Penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) TNBKDS

Posted by Anastasia Joanita on 14 June 2019
Author by WWF-Indonesia

Kabupaten Kapuas Hulu memiliki keunggulan potensi berupa 2 kawasan taman nasional dengan karakter berbeda, namun saling melengkapi. Taman Nasional Betung Kerihun yang terletak di hulu sungai berkontur pegunungan dan bercirikan hutan hujan tropis dengan kondisi lembap sepanjang tahun, dan Taman Nasional Danau Sentarum yang terletak di bagian hilir dan merupakan salah satu Lahan Basah Penting Internasional (Ramsar Site) di Indonesia yang didominasi oleh luasan perairan berupa danau-danau dan sungai.

Kedua taman nasional ini  memiliki luasan hampir mencapai 1.000.000 hektar yang terletak persis di kawasan Jantung Kalimantan yang kemudian dideklarasikan sebagai kawasan kelola Heart of Borneo (HoB) oleh 3 negara: Indonesia, Malaysia dan Brunei pada tahun 2007. Pada tahun 2016, kedua taman nasional ini digabungkan dalam kelola administrasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS). Pada tahun 2018 TNBKDS mendapatkan status terbarunya sebagai Kawasan Cagar Biosphere dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Untuk menilai kinerja taman nasional, secara aturan telah dimandatkan adanya penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) menargetkan nilai efektifitas pengelolaan minimal 70% untuk setiap kawasan konservasi yang dinilai. Melalui Perdirjen KSDAE Nomor P.15/SET-KSDAE/2015 kemudian diterapkan sebagai dasar melakukan penilaian awal Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di Indonesia. METT yang dikembangkan oleh WWF dan Bank Dunia menjadi pilihan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam mengevaluasi pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dengan beberapa dasar pertimbangan  yaitu pengalaman implementasi di lapangan, perangkat sederhana dan menghasilkan gambaran yang terukur. Terdapat tiga perangkat isian penilaian dalam METT, yaitu pelaporan kemajuan kawasan konservasi, ancaman terhadap kawasan konservasi, dan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi yang terdiri dari enam elemen evaluasi yang dinilai yaitu Konteks, Perencanaan, Input, Proses-proses, Output dan Hasil Akhir. 

Pada awal minggu ketiga bulan Mei 2019, kegiatan penilaian METT Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum dilaksanakan kembali, setelah penilaian terakhir dilakukan di tahun 2017. Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar TNBKDS, dihadiri oleh Direktur Kawasan Konservasi, Dyah Murtiningsih, beserta jajaran TNBKDS. Hadir pula pihak eksternal yang mengikuti acara ini diantaranya jajaran Pemda kabupaten Kapuas Hulu, pihak kecamatan, dan Organisasi Pelayanan Masyarakat (CSO) lokal, kabupaten dan provinsi sebagai mitra kerja TNBKDS. Melalui diskusi terbuka yang dipandu oleh fasilitator dari WWF-Indonesia dan GIZ, proses dua hari ini berjalan lancar dan sukses.

Beberapa catatan penting dalam penilaian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan program pembangunan di dalam kawasan taman nasional diperlukan adanya perencanaan yang matang dan keterlibatan masyarakat yang berada di dalam kawasan dan sekitarnya sehingga mereka menjadi bagian dari keberhasilan pengelolaan kawasan taman nasional. Pembentukan kelompok masyarakat yang difasilitasi oleh CSO di desa-desa kawasan penyangga  taman nasional penting untuk dilakukan  dan sudah sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Pendek (RPJPn) yang disusun oleh pengelola kawasan taman nasional.

Diskusi dan adu argumentasi mempertahankan nilai dan menantang adanya pembuktian nilai yang dicantumkan menambah keseruan diskusi hingga sore hari menjelang maghrib. Di akhir loka karya, disimpulkan bahwa perjuangan 2 tahun terakhir ini berbuah hasil manis. Dengan penilaian yang objektif dari para peserta untuk kedua taman nasional ini, disetujui masing-masing nilai taman nasional yakni TNBK nilainya adalah 76% sementara itu TNDS mendapat  nilai 82%.

Kedua taman  nasional tersebut mengalami peningkatan dalam nilai METT jika dibandingkan penilaian yang sama di tahun 2017, saat itu  TNBK hanya memiliki nilai 69% dan TNDS dengan nilai 75 %. Peningkatan nilai METT  yang cukup signifikan diakui oleh  pihak pengelola taman nasional TNBKDS tidak terlepas dari dukungan WWF-Indonesia yang salah satunya melalui program tools SMART PATROL Resort Based Management (RBM) yang telah mendongkrak penilaian atas kinerja TNBKDS menjadi lebih baik.

Cerita Terkini

BEEP - Operasional Kapal Rekreasi yang Bertanggung Jawab

BEEP - Operasional Kapal Rekreasi yang Bertanggung Jawab

Mangrove

Mangrove

Video Gajah

Video Gajah

Get the latest conservation news with email