Kembali

© Yayasan WWF Indonesia/Muhammad Fadli

.



Perjalanan Panjang Rhepang Muaif dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

Posted on 25 May 2021
Author by Wika A. Rumbiak dan Ade Sangadji

Lembah Grime, berada tepat di antara Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi, di Papua. Kawasan ini sangat kaya akan keberagaman hayati, kawasan hutannya merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa, termasuk beraneka rupa jenis burung. Yayasan WWF Indonesia telah bekerja di kawasan ini untuk isu community logging sejak tahun 2007, dan Program kakao organik mulai tahun 2011. Dalam perjalannya Tim Yayasan WWF Indonesia melihat berbagai ancaman telah melanda kawasan ini. Di tahun 2014, selain maraknya illegal logging, di kawasan ini perburuan burung cenderawasih juga merupakan hal yang lumrah. Hal ini dapat terlihat dari begitu mudahnya kita melihat burung Cendrawasih Kecil (Paradisaeidae Minor) diperjual belikan di tepian jalan Jayapura-Sarmi, baik dalam keadaan hidup ataupun mati.

Penggerak Lokal di Rhepang Muaif

Melihat maraknya perburuan cenderawasih untuk dijadikan cinderamata, serta ancaman deforestasi hutan sebagai habitat cenderawasih, memperkuat niat tim WWF untuk mengumpulkan Informasi lebih jauh mengenai kondisi ini. Pada tahun 2015 penelusuran ini kemudian mempertemukan tim Yayasan WWF Indonesia dengan Alex Waisimon. Alex Waisimon adalah warga Kampung Rhepang Muaif, yang terletak di distrik Nimbokrang di Lembah Grime. Ia saat itu tengah merintis sebuah inisiatif untuk mengembangkan ekowisata pengamatan burung di Rhepang Muaif.

Waisimon adalah salah satu marga pemilik hak ulayat dari hutan habitat cenderawasih. Selain Waisimon ada beberapa marga lain yang memiliki hak ulayat yang sama, yaitu marga Demotokai, Wouw, Demonggreng, Kasmando, Kekri, Bano, Tecuari, Wondo, dan Yanteo. Perkenalan tim Yayasan WWF Indonesia dengan Alex Waisimon, kemudian membuka awal baru bagi sebuah upaya bersama perlindungan sumberdaya alam di Rhepang Muaif.

Tahun 2015, Alex Waisimon tengah memulai inisiatifnya untuk mengembangkan wisata pengamatan burung Cendrawasih di Nimbokrang dengan membentuk kelompok Isyo Hill’s Bird Watching. Keinginan ini berawal dari kegusarannya, menyaksikan tanah kelahirannya perlahan-lahan menuju kehancuran. Hutan sebagai identitas penting masyarakat adat terus berkurang akibat pembalakan liar serta perburuan satwa liar, termasuk burung cendrawasih. Ironisnya hal ini banyak dilakukan oleh komunitas marga Waisimon sendiri. Bagi Alex Waisimon pengembangan wisata pengamatan burung berbasis masyarakat adalah salah satu jalan yang paling mungkin untuk bisa menghentikan perusakan hutan, dan menyediakan penghasilan alternatif dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. 

Alex Waisimon ingin mengembalikan pandangan masyarakat akan pentingnya hutan Papua. Hutan yang terjaga mampu menyimpan karbondioksida,  yang dapat membantu mengurangi perubahan iklim. Hutan juga habitat ideal bagi burung dan ratusan spesies lain yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. Hutan membantu menjernihkan air yang diandalkan ratusan suku di Papua untuk bertahan hidup, dan masih banyak lagi.

Setiap hari, Ia menghabiskan banyak waktunya di hutan untuk mengamati perilaku cendrawasih, mencari titik-titik pengamatan, dan menandainya untuk memastikan bahwa burung-burung itu selalu dapat ditemukan untuk bisa diamati sebagai aset wisata. 

Ada banyak tantangan yang dihadapi Alex Waisimon bersama Kelompok Isyo Hill’s Bird Watching untuk mewujudkan mimpi memperbaiki hutan dan lingkungan sekitarnya melalui ekowisata. Batas hak ulayat antar marga yang belum jelas, persoalan kelembagaan serta kapasitas anggota kelompok, tak adanya fasilitas serta infrastruktur seperti penginapan, air bersih, jembatan penghubung ke lokasi, menara pemantau adalah sebagian tantangan yang ia hadapi.


Mewujudkan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat 

Melihat adanya persamaan tujuan untuk mendorong perbaikan lingkungan berbasis masyarakat, Yayasan WWF Indonesia pun mulai berproses bersama Kelompok Isyo Hill’s Bird Watching, dan membantu mengurai berbagai tantangan yang dihadapi bersama banyak pihak lain. Tahun 2016, Yayasan WWF Indonesia sebagai organisasi konservasi yang berbasis keilmuan, bersama masyarakat Rhepang Muaif, bekerja sama dengan Universitas Cenderawasih (UNCEN) melakukan survey keragaman jenis burung di lokasi hutan kampung Rhepang Muaif. 

Survey tersebut mencatat ada 84 jenis burung dari 31 famili, 64 jenis di antarannya memiliki status konservasi tertentu dan tersebar di hutan dataran rendah dengan tipe hutan sekunder hingga hutan primer. Selain itu juga ditemukan adanya sebaran habitat spesies burung cenderawasih di wilayah seluas 19.000 Hektar. Kawasan ini memenuhi dua dari empat kriteria Daerah Penting Burung (DPB), karena ditemukan beberapa spesies terancam punah seperti Casuarius unappendiculatus, Harpyopsis novaeguineae, Goura victoria, Psittaculirostris salvadorii. Selain itu di Rhepang Muaif juga ditemukan Epimachus bruijnii yang berstatus mendekati terancam (near threatened); juga Psittaculirostris salvadorii, jenis burung dengan sebaran terbatas di kawasan hutan dataran rendah bagian utara Papua, sehingga jenis ini dimasukkan sebagai jenis endemik. 

Analisis ODTWA (Objek dan Daya Tarik Wisata Alam) yang dilakukan bersama Universitas Cenderawasih (UNCEN) menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain; Kawasan Rhepang Muaif termasuk dalam kawasan Daerah Burung Endemik Northern Papua Lowland dan memenuhi kriteria sebagai daerah penting bagi burung. Hasil tersebut menunjukan bahwa kawasan Rhepang Muaif memegang peranan penting bagi pelestarian jenis burung di dataran rendah papua bagian utara sehingga perlu didukung sebagai kawasan konservasi dengan mengubah statusnya sebagai menjadi status kawasan suaka alam atau kawasan perlindungan alam. Penentuan status kawasan tersebut perlu juga mempertimbangkan rencana kegiatan wisata alam yang akan dilakukan oleh masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dan berperan aktif dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Kawasan Rhepang Muaif. Pola wisata alam yang tepat untuk dikembangkan di Kawasan Rhepang Muaif adalah wisata alam berbasis masyarakat, yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan masyarakat adat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha wisata alam dan segala keuntungan yang diperoleh.

Yayasan WWF Indonesia mulai mendampingi Kelompok Isyo Hills untuk menyiapkan integrasi dalam program community forestry dan membantu membangun model pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Wisata pengamatan burung pun terus difokuskan sebagai wisata minat khusus dengan pengelolaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip berkelanjutan. Di tingkat tapak pendampingan pada kelompok mulai dilakukan dari persiapan lokasi dan pengumpulan data lapangan, sosial budaya untuk batas-batas wilayah adat, serta penyusunan program dan rencana kerja kelompok. 

Yayasan WWF Indonesia juga menghubungkan kelompok Isyo Hill’s dengan pemerintah daerah Kabupaten Jayapura. Inisiasi ini segera mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten Jayapura. Di tahun yang sama Bupati Kabupaten Jayapura, Matius Awoitauw meninjau langsung kawasan ekowisata di Rhepang Muaif, dan menyaksikan burung-burung cenderawasi di habitat aslinya. Selanjutnya pemda Kabupaten Jayapura pun menjadi katalisator pengembangan program Ekowisata. 

Dukungan bagi Isyo Hill’s

Lambat laun kegiatan Ekowisata bird watching di Isyo Hill pun mulai dikenal dunia. Saat semakin banyak tamu berkunjung dan menghidupkan perekonomian kampung, maka makin banyak orang tertarik untuk beralih untuk mendukung Kelompok  Isyo Hill’s Bird Watching ikut menjaga hutan. Melansir Mongabay, pada Agustus 2016, masyarakat dari 10 suku di Rhepang Muaif bersepakat menyerahkan lahan seluas 98.000 hektar untuk jadi hutan lindung dan kawasan ekowisata. Sepuluh suku itu termasuk suku Waisimon adalah Suku Bay, Wouw Remobu, Wiu Awiyano, Waisimon Akrwa, Waipon Singgriway, Wandi Denaigreng, Kekri, Tecuari, Kasmando dan Bernipu.

Di tingkat nasional Yayasan WWF Indonesia menjaring dukungan melalui publikasi dan promosi sekaligus menggalang pendanaan. Salah satu publikasi pertama yang difasilitasi WWF Indonesia mengenai Rhepang Muaif hadir melalui program Kick Andy on Location-Metro TV. Melalui acara ini Kelompok Isyo Hills menerima hibah pertama dari pihak swasta yang disalurkan melalui Yayasan WWF Indonesia Program Papua. Dana tersebut kemudian dipergunakan untuk pembangunan tahap awal sekolah alam di area ekowisata dengan konsep terbuka. Peletakan batu pertama pembangunan sekolah alam di Rhepang Muaif dilakukan oleh Bupati Kabupaten Jayapura.

Perlahan namun pasti, inisiatif yang dilakukan masyarakat adat di Rhepang Muiaf mulai menuai buah yang manis. Upaya dari sekelompok masyarakat untuk memperbaiki kawasan hutan, dan mengelolanya dengan cara lestari mendorong dilakukannya langkah-langkah baru yang sangat penting. Pada 5 Juni 2017, bertepatan dengan perhelatan Hari Lingkungan Hidup yang dilaksanakan di Rhepang Muaif,  Gubernur Papua Lukas Enembe, meluncurkan lima lokasi wisata alam pengamatan burung Cendrawasih di Papua yang terletak di Kampung Rhepang Muaif dan Kampung Tablasupa di Kabupaten Jayapura; Kampung Sawendui, Kampung Barawai, dan Kampung Pom di Kabupaten Kepulauan Yapen. Pada hari yang sama, Gubernur Papua juga mengeluarkan surat edaran nomor 660.1/6501/SET tentang larangan penggunaan burung Cendrawasih asli sebagai asesoris dan cenderamata. Hal itu dilakukan dalam rangka melindungi dan mencegah ancaman kepunahan burung Cendrawasih. Penggunaan burung Cendrawasih asli hanya diperbolehkan dalam prosesi kegiatan adat istiadat di tanah papua yang bersifat sakral.

Dukungan pada pelestarian hutan habitat cendrawasih di Rhepang Muaif tak berhenti di situ, Yayasan WWF Indonesia menghubungkan kelompok Isyo Hills dengan pendanaan program corporate social responsibility (CSR) dari tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang terdiri dari PT. Telkom Indonesia, PT. Garuda Indonesia, PT. Bank BNI Tbk. PT. Pembangunan Perumahan, PT. Wijaya Karya, PT. Bank Mandiri Tbk., dan PT PLN.

Pada November 2017, program CSR dari tujuh BUMN memberikan dukungan pada Kelompok Isyo Hill’s Brid Watching dalam pembangunan prasarana. Dukungan ini merupakan bentuk komitmen BUMN, pada pengembangan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pendorong ekonomi yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. Dana tersebut diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan ekowisata termasuk sekolah alam dan pengembangan kapasitas masyarakat adat sebagai pengelola. Sementara itu pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura juga turut mendukung pembangunan infrastruktur berupa homestay dan shelter. 

Hingga saat ini, terdapat tambahan sembilan tempat homestay, enam jembatan, dan dua menara pengawas yang sudah dibangun demi mendukung ekowisata. Dukungan ini memberi manfaat ekonomis secara langsung bagi masyarakat adat. Ekowisata ini juga telah secara signifikan meningkatkan penghasilan kelompok wanita yang memproduksi noken  atau tas anyaman tradisional Papua.

Salah satu tonggak pencapaian dalam perjalanan masyarakat Rhepang Muaif, terlaksana pada 12 Maret 2018. Kawasan seluas 19.000 ha di area hutan Isyo Rhepang Muaif, secara resmi ditetapkan menjadi hutan adat milik masyarakat adat Yawadatum wilayah Grime, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Melalui Surat Keputusan Bupati Jayapura Nomor 188.4/150 TAHUN 2018, Hutan Isyo Rhepang Muaif menjadi hutan adat pertama di provinsi Papua. Berdasarkan Surat Keputusan tersebut, fungsi hutan yang berada pada fungsi produksi konversi, hutan lindung, hutan produksi terbatas, tetap merupakan hutan adat yang pengelolaanya dilaksanakan oleh masyarakat hukum adat berdasarkan hukum adat. 

Setelah penetapan kawasan sebagai Hutan Adat oleh Bupati Jayapura, masyarakat Rhepang Muaif difasilitasi oleh Yayasan WWF Indonesia, kembali mengevaluasi tata batas marga pada tahun 2019. Proses partisipatif berbasis marga dilakukan untuk mendokumentasikan indikatif pemetaan marga pada kawasan seluas 363 hektar.

Sekolah Alam dan Pembentukan Koperasi

Membangun Sekolah alam adalah salah satu cita-Cita Alex Waisimon, gagasan itu telah dimulai sejak tahun 2015, dan secara perlahan sekolah ini dibangun menyesuaikan kondisi keuangan. Pada tahun 2020 kelompok Isyo Hills menjadi sebuah Lembaga yang berbadan hukum bernama Koperasi Jasa Yombe Yawa Datum. Dalam bahasa Genyem, Yombe berarti milik kita, sementara Yawa Datum berarti sedang tumbuh. Secara filosofi, Lembaga koperasi ini diharapkan menjadi wadah usaha milik bersama yang terus tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.  dengan usaha jasa lingkungan ekowisata. 

Untuk penguatan Lembaga koperasi, dan memajukan kegiatan ekowisata di wilayah tersebut maka pengurus koperasi meneruskan inisiatif Sekolah Alam atau Nature School yang juga dinamai Sekolah Alam Yombe Yawa Datum. Salah satu tujuan Sekolah Alam adalah menggalang sumber daya pengetahuan dan pengembangan produk untuk mendukung kegiatan ekowisata. Sekolah alam didedikasikan bukan hanya untuk orang di kampung Rhepang Muaif, namun semua orang terutama orang Papua boleh datang dan belajar dari alam. 

Sekolah Alam Yombe Yawa Datum kini sudah mulai berjalan, sudah ada satu peroustakaan dan implementasi pengajaran di tig akelas, yaitu Kelas Noken, Kelas Bahasa Inggris dan Kelas Bahasa Namblong. Sekolah ini nantinya akan memberikan banyak pembelajaran bukan hanya belajar dalam pelajaran seperti biasanya, namun akan memberikan wawasan tentang lingkungan, tumbuhan, hewan juga pengetahuan lainnya. Belajar tentang kekayaan alam, pertanian, apotek hidup, bahasa juga budaya. Sekolah Alam Yombe Yawa Datum, melibatkan banyak relawan, seperti dari UNCEN dan komunitas Earth Hour Papua.

Hingga kini WWF-Indonesia masih bekerja bersama masyarakat di Rhepang Muaif untuk terus mendorong dan mengembangkan perlestarian alam berbasis masyarakat. Sayangnya, pada saat pandemic Covid-19 melanda, usaha ekowisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata telah memberikan berbagai bantuan untuk pengelola. Sejalan dengan itu, WWF-Indonesia pun mengupayakan berbagai upaya penggalangan dana publik untuk masyarakat Rhepang Muaif. Dana tersebut kemudian dihibahkan dalam bentuk insentif pengolahan lahan kebun dan bibit sayur dan tanaman lain yang saat pandemic bisa menjadi komoditi utama untuk dijual, juga fasilitas protokol kesehatan yang memadai.

Walau kini laju wisata tengah melambat diterpa pandemi, namun Rhepang Muaif adalah sebuah contoh nyata bahwa kegigihan dan kolaborasi masyarakat dapat mengubah kawasan yang pernah begitu terdegradasi, kembali menjadi kawasan yang memberikan manfaat tak terhingga bagi mereka yang setia merawatnya.


Cerita Terkini

Mengamati Perilaku Burung Cenderawasih di Laboratorium Alam Sejati

Manusia dan satwa liar tidak dapat bertahan hidup di Bumi tanpa adanya pohon. Dibanding ekosistem lainnya, komposi...

Setahun Moratorium Sawit, Menyusun Langkah Strategis Implementasi

Jakarta, 10 Oktober 2019 – Pada 19 September 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengeluarkan kebijaka...

BMP Perikanan Kerang

Penulis: Davidson Rato Noto (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Better Management Practices (BMP), Seri...

Get the latest conservation news with email