Kembali

© Yayasan Konservasi RASI

.



PINGER KECIL SI PENYELAMAT PESUT

Posted on 25 October 2021
Author by Jelfi dan Dewi Ryanti

Pesut atau dikenal sebagai lumba-lumba air tawar, adalah genus (marga) mamalia air yang hingga saat ini tercatat dapat ditemukan di 15 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai mamalia, pesut melahirkan dan menyusui anaknya, serta bernapas dengan paru-paru. Pesut juga memiliki sirip ekor vertikal yang membedakannya dengan lumba-lumba dan paus. Di seluruh dunia, kini hanya tersisa 6 spesies lumba-lumba air tawar, tersebar di Sungai Amazon dan Orinoco di Amerika Utara, Sungai Indus dan Gangga di India, Sungai Irrawaddy di Myanmar, Sungai Mekong di Kamboja dan Laos, serta di Sungai Mahakam di Indonesia. 

Keenam spesies lumba-lumba sungai secara global kini tengah menghadapi penurunan populasi, dan masuk daftar IUCN  Red List  sebagai satwa yang terancam punah. Berbagai ancaman yang membahayakan populasi pesut diantaranya adalah praktik perikanan yang tidak berkelanjutan, proyek infrastruktur yang mengancam konektivitas habitat pesut, dan juga pertambangan, pertanian dan perindustrian yang dapat mengakibatnya berkurangnya kualitas air. Namun demikian, ancaman terbesar yang dihadapi pesut adalah insiden tersangkut di jaring nelayan sebagai tangkapan sampingan atau bycatch

Di Indonesia, lumba-lumba air tawar kerap disebut sebagai pesut Mahakam, karena pertama kali ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Berdasarkan data yang dililis oleh Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), populasi pesut Mahakam saat ini hanya tersisa 80 individu. Setiap tahun diperkirakan ada 5 hingga 7 individu pesut Mahakam lahir dan mati dengan kisaran jumlah yang sama. Hal yang cukup memprihatinkan adalah sekitar dua pertiga penyebab kematian pesut, diakibatkan  oleh insiden tersangkut pada jaring nelayan saat menangkap ikan. Kondisi ini tentunya sangat merugikan kelestarian pesut Mahakam.

Berbagai upaya untuk mencegah terjadinya bycatch terhadap pesut Mahakam pun dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah inisiasi yang dilakukan oleh  Yayasan Konservasi RASI, dengan memperkenalkan penggunaan pinger untuk mencegah pesut terjerat jaring ikan. Electronic pingers atau disebut Pinger, adalah perangkat elektronik kecil yang dapat mengeluarkan suara yang mengganggu, yang dipasang di jaring nelayan sehingga mencegah pesut untuk mendekat. Pemasangan pinger di jaring ikan,  akan menbuat pesut menghindar dan menjaga jarak hingga 10-20 meter dari posisi jaring. Pinger terbukti dapat mencegah pesut terjerat jaring, namun masih memungkinkan pesut untuk berenang dan menangkap ikan di sekitarnya. 

Pemasangan pinger ini dilakukan melalui kolaborasi bersama masyarakat nelayan di sungai Mahakam, dan menjadi sebuah langkah win-win solution bagi populasi lumba-lumba sungai juga bagi komunitas masyarakat nelayan di Mahakam. Selain mencegah tertangkapnya pesut, pemasangan pinger juga mengurangi kerugian nelayan atas kerusakan jaring karena bycatch pesut, dan meningkatkan jumlah hasil tangkapan harian nelayan hingga 40 persen.(Yayasan RASI - https://www.ykrasi.org/activities/habitat-protection-1/

Keberhasilan pemasangan pinger di Sungai Mahakam, menunjukan bahwa inisiatif ini perlu dikembangkan untuk membantu upaya perlindungan lumba-lumba sungai yang terancam punah lainnya di seluruh dunia. Bila tertarik mengetahui lebih banyak tentang river dolphin dan bagaimana bisa membantu nelayan di Sungai Mahakam, kunjungi: https://crowdfunding.wnf.nl/.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

LITTLE PINGER THE SAVIOR OF RIVER DOLPHINS

Pesut, wildly known as river dolphins, belong to the genus of aquatic mammals that have been recorded to be found in 15 countries around the world, including Indonesia. As mammals, pesut give birth and suckle their young, as well as breathe with lungs. Pesut also has a vertical tail fin which distinguishes it from dolphins and whales. Nowadays, there are only 6 species of river dolphins in the world, spread out in the Amazon and Orinoco Rivers in North America, the Indus and Ganges Rivers in India, the Irrawaddy River in Myanmar, the Mekong River in Cambodia and Laos, and the Mahakam River in Indonesia. 

Six species of river dolphin found in the world are currently facing population decline and are listed as critically endangered on the IUCN Red List. Various threats that endanger river dolphins’ population include unsustainable fishing practices, infrastructure projects that threaten the connectivity of pesut habitats, mining, agriculture, and industry which can result in water quality reduction. However, the biggest threat faced by river dolphins is incidents of getting caught in fishing nets as bycatch.

In Indonesia, the river dolphin is popularly known as pesut Mahakam, since it was first discovered in the Mahakam River, East Kalimantan. Based on data released by the Rare Aquatic Species Conservation Foundation of Indonesia (RASI), pesut Mahakam population currently only has 80 individuals left. Every year it is estimated that 5 to 7 pesut Mahakam are born and die around the same number. Unfortunately, about two-thirds of the causes of pesut death are caused by incidents of getting caught in fishing nets while catching fish. This condition is certainly very disadvantageous to pesut Mahakam sustainability. 

Various efforts to prevent pesut Mahakam bycatch have been carried out by numerous parties. One of them is the initiation carried out by the RASI Conservation Foundation, by introducing the use of pingers to prevent rive dolphins from being entangled in fishing nets. Electronic pingers, also known as Pingers, are small electronic devices that can emit a disturbing sound, which are attached to fishing nets to prevent pesut from approaching. Installing a pinger in a fishing net will make pesut avoid and maintain a distance of up to 10-20 meters from the net position. Pinger has been shown to prevent river dolphins from getting entangled in nets, but still allow them to swim and catch fish in the vicinity.

This pingers installation is carried out in collaboration with the fishing community in the Mahakam River and is a win-win solution step for the river dolphin population as well as for the fishing community in the Mahakam. In addition to preventing pesut from being caught, the installation of pingers also reduces fishermen's losses from net damage due to pesut bycatch and increases the daily catch of fishermen by up to 40 percent. (RASI Foundation https://www.ykrasi.org/activities/habitat-protection-1/)

The successful installation of pingers on the Mahakam River shows that this initiative needs to be developed to better protect other endangered river dolphins around the world. If you are interested in understanding more about river dolphins and how you can help fishermen in the Mahakam River, visit: https://crowdfunding.wnf.nl/.


Cerita Terkini

Asap Tak Menghalang Niat Belajar Para Pengajar

Api kebakaran hutan dan lahan masih menyala di sebagian wilayah di Provinsi Riau. Asap semakin tebal hingga membua...

Mangrove Penjaga Masa Depan Habitat Badak Jawa

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) kini hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon. Taman Nasional Ujung Ku...

BEEP - Seri Panduan Praktis Pemasangan Alat Tambat Apung (Mooring Buoy

Luasan Terumbu karang Indonesia mencapai 75.000 km2 yaitu sekitar 12-15% dari luasan terumbu karang dunia. Da...

Get the latest conservation news with email