Kembali

© Administrator

Administrator



Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Koto Kampar

Posted on 23 July 2019
Author by Doni Susanto

Mungkin kita sering mendengar atau melihat berbagai pemberitaan di media sosial maupun TV tentang berbagai kasus yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Belum meratanya  fasilitas pendidikan di Indonesia menjadi satu kendala kemajuan pendidikan.

Komnas HAM mencatat  4 kondisi darurat pendidikan di Indonesia. Pertama, disebabkan oleh banyaknya kasus pelanggaran HAM, kedua, ranking pendidikan Indonesia yang semakin buruk. Pencapaian nilai Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada tahun 2015 berada pada posisi 64 dari 72 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan ketiga, darurat disebabkan oleh banyaknya kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran pendidikan.

Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) pada rentang waktu 2005 – 2016 terdapat 425 kasus korupsi terkait anggaran pendidikan dengan kerugian negara mencapai Rp 1,3 triliun dan nilai suap RP 55 miliar. Dan keempat disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia yang masih belum baik (https://nasional.kompas.com).

Peringatan Hari Anak Nasional harus kita jadikan momentum untuk lebih peduli terhadap kualitas pendidikan anak-anak Indonesia. Seharusnya dengan tingginya anggaran untuk pendidikan bisa berbanding lurus dengan kualitas pendidikan di Indonesia.  Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Padahal, dari sisi anggaran, dana untuk pendidikan telah mencapai Rp. 444 triliun atau sekitar 20 persen dari total belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2018. (CNN Indonesia)

Kepedulian terhadap kualitas pendidikan bagi anak-anak bangsa juga menjadi salah satu alasan bagi WWF-Indonesia untuk hadir dan melakukan kegiatan dampingan ke sekolah yang ada di Upper Kampar (bentang alam DAS Kampar) tepatnya Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kampar, Riau. Desa ini merupakan salah satu desa yang dialiri oleh Sungai Kampar. Salah satu sungai yang ada di Provinsi Riau yang kondisinya juga semakin memperihatinkan, daerah tangkapan air yang sudah mulai rusak, menyebabkan bendungan PLTA Koto Panjang menjadi sulit untuk beroperasi secara maksimal pada musim kemarau.

Menyoroti Koto Panjang, dengan ± 12.400 Ha bendungan, berada di daerah tangkapan air Upper Kampar yang mencakup area seluas ± 330,575 Ha di Riau (Kabupaten Kampar, Pelalawan dan Rokan Hulu) dan Sumatera Barat (Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pasaman). Sayangnya, polusi air dan sedimentasi karena rusaknya daerah tangkapan air, praktik pertanian dan budidaya yang tidak berkelanjutan telah menyebabkan penurunan kritis dalam kualitas dan kuantitas air sungai tersebut.

Berdasarkan data spasial dari tahun 1990 hingga 2015, luas hutan telah menurun secara signifikan dari 143.505 Ha menjadi 112,11 Ha untuk lahan pertanian. Hal Ini menghasilkan peningkatan signifikan dalam debit dari 613m3/detik hingga 766 m3/detik selama musim hujan. Peningkatan ini telah menyebabkan banjir tahunan di empat kabupaten terdekat. Dampak lain dari deforestasi adalah untuk pertama kalinya dalam 19 tahun beroperasi, PLTA Koto Panjang lumpuh karena kurangnya volume air di musim kemarau yang terjadi di tahun 2016. Hal ini mengakibatkan pemadaman listrik besar-besaran di beberapa daerah di Riau dan Sumatera Barat, secara ekonomi juga  kerugian bagi operator pembangkit tenaga listrik, bisnis dan komunitas lokal. Sehingga untuk menyikapi hal ini dunia pendidikan juga wajib mengambil peran untuk meningkat kesadaran pada lingkungan sekolah maupun semua pihak yang relevan pada tindakan kolaboratif untuk menyelamatkan DAS Upper Kampar.

WWF mengusung konsep pendidikan “Education for Sustainable Development (ESD)” dari perspektif lingkungan hidup yang dibagi sebagai proses yang ditujukan pada pertumbuhan populasi dunia yang sadar dan memberikan perhatian terhadap “lingkungan hidup dan keberlanjutannya secara total”.  Salah satu prinsip Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB), bertindak kepada lingkungan secara total – secara alami dan mengembangkan teknologi dan sosial (ekonomi, politik, sejarah, moral dan estetika). Titik perhatian PPB tidak hanya dengan alam dan lingkungan tetapi juga dengan ekonomi, sosial dan kesejahteraan manusia. Dengan pendekatan menyeluruh,  ESD berpotensi berkontribusi untuk menjaga alam dan lingkungan juga kesejahteraan manusia.

Fokus untuk mendukung upaya konservasi dan penyelamatan DAS Upper Kampar, Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan adalah, training untuk tenaga pendidik. Training ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan DAS Kampar saat ini secara spesifik dan mampu mengintegrasikan permasalahan yang ada dengan system belajar mengajar disekolah sesuai kurikulum yang berlaku, sehingga timbul rasa kepedulian dan memiliki dari murid murid tersebut serta mampu mengimplementasikan dalam praktik kehidupan sehari hari.

Pendampingan sekolah dilakukan secara intensif. Bersama tenaga pendidik, kami susun mimpi dan cita-cita sekolah tersebut dengan melibatkan isu lingkungan (seperti sungai dan hutan), budaya dan etos sekolah, murid-murid, teknis pembelajaran dan masyarakat.

Monitoring dan evaluasi juga dilakukan untuk melihat tingkat keberlanjutan dan keberhasilan sebuah program dengan tujuan akhir menjadikan sebuah desa atau lingkungan masyarakat yang berkelanjutan.

Kegiatan seperti ini harapannya bisa menjadi sebuah inspirasi dan langkah awal dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tahun harus mengggah kepedulian dan tanggung jawab bersama untuk generasi Indonesia yang lebih arif.


Cerita Terkini

Kilas Balik Penyusunan RZWP-3-K Provinsi Papua Barat (Bagian 1)

Sebagai negara kepulauan dengan 17.508 pulau, luas laut 5,8 juta km2, serta panjang garis pantai 99.093 km (BPS In...

Pertemuan Perdana Volunteer Panda Mobile Angkatan 2019

Pada Sabtu (07/09) lalu, WWF-Indonesia mengundang 41 relawan baru untuk menghadiri pertemuan perdana volunteer Pan...

Program Gentle Tree: Ajak Orangtua Tanam Pohon Demi Buah Hati Mereka

Kolaborasi demi menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang menjadi salah satu tujuan WWF-Indo...

Get the latest conservation news with email