Kembali

© Elmar Langle via Getty Images

 



Satu dari Lima Orang di Dunia Masih Bergantung pada Spesies Hidupan Liar

Posted on 11 August 2022
Author by Yayasan WWF Indonesia

Miliaran penduduk di seluruh dunia, menggantungkan hidup dari memanfaatkan sumber daya alam dalam bentuk makanan, energi, bahan pakaian, obat-obatan, kebutuhan akan rekreasi, inspirasi dan banyak hal penting lainnya, yang berkontribusi untuk kesejahteraan manusia. Namun krisis keanekaragaman hayati global yang semakin cepat, dengan sejuta spesies tumbuhan dan hewan yang menghadapi kepunahan, secara tidak langsung mengancam kesejahteraan manusia.

Sebuah laporan baru yang diterbitkan oleh Platform Kebijakan-Ilmu Antar Pemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem Services atau The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menawarkan sebuah pengetahuan, analisis, dan alat untuk membangun pemanfaatan alam yang lebih berkelanjutan bagi spesies, tumbuhan, hewan, jamur dan alga di seluruh dunia. Penggunaan berkelanjutan adalah ketika keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem dipertahankan namun tetap dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

Laporan Penilaian IPBES tentang pemanfaatan alam yang berkelanjutan merupakan hasil analisis selama empat tahun dari 85 ahli terkemuka dalam bidang ilmu alam dan sosial, budaya dan adat setempat, serta 200 penulis yang berkontribusi dalam laporan ini dan menggunakan lebih dari 6.200 sumber. Ringkasan Laporan telah disetujui oleh perwakilan dari 139 negara anggota IPBES di Bonn, Jerman pada 8 Juli lalu.

Menurut Dr. Jean- Marc Fromentin yang memimpin asesmen bersama Dr Marla R.Emery beserta  Prof Jonson Donaldson menyampaikan bahwa masyarakat pedesaan di negara berkembang menggunakan lebih dari 10.000 spesies hidupan liar di alam secara langsung untuk bahan makanan karena kurangnya alternatif sumber lain untuk memenuhi kebutuhan. Setidaknya satu dari lima orang di dunia masih menggantukan hidup pada penggunaan sekitar 50.000 spesies hidupan liar di alam lainnya baik spesies hewan dan tumbuhan liar untuk dimanfaatkan melalui berbagai kegiatan. 

Laporan ini mengidentifikasi lima kategori besar 'praktik' dalam pemanfaatan yakni, penangkapan ikan, praktik mengumpulkan, praktik penebangan, pemanenan hewan darat (termasuk perburuan), dan praktik non-ekstraktif atau melakukan pengamatan.

Untuk setiap praktik, peneliti melihat fungsi kegunaan seperti  sebagai bahan makanan dan pakan, dan kebutuhan lain seperti obat-obatan, energi, rekreasi, kebutuhan untuk upacara, pembelajaran dan dekorasi. Selama 20 tahun terakhir, penggunaan hasil alam meningkat, tetapi keberlanjutan pemanfaatannya bervariasi, seperti digunakan untuk bahan obat-obatan, dan penebangan pohon sebagai sumber energi.

Kelangsungan hidup sekitar 12% spesies pohon liar terancam oleh penebangan yang tidak berkelanjutan; kemudian penggunaan yang tidak berkelanjutan juga salah satu ancaman utama bagi beberapa kelompok tumbuhan terutama kaktus, sikas dan anggrek, dan perburuan yang tidak berkelanjutan telah diidentifikasi sebagai ancaman bagi 1.341 hewan liar khususnya spesies mamalia – yang memiliki spesifikasi bertubuh besar dan memiliki laju perkembangbiakan yang rendah, di samping itu, tekanan akan perburuan pun meningkat.

Pada laporan ini juga mengidentifikasi pemicu seperti perubahan bentang alam dan laut; perubahan iklim; polusi dan spesies asing invasif yang berdampak pada kelimpahan dan distribusi spesies tertentu di alam sehingga dapat meningkatkan stress dan tantangan baru bagi masyarakat sekitar yang memanfaatkannya. Selama empat dekade, perdagangan ilegal akan spesies di alam pun meningkat secara substansial dalam cakupan volume, nilai, dan jaringan.

Sebagai bagian dari analisisnya, laporan ini mengeksplorasi kebijakan dan alat yang telah digunakan dalam berbagai konteks yang berkaitan dengan pemanfaatan berkelanjutan spesies di alam. Tujuh elemen kunci yang disajikan dapat digunakan sebagai pendongkrak perubahan dalam mempromosikan penggunaan hasil alam secara berkelanjutan untuk ditingkatkan pada seluruh praktik, wilayah, dan sektor:

  1. Pilihan kebijakan yang inklusif dan partisipatif
  2. Pilihan kebijakan yang mengakui dan mendukung berbagai bentuk pengetahuan
  3. Instrumen dan alat kebijakan yang memastikan distribusi biaya dan manfaat yang adil dan merata
  4. Konteks kebijakan khusus
  5. Pemantauan spesies dan praktik ilegal
  6. Instrumen kebijakan yang selaras di tingkat internasional, nasional, regional, dan lokal untuk menjaga koherensi dan konsistensi dengan kewajiban internasional dan mempertimbangkan aturan dan norma adat
  7. Kelembagaan yang kuat, termasuk lembaga adat. Dan masyarakat adat mengelola penangkapan ikan, pengumpulan, pemanenan hewan darat dan penggunaan spesies liar lainnya di lebih dari 38 juta km2 lahan, setara dengan sekitar 40% dari kawasan konservasi terestrial, di 87 negara. 

Kesimpulan dari laporan ini adalah memeriksa berbagai kemungkinan skenario masa depan untuk pemanfaatan spesies di alam, menegaskan bahwa karena perubahan iklim, meningkatkan akan permintaan dalam inovasi teknologi yang dapat menunjang praktik ekstraktif menjadi lebih efisien, dan kemungkinannya akan menghadirkan tantangan yang signifikan untuk penggunaan yang berkelanjutan di masa depan. Untuk itu, perlu adanya identifikasi pada setiap praktik yang akan membantu dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut. 

Pada sektor perikanan, hal ini akan mencakup memperbaiki ketidakefisienan saat ini; mengurangipenangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur; menekan subsidi keuangan yang berbahaya; mendukung perikanan skala kecil; beradaptasi dengan perubahan produktivitas laut karena perubahan  iklim; dan secara proaktif menciptakan lembaga lintas batas yang efektif. 

Di sektor kehutanan, diperlukan pengelolaan dan sertifikasi hutan untuk berbagai penggunaan; inovasi teknologi untuk mengurangi limbah dalam pembuatan produk kayu; dan inisiatif ekonomi dan politik yangmengakui hak-hak masyarakat adat dan masyarakat lokal, termasuk penguasaan tanah. 

Dalam sebagian besar skenario masa depan yang memungkinkan pemanfaatan spesies di alam secara berkelanjutan, penulis menemukan bahwa perubahan transformatif memiliki karakteristik yang sama seperti integrasi sistem secara global; distribusi biaya dan manfaat yang adil; perubahan nilai sosial, norma budaya dan preferensi; dan institusi serta sistem pemerintahan yang efektif. Tujuan ambisius dianggap perlu tetapi tidak cukup untuk mendorong perubahan transformatif. 

Menurut laporan ini, ada 4 dari 9 halaman yang mengatakan bahwa bahwa pemanfaatan spesies liar di alam secara berkelanjutan membutuhkan negosiasi dan manajemen adaptif. Ini juga membutuhkan visi bersama tentang penggunaan yang berkelanjutan dan perubahan transformatif dalam hubungan manusia-alam.

Laporan IPBES ini dapat menjadi data dasar negara-neraga maju dan berkembang untuk mengeluarkan kebijakan yang pro lingkungan dan juga bekerja lebih keras dalam melindungi keanekaragaman hayati. Sebab, ini menjadi peletak dasar bagi kelangsungan hidup masyarakatnya. 

Temukan informasi lebih lengkap di Laporan IPBES pada tautan berikut: https://ipbes.net/media_release/Sustainable_Use_Assessment_Published


Cerita Terkini

WWF dan James Cook University Luncurkan Pedoman Praktik Perancangan da

Jumlah hiu dan pari menurun secara global, dan sejak 2014, seperempatnya berstatus terancam punah dan sebagian bes...

Jalan Panjang Menuju KKPD Paloh: Upaya Konservasi dan Inisiatif Perlin

Yayasan WWF Indonesia sejak April 2009 merintis program konservasi di Kecamatan Paloh, ditandai dengan pelaksanaan...

Belajar ESD di Tengah Dinginnya Sarongge

Sembilan kota, berbagai komunitas bertemu di satu tempat dengan membawa satu visi yang sama. Saung Sarongge, Kabup...

Get the latest conservation news with email