Kembali

© USAID SEA/Fiali Rajik

Perempuan Sorong Selatan ciptakan produk olahan kepala udang



Perempuan Sorong Selatan Ciptakan Produk Olahan Kepala Udang

Posted by Nur Arinta on 04 December 2019
Author by Mansur

Udang merupakan salah satu boga bahari yang kaya akan nutrisi sehingga banyak diburu para penikmat makanan laut. Namun, jika menilik pada perspektif keberlanjutan, produk makanan udang harusnya berasal dari praktik penangkapan yang bertanggung jawab agar dapat menjamin ketersediaan udang bagi generasi mendatang.

Di sisi lain, belum semua bagian dari udang dimanfaatkan dengan maksimal. Di Kabupaten Sorong Selatan, kepala udang masih dibuang dan dibiarkan berserakan di bibir pantai. WWF-Indonesia sebagai implementer Proyek USAID Sustainable Ecosystem Advanced (USAID SEA) mendorong masyarakat Sorong Selatan menciptakan usaha kreatif olahan udang melalui kegiatan pelatihan yang digelar di aula Kantor Dinas Perikanan Sorong Selatan. Melalui pelatihan tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam  menciptakan sumber ekonomi alternatif dengan memanfaatkan bahan baku dari sisa tangkapan udang yang tidak terpakai/ terjual.  Kondisi ini sejalan dengan rencana memaksimalkan potensi perikanan dengan tetap mempertimbangkan prinsip dasar pengelolaan berkelanjutan seperti yang telah diupayakan selama ini oleh WWF-Indonesia melalui program perbaikan perikanan atau Fisheries Improvement Program (FIP). Yang terakhir, aktivitas ini juga dimanfaatkan untuk meningkatkan peran aktif kaum perempuan di dalam menjaga sumber daya Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Teo Enebekia.

Pelatihan ini melibatkan sebanyak 31 peserta yang merupakan anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan ibu-ibu nelayan dari 3 distrik di Sorong Selatan, diantaranya 11 orang dari Kampung Wamargege Distrik Konda, 5 orang dari Kampung Konda Distrik Konda, 5 orang dari Kampung Mate Distrik Inanwatan, 5 orang dari Kampung Solta Baru Distrik Inanwatan, dan 5 dari Kampung Sayolo Distrik Teminabuan.

Kegiatan pelatihan ini juga didukung oleh  Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua Barat, akademisi Universitas Papua (Unipa) sebagai pemateri dan instruktur pelatihan, serta Dinas Perikanan Kabupaten Sorong Selatan sebagai penyelenggara dan fasilitator kegiatan. Kepala Dinas Perikanan Sorong Selatan, Ishak Meres, dalam sambutannya mengemukakan bahwa pentingnya diadakan pelatihan pengolahan produk perikanan khususnya sisa-sisa dari industri perikanan, yaitu kepala dan kulit udang. Selain meningkatkan ekonomi masyarakat, juga mengurangi jumlah sisa-sisa kepala dan kulit udang di lingkungan. “Selama ini sebagian besar udang yang dijual itu tanpa kepala (headless). Otomatis kepalanya dibuang ke laut, berbau, dan mengotori laut juga. Ibu-ibu perlu dibekali pengetahuan untuk mengolah kepala udang ini menjadi produk kemasan bernilai ekonomi” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta diberikan materi tentang cara menghasilkan produk olahan makanan dari daging, kepala, dan kulit udang dengan menggunakan peralatan sederhana. Materi yang diperoleh kemudian dipraktikan langsung satu persatu hingga akhirnya berhasil membuat berbagai produk makanan seperti kerupuk udang, saus cabai udang, bubuk kaldu udang, dan daging burger udang. Untuk menghasilkan 2 kantong 250 gram kerupuk daging udang, para peserta harus mengolah 2 kg daging udang sementara untuk menghasilkan 1 gelas kecil petis udang membutuhkan sekitar 200 gram kepala dan kulit udang.

Selain membuat olahan, peserta juga dikenalkan dengan bentuk kemasan produk unik dan menarik untuk menambah nilai estetika dari produk. Berbagai model kemasan beserta logo selain menjadi daya tarik juga sebagai identitas sebuah produk. Namun demikian, kendala yang ditemui di kampung selama ini adalah keterbatasan modal. “Kalau mau bikin usaha olahan udang ini kan butuh modal, untuk membeli alat dan bahannya” ungkap Agustina Omeggang, salah satu peserta pelatihan dari Kampung Wamargege.

Agustina juga mengharapkan kepala kampung dapat mengalokasikan sejumlah dana untuk kelompok PKK agar dapat berwirausaha. “Kegiatan pelatihan ini diharapkan tidak seperti melempar garam ke laut, karena selama ini masyarakat pernah dilibatkan dalam pelatihan, namun hanya sebatas itu tanpa ada tindak lanjut” tambahnya. WWF-Indonesia bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong Selatan dan Tim Inisiasi Kawasan Konservasi Perairan Daerah Laut Seribu Satu Sungai Teo Enebikia, Kabupaten Sorong Selatan berusaha memberikan pendampingan pada peserta pelatihan. Sejauh ini telah dibentuk beberapa kelompok Usaha Bersama (KUBE), kelengkapan dokumen kelompok dan pengesahan kelompok. Termasuk bekerjasama dengan pemerintah desa dalam mengakses sumber modal pelatihan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang ada dan dana pemberdayaan masyarakat kampung untuk mengakomodir pelatihan mandiri KUBE.

WWF-Indonesia menargetkan hingga Januari 2020, akan melakukan serangkaian pelatihan pengolahan produk hingga pemasarannya, seperti melakukan uji laboratorium yakni uji proximate yang bertujuan untuk mengetahui kualitas produk yang dihasilkan apakah baik untuk dikonsumsi atau tidak, melakukan registrasi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) yakni salah satu sertifikasi kesehatan makanan ditingkat rumah tangga, hingga kelompok produk perikanan dapat melakukan pemasaran produk di tingkat lokal.


Cerita Terkini

Menjaga Keberlanjutan Perikanan Sidat di Indonesia

Oleh: Faridz Rizal Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Baca Sebelumnya: Melacak Asal Usul Benih ...

Karena Cinta Tak Harus Memiliki, Ayo Laporkan!

Oleh: Nur Arinta Indonesia adalah negara yang dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat kaya, baik flora m...

Festival Pulau Roon: Lambang Suara Hati Masyarakat Roon

Pulau Roon, jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah pulau tempat kayu besi. Pada beberapa tahun yang lalu men...

Get the latest conservation news with email