Kembali

© Administrator

Administrator



Perdagangan Ilegal Satwa Liar: Dari Pasar Pindah ke Gawai

Posted on 13 November 2018
Author by

Oleh: Nur Arinta

 

Asia adalah pusat perdagangan beragam satwa liar yang dilindungi secara global sebagai sumber, jalur transit, dan pasar penjualan satwa liar yang terancam punah dan bernilai tinggi. Menurut Internatonal Enforcement Agency, tindak kejahatan ini pasalnya berada di peringkat keempat sebagai kejahatan transnasional terorganisir, setelah perdagangan narkotika, perdagangan manusia, dan perdagangan senjata.

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam buku Potret Perdagangan Satwa Liar di Indonesia (2016) yang ditulis Arief Santosa dkk, menyebutkan bahwa perputaran uang terhadap perdagangan illegal satwa liar di pasar gelap diperkirakan mencapai nilai AS $ 7,8 – 19 miliar setiap tahunnya. Pemerintahan Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menyatakan bahwa nilai kerugian Negara akibat tindak kejahatan ini mencapai lebih dari 9 triliun per tahun (PHKA, 2009). Bisnis jutaan dolar ini mengancam keberlangsungan kehidupan satwa panji seperti harimau, gajah, semua jenis badak, dan satwa lain yang memiliki fungsi kunci bagi ekosistem dan keanekaragaman hayati.

 

 

Penyebab utama maraknya perdagangan satwa dilindungi adalah masih tingginya permintaan dari masyarakat akan konsumsi satwa liar, baik yang masih hidup maupun bagian tubuhnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kepercayaan memelihara satwa liar atau mengonsumsi bagian tubuh satwa liar, baik dimakan, mengoleksi, atau pun menjadikannya pajangan masih dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibanggakan dan menjadi bagian dari gaya hidup berkelas. Bagian tubuh satwa liar juga banyak dipercaya sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, padahal tidak terbukti secara klinis. Tidak hanya itu, permintaan bagian tubuh satwa juga kerap muncul untuk kebutuhan hal-hal magis dan berkaitan dengan ilmu hitam.

 

Jika dulu perdagangan ilegal satwa liar dilindungi dilakukan secara terang-terangan di pasar konvensional, kini transaksi ilegal tersebut banyak dilakukan melalui jejaring media sosial. Cara ini dipilih karena jauh lebih ekonomis dan resiko yang lebih rendah. Tindak kejahatan ini dapat didefinisikan sebagai kejahatan yang low risk-high value, yakni beresiko rendah bagi pelakunya namun sangat menguntungkan. Kemudahan mengunggah dan mengakses situs online serta memalsukan identitas pedagang membuat perdagangan satwa di situs online sulit untuk dihentikan. Bisnis perdagangan ilegal satwa liar juga semakin subur karena semakin menjamurnya komunitas-komunitas hobi memelihara satwa, dimana ini menjadi celah terjadinya transaksi jual beli satwa di dalam komunitas tersebut.


Cerita Terkini

Pelatihan Pengelolaan KKP di Koon

Cuaca yang cukup terik dan udara panas menghinggapi langit Petuanan Adat Kataloka pada hari itu. Terlihat sekelomp...

Membangun Peradaban Melalui Pendidikan

Pendidikan  menjadi  salah  satu  komponen  dasar  ataupun  fokus  pada&nb...

Masyarakat Alor Catat Sampah di Pantai Kadelang: 62.7% Adalah Plastik

Dalam Pelatihan Pendataan Sampah Melalui Jejaring Citizen Science (18/12/18) di Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor, ...

Get the latest conservation news with email