Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Denys Wakum

.



Si Hijau dari Papua

Posted on 02 September 2021
Author by Ade Sangadji

Chondropython viridis atau yang oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature/lembaga internasional untuk konservasi alam) menyebutnya Morelia viridis, menjadi ular sanca buruan dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Burhan Tjaturadi, ahli herpetofauna Indonesia menyebutkan ular ukuran kecil biasanya diburu untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Ular yang masih muda/kecil mempunyai warna yang lebih bervariasi mulai dari kuning terang, coklat keputihan, coklat kemerahan, dan bahkan merah, namun setelah dewasa akan berubah menjadi hijau cerah lengkap dengan titik-titik putihnya. Lebih jauh Burhan mengungkap bahwa status perlindungan menyebabkan jenis ini lebih diburu karena dianggap mempunyai nilai lebih karena dilindungi.

Pada beberapa wilayah di luar Papua, jenis ini mulai ditangkarkan. Namun menurut informasi yang ditulis Lyons dan Natusch dalam jurnalnya dalam Biological Conservation dengan judul Wildlife laundering through breeding farms: Illegal harvest, population declines and a means of regulating the trade of green pythons (Morelia viridis) from Indonesia yang dipublikasikan pada bulan Desember 2011, menyatakan  dari 5.337 ular yang dikumpulkan setiap tahun untuk diperdagangkan, setidaknya 80% ditangkap secara illegal. Sementara belum ada jumlah pasti terkait populasinya di alam. Maraknya perburuan juga kerusakan habitat berpotensi menurunkan populasi ular ini. Menurut Burhan, walaupun ular sanca hijau dapat hidup di habitat yang rusak, namun kerusakan habitat yang parah akan berpengaruh terhadap kelestarian jenis ini, karena di habitat yang rusak akan lebih susah mencari pakannya.

Masih menurut Burhan, spesies ini menyebar di seluruh New Guinea (Papua dan Papua Nugini) kecuali bagian ketinggian wilayah Pegunungan Tengah (ketinggian 0-2000 mdpl), serta pulau-pulau sekitar New Guinea (termasuk Kepulauan Aru), serta di bagian Utara Queensland Australia. Pakannya berupa katak, reptil, burung dan mamalia kecil. Ukuran ular tentu saja mempengaruhi jenis pakannya. Sebagaimana jenis ular, sanca hijau merupakan predator tingkat kedua atau ketiga, tapi bukan predator puncak. Untuk itu jenisnya berpangaruh dalam menjaga keseimbangan ekosistem. 

Dalam daftar merah IUCN, ular ini masuk dalam klasifikasi Least Concern atau Tingkat Resiko Rendah serta kategori Appendix II Convention International Trade in Endangered Species of Wild Flora dan Fauna (CITES), sebagai spesies yang dapat terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Di Indonesia, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P106 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, sanca hijau termasuk dalam jenis yang dilindungi.

Di wilayah lembah Grime, Kabupaten Jayapura, ular ini dijumpai oleh tim survey ekologi dari Universitas Papua dan Yayasan WWF Indonesia pada bulan Mei lalu di lokasi Hutan Isyo Hills, Kampung Rhepang Muaif. Hutan ini merupakan hutan lahan kering sekunder (Secondary Dryland Forest) dan atau ekosistem hutan tropis dataran rendah.  Hutan tersebut merupakan habitat dari ular sanca ini. Mereka menghabiskan banyak waktu melingkari cabang-cabang pohon berdaun lebat. Meskipun biasanya ditemukan di pohon (arboreal), ular sanca terkadang turun ke tanah untuk mencari mangsa. Menariknya, di hutan Isyo Hills, sanca hijau dijumpai di areal ekowisata. Tetapi menurut Burhan, apabila menjumpainya di hutan, dibiarkan saja karena ular ini tidak menyerang manusia. Perilaku ular atau satwa liar lainnya akan meyerang jika dalam keadaan terdesak / terancam, selain itu lilitan sanca cukup kuat untuk diwaspadai. 

Kawasan hutan Rhepang Muaif khususnya lokasi Isyo Hills oleh beberapa marga dijadikan lokasi ekowisata pengamatan burung cenderawasih sejak tahun 2015 dan dikelola oleh kelompok koperasi Yombe Yawa Datum yang merupakan kelompok dampingan Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Yayasan WWF Indonesia. Kelak, di sela-sela mengamati burung cenderawasih dan burung-burung eksotis Papua lainnya, jangan kaget ya jika bertemu si hijau ini hutan. Biarkan sanca hijau hidup bebas di habitatnya agar populasinya lestari di alam.

Bila Anda menemukan praktik perburuan dan atau perdagangan ilegal sanca hijau, jangan ragu untuk segera melapor ke aparat berwenang. Mari bersama kita hentikan praktik perdagangan ilegal satwa liar dilindungi. Karena satwa liar seharusnya hidup bebas di alam, bukan sebagai hewan peliharaan.


Cerita Terkini

Panduan Produk Berbahan Dasar Kayu

Dalam segala sisi kehidupan, manusia tidak dapat lepas dari manfaat hutan dan hasil hutan berupa kayu. Pemanfaatan...

Stop Perdagangan Satwa Dilindungi, Amankan Keberlanjutan Pangan

Jakarta, 5 November 2018. Mengambil momen Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) para pemangku kepentingan k...

Panda Mobile dan Seafood Savers Memperingati Hari Ikan Nasional di Man

Oleh: Dwi Widya MutiaraPanda Mobile dan Seafood Savers WWF-Indonesia mendatangi sejumlah sekolah di Manado dan Tom...

Get the latest conservation news with email