (bycatch) di perairan Paloh. Musim puncak peneluran terjadi antara bulan Mei hingga Oktober yang didominasi oleh Penyu Hijau sebesar 98%. 

Hasil studi awal pada tahun 2009-2010, hampir 100% telur penyu menjadi target perburuan. Untuk di perairan sendiri, data awal studi bycatch tahun 2012 menunjukkan lebih dari 500 ekor penyu tertangkap tidak sengaja oleh jaring nelayan. 

Selain sebagai pantai peneluran, sepanjang pesisir Paloh memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan berbagai spesies kunci yang berperan penting dalam ekosistem, seperti Bekantan (Nasalis larvatus), Buaya Muara (Crocodylus porosus), Porpoise Tak Bersirip (Neophocaena phocaenoides), Lumba-Lumba Punggung Bungkuk (Sousa chinensis), Ketam Tapak Kuda (Tachypleus gigas), Enggang (Bucerotidae), dan lain sebagainya.

Tahun 2012, geliat pariwisata di Kecamatan Paloh mulai tumbuh seiring terbukanya akses jalan dari Desa Sebubus menuju desa paling utara, Desa Temajuk. Bahkan pada tahun 2016 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menetapkan Desa Temajuk menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Kabupaten Sambas. Beberapa atraksi wisata yang dapat dilakukan di kawasan tersebut adalah aktivitas melihat penyu bertelur, melepas tukik, penanaman pohon, susur sungai habitat mangrove, bird watching, melihat Bekantan, wisata perbatasan, hiking, dan lain sebagainya.

Namun, pembangunan selalu membawa dampak, baik positif maupun dampak negatif. Pasca terbukanya akses darat, masyarakat berbondong-bondong membuka hutan pantai secara besar-besaran, serta pembakaran lahan untuk dijadikan kepemilikan, dan akhirnya turut menyumbang kerusakan pada ekosistem pantai peneluran. Terbuka akses menuju pantai juga berdampak pada semakin sulitnya pengawasan perlindungan penyu. Akibat dari meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar pesisir pantai, menjadikan beberapa titik di wilayah hotspot area sudah mulai enggan didarati penyu untuk bertelur.

Surga tersebut perlahan-lahan mulai menghilang keindahannya, dan mengancam aktivitas peneluran penyu. Tanpa adanya upaya peningkatan status kawasan menjadi kawasan lindung, penyu Paloh menghadapi berbagai tekanan baik dari daratan maupun perairan.


Cerita Terkini

Kolaborasi dalam Survei Gajah Borneo

Pada akhir Januari 2019 anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah perbatasan Kalimantan Utara telah memb...

Aksi Nyata Hari Sungai Nasional dengan Kegiatan Mulung Ciliwung

WWF-Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di Sungai Ciliwung. Kegiatan Mulung Ciliwung kemba...

Agus Jaenudin

Email : [email protected] Jaenudin merupakan Fisheries Bycatch Officer, WWF-Indonesia dan b...

Get the latest conservation news with email