Kembali

© WWF-Indonesia/Idham Malik

Kegiatan rehabilitasi mangrove di pesisir Sulawesi Selatan.



Rehabilitasi Mangrove dan Penguatan Jejaring Komunitas

Posted by Nur Arinta on 17 April 2020
Author by Idham Malik

Pada Februari 2020, Program Akuakultur WWF-Indonesia melakukan rangkaian kegiatan rehabilitasi mangrove di pesisir Sulawesi Selatan. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan dilakukan secara berantai di tiga tempat, yaitu penanaman 5000 bibit mangrove di pesisir Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar, penanaman 10.000 bibit di pesisir Desa Lembang Lohe, Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba, dan penanaman 10.000 bibit mangrove di Kawasan Wisata Mangrove Balang Baru, Kec. Tarowang, Kab. Jeneponto. Kegiatan ini melibatkan beragam komunitas serta instansi wisata mangrove, dalam hal ini Aquaculture Celebes Community (ACC), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) puntondo, Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Selaras (KOMPAS), Mahasiswa pecinta Alam dan Kebudayaan Kajang (MAPASKA), serta Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan. WWF-Indonesia bersama komunitas tersebut bahu-membahu dalam meBolaksanakan kegiatan rehabilitasi, yang dimulai dari rapat, pendidikan lingkungan, pelaksanaan pembibitan secara mandiri oleh komunitas, serta bersama-sama mengajak masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan penanaman mangrove.

 Sejak pertama kali digulirkan pada Juli 2017 lalu dengan penanaman 200 bibit mangrove, kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung Aquaculture Improvement Programme (AIP) PT. Bogatama Marinusa (Bomar) ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Tercatat hingga Februari 2020, telah dilakukan penanaman mangrove sebanyak 127.685 pohon dengan rerata kemungkinan hidup sebesar tujuh puluh (70) persen.  Adapun luasan area yang telah ditanami adalah 19 hektar, dan tersebar di beberapa Kabupaten, yaitu Pinrang, Pangkep, Maros, Makassar, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, hingga Polewali Mandar.

Secara umum terdapat tiga perkembangan positif terkait kegiatan penanaman mangrove ini. Pertama, adalah adanya kestabilan kondisi pada mangrove yang telah ditanam sejak tahun 2017 dan untuk meningkatkan kepadatan serta luasan ekosistem mangrove. Penambahan bibit mangrove dilakukan beberapa kali di berbagai lokasi seperti Pallameang, Tasiwalie dan Tanroe Pinrang, Dusun Puntondo Takalar, Binasangkara Maros. Serta pemantauan secara berkala di Bulu Cindea dan Tekolabbua Pangkep.  

Kedua, adalah terbangunnya kesadaran berbagai komunitas pemuda mengenai pentingnya penanaman mangrove melalui pendidikan rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan seiring dengan kegiatan penanaman. Bahkan pada Maret 2020 ini, tercatat tiga komunitas pemuda mengajukan tawaran untuk melaksanakan penanaman mangrove di tiga tempat berbeda yakni Kab. Talakar, Sinjai, dan Maros. 

Ketiga, perkembangan yang tidak kalah penting adalah munculnya perhatian dari pihak pemerintah Provinsi Sulsel maupun pemerintah di level kabupaten di Sulawesi Selatan. Seperti yang ditunjukkan oleh Pemda Bulukumba, saat kegiatan penanaman mangrove tanggal 26 Januari 2020 di Kawasan Wisata Luppung, Bulukumba. Selain itu, Perhatian Pemerintah daerah juga bisa dilihat pada penanaman mangrove di Desa Balang Baru, Kec. Tarowang, Kab. Jeneponto. Tidak hanya Kepala Desa dan Kepala Camat saja yang menghadiri penaman mangrove, bahkan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, juga ikut menghadiri acara ini. Ia bahkan menyatakan rencananya untuk melakukan rehabilitasi mangrove pada lokasi-lokasi yang rentan bencana.

Peningkatan perhatian berbagai pihak ini menjadi indikasi peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya rehabilitasi mangrove. Sehingga, target WWF-ID untuk rehabilitasi mangrove seluas 28 hektar yang didukung oleh WWF-Jepang serta penanggaran dari JCCU (Japanese Consumers Co-operative Union) yang merupakan perusahaan penyedia udang olahan bagi masyarakat Jepang, kemungkinan dapat dicapai dalam jangka waktu singkat.

Jika perawatan mangrove ke depan berlangsung lancar, berarti beberapa tahun ke depan, di Sulawesi Selatan akan terjadi penambahan luas areal yang menjadi hutan/ekosistem mangrove. Hal ini tentu berdampak bagi peningkatan kualitas air perairan umum, dan sekaligus juga  mempengaruhi kualitas air yang akan masuk ke dalam tambak-tambak tradisional. Selain itu, hutan mangrove dapat menyumbangkan nutrien bagi kehidupan di laut, sehingga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati pada ekosistem pesisir dan laut. Mangrove pun akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, sebab mangrove dapat mencegah terjadinya salinasi perairan tawar, serta menghasilkan oksigen yang baik serta dapat menyerap karbon lebih banyak. Selain itu, begitu banyak manfaat mangrove yang lain, seperti sebagai sumber pendapatan masyarakat pencari kepiting, nelayan penangkap ikan, serta warga yang ingin menikmati pemandangan wisata mangrove.


Cerita Terkini

WWF-Indonesia dan FWD Life dalam Merestorasi Lahan di Indonesia

FWD Life mendorong nasabah untuk memilih e-Policy serta turut mendukung para pegiat konservasi di Kalimantan &...

Produk Udang Vaname Indonesia Raih Sertifikasi Ekolabel

Jakarta, Februari 2019 – WWF-Indonesia memberikan apresiasi tinggi kepada PT Mega Marine Prideyang berhasil mera...

Community

...

Get the latest conservation news with email