Kembali

© Administrator

Administrator



Perayaan Para Penjaga Mangrove

Posted on 06 August 2019
Author by WWF-Indonesia

Di Sungai Lueng, sebuah desa kecil di pinggiran hutan mangrove di Kota Langsa, Propinsi Aceh, masyarakat melakukan perayaan Peukan Mangrove, sebagai rasa kebanggaan mereka terhadap kekayaan alam yang mereka miliki. Peukan Mangrove dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Mangrove Sedunia 26 Juli 2019, dirayakan selama sepekan, melibatkan ratusan masyarakat, WWF Indonesia dan mitranya di Program Shared Resource Joint Sollution dan Pemerintah Kota Langsa.

Ada lomba balap perahu oleh para nelayan, lomba masak dari bahan-bahan yang didapat di hutan mangrove diikuti oleh kelompok ibu-ibu antar desa, ada lomba melukis anak-anak, lomba vlog dan foto untuk pemuda, dan lomba debat para Panglima Laot- lembaga adat laut di Aceh tentang ide mereka untuk menyelamatkan hutan mangrove yang sedang terancam serta penanaman pohon mangrove. Para kelompok perempuan juga memamerkan produk-produk yang sudah mereka hasilkan dari hutan mangrove seperti sirup buah mangrove, kerupuk tiram dan ikan dan aneka kue.

Puncak Peukan Mangrove adalah Seminar Internasional yang dilaksanakan di IAIN Cot Kala dengan menghadirkan pembicara seperti dari KPH III, Akademisi Dr. Iswayudi, Aktivis Perempuan Dr. Rasyidah, dan perwakilan masyarakat seperti dari kelompok perempuan Kuala Langsa. Seminar  dihadiri hampir 400 ratus peserta dari  lembaga pemerintah, LSM, mahasiswa, kelompok perempuan, masyarakat dan Panglima Laot.

Pemko Langsa yang diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Umar, SH menyampaikan Pemerintah Kota Langsa sangat konsern dalam melestarikan mangrove. Ada 32 jenis mangrove di Kota Langsa.

“Namun persoalan yang masih belum selesai adalah masih adanya penebangan pohon bakau karena masyarakata beralasan untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Untuk itu Pemko Langsa coba mencari alternative pemanfaatan hutan mangrove dengan mengembagkan ekowisata,” katanya.

Peukan Mangrove didukung oleh Program SRJS yang didukung oleh Pemerintah Belanda yang selama ini telah bekerjasama dengan Pemerintah dan sejumlah LSM untuk mendorong pengelolaan mangrove yang lestari.

Perwakilan WWF Belanda, Hans Beukeboom  yang ikut hadir dalam seminar internasional tentang mangrove menyampaikan dukungannya terhadap kerja pemerintah, LSM lokal dan masyarakat dalam upaya pelestarian mangrove.

“Masyarakat adalah penjaga garis depan untuk memastikan bahwa hutan mangrove tidak dihancurkan, berbagai upaya telah dilakukan sehingga pertahanan pantai semakin kuat. Kami bangga, saat ini beberapa kelompok masyarakat juga telah mulai memanfaatkan hutan bakau secara berkelanjutan, sebagai sumber bahan baku alami untuk produk makanan, yang tentunya merupakan sumber daya ekonomi yang ramah lingkungan,”kata Hans.

Propinsi Aceh memiliki luas hutan mangrove mencapai 50.017 hektar terletak di pesisir utara.Sebaran luas hutan mangrove terletak di Aceh Timur (16.621 hektar), Aceh Tamiang (14.093 hektar), Kota Langsa (5.141 hektar), Aceh Utara (349 hektar), Kota Lhokseumawe (56 hektar) dan Bireuen (20 hektar). Selama kurun 2013-2017 telah terjadi kehilangan tutupan hutan mangrove ± 3.910,15 hektar. Luas kawasan mangrove yang dilindungi di Lansekap Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang sebesar 9.876,39 ha. Kondisi tegakan mangrove yang masih baik seluas 21.268,33 ha. (Sumber : Kajian Spatial WWF Indonesia, 2018)

Dengan tekanan tekanan yang dialami oleh hutan mangrove seperti penebangan liar, pengalihan fungsi lahan dan lainnya diperlukan strategi pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove dan ini merupakan salah satu dari strategi pada program SRJS untuk mempertahankan hutan mangrove yang tersisa dari tekanan tekanan yang ada . Pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan dengan memanfaatkan hutan mangrove untuk memproduksi produk produk seperti sirup, batik, makanana ringan dan juga untuk ekowisata sehingga hutan mangrove tetap terjaga dan masyarakat mendapatkan keuntungan ekonomi dari ini, karena yang paling efektif untuk menjaga hutan adalah masyarakat sendiri.


Cerita Terkini

Diskusi Konservasi: Dalam Lingkungan yang Sehat, Terdapat Jiwa yang Ku

Di masa pandemi Covid-19, semua orang berusaha menjaga kesehatan dari dalam agar terhindar dari penularan virus Co...

Setahun Moratorium Sawit, Menyusun Langkah Strategis Implementasi

Jakarta, 10 Oktober 2019 – Pada 19 September 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengeluarkan kebijaka...

Modul Sampah Plastik

Plastic Smart Cities merupakan inisiatif yang diluncurkan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) dengan misi untuk ...

Get the latest conservation news with email