Kembali

© WWF-Indonesia

.



Pengalaman Pertama Praktik ESD di SDN Sarongge

Posted by Nur Arinta on 17 March 2020
Author by Azis/EH Bandung

Pendidikan menjadi satu bagian penting untuk mencapai agenda kehidupan yang berkelanjutan. Karena mewujudkan cita-cita Suistainable Development Goal’s (SGD’s) tidak begitu saja lepas dari pengaruh bagaimana cara manusia menjalankan kesehariannya. Ruang-ruang pendidikan adalah tempat yang tepat, karena di sinilah dimulainya doktrinisasi, membentuk cara berpikir manusia yang selanjutnya mempengaruhi pengambilan keputusan dan perilaku mereka.

Sehingga mengedukasi masyarakat tentang wawasan lingkungan hidup jadi sangat penting, untuk membangun kepekaan perihal ancaman berakhirnya kehidupan akibat pola konsumsi yang tidak terbatas. Peran penting inilah yang coba diterapkan dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia di hari keempatnya, Senin (10/2/2019). Sosialiasasi dilakukan di SDN Pasir Sarongge, sebuah sekolah di kaki Gunung Pangrango. Lokasinya yang tepat berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung, menjadikan masyarakat di daerah ini kelompok yang amat rawan.

ToT ini diikuti oleh peserta yang mayoritas merupakan anggota di komunitas Earth Hour, Marine Buddies, Panda Mobile dan Pramuka dari beberapa kota. Sebelumnya mereka juga telah lebih dulu dibekali teori dan trik dari sejumlah narasumber. Setelah itu fasilitator  dipecah menjadi delapan kelompok, tiap tim yang masing-masing diisi 4-5 fasilitator diberi tugas untuk mendampingi 25 pelajar. 

Pada hari aktivitas edukasi ke sekolah berlangsung, metode yang dipakai masing-masing kelompok cukup beragam. Karena sasarannya adalah pelajar pada jenjang sekolah dasar, rasanya semua tim memiliki pola yang seragam, yakni menekankan pada aspek kreatif dan rekreatif. Paling terlihat hampir di semua kelompok ialah metode edukasi dengan cara bermain games, pemanfaatan kertas warna-warni, hiasan kepala yang dikreasikan sedemikian rupa, hingga bahan presentasi kelompok pun tak luput dari ajang kreatifitas.

Edukasi yang menyenangkan dan kreatif saja belum cukup tetapi juga harus dibuat lebih sederhana dan mudah dicerna untuk umur 10-12 tahun. Karena itulah beberapa  kelompok ada yang memanfaatkan teori tentang rantai makanan, dengan asumsi setidaknya pelajar di kelas 5 dan 6 sedikit paham mengenai materi IPA tersebut. Selain itu, beberapa juga menggunakan hal-hal yang lebih sederhana, contohnya penganalogian hilangnya bahan makanan sehari-hari akibat kerusakan alam.

Bahan edukasi yang dibuat kreatif, materi dan metode yan dibuat sederhana menjadi catatan paling penting jika ingin mengedukasi anak-anak SD ataupun TK dan PAUD. Selain itu, dengan usianya yang memang lebih aktif, aktivitas yang mengandalkan olah tubuh dan gerak juga cukup solutif. Ini terlihat saat di pembukaan dan di akhir  kegiatan anak-anak  sangat antusias mengikuti senam ‘Go Green’. Positifnya, lagu tersebut memiliki lirik yang edukatif karena berisi ajakan merawat lingkungan, sehingga mampu menjadi stimulus bagi pelajar untuk selalu diingat dan diterapkan lirik demi lirik yang mereka dengar dan nyanyikan.

Namun masih ada beberapa catatan, edukasi kepada anak-anak adalah bagian dari kegiatan fasilitasi, pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas ini penting untuk memiliki kemampuan membangun kedekatan dengan anak. Fasilitator harus membangun relasi yang mampu mebuat anak merasa nyaman tanpa tekanan selama kegiatan, membangun suasan yang inklusif, dan memposisikan sebagai teman bercerita tanpa sifat menggurui.


Cerita Terkini

Virtual Race: Mendukung Pelestarian Satwa Langka Melalui Olahraga

 iLuvRunDaratan Indonesia mencakup 1,3% dari permukaan planet Bumi. Tanah Air ini adalah rumah bagi 12% mamal...

Festival Subayang-Bio dan Inisiasi Subayang Bersih di Rimbang Baling

Festival Subayang – Bio kembali digelar pada akhir minggu lalu (30-31 Maret) di Desa Gema, Kampar Kiri Hulu, Kam...

Kebakaran Hutan dan Lahan: Misi Penyelamatan Hutan yang Tersisa

Jakarta, 17 September 2019 – WWF-Indonesia menggelar diskusi bersama jurnalis bertajuk “Indonesia Darurat Karh...

Get the latest conservation news with email