Kembali

© WWF-Indonesia

.



Panda Mobile Ajak Anak Indonesia #BeliyangBaik demi Kelestarian Lingkungan

Posted on 10 November 2020
Author by Volunteer Panda Mobile

Populasi manusia di dunia terus bertambah, permintaan terhadap suatu produk juga ikut meningkat. Akibatnya, persediaan sumber daya alam semakin menipis hingga berdampak pada kelestarian lingkungan. Menyadari hal ini, WWF-Indonesia menginisasi Panda Mobile Virtual Class berjudul “Beli Yang Baik” untuk anak-anak Indonesia. Tajuk acara diangkat dari kampanye #BeliYangBaik, sebuah gagasan yang bertujuan untuk mendorong perubahan gaya konsumsi masyarakat menjadi lebih bertanggung jawab.

Kelas virtual tersebut diadakan pada Sabtu, 24 Oktober 2020 pukul 10.00 pagi. Pesertanya adalah 36 anak usia sekolah dasar. Acara dibuka dengan pengenalan WWF. Kemudian, Volunteer Panda Mobile melontarkan sejumlah pertanyaan kepada peserta sebagai pengantar untuk menuju inti cerita “Anak yang Baik, Beli yang Baik”. “Siapakah orang yang paling berpengaruh di Bumi? Dari mana asalnya barang yang kita pakai?” tanya seorang Volunteer.

Sebelum menjawab, Tim Panda Mobile mengajak peserta untuk melihat video pendek mengenai “Beli yang Baik”. Usai menyaksikan tayangan tersebut, salah satu peserta virtual class, Dzikra, menyampaikan hal pertama yang terbersit di pikirannya, “(Orang paling berpengaruh di Bumi ini) Kita semua Kak!” Melalui tontonan singkat itu, peserta telah belajar bahwa segala tindakan dan barang yang dibeli manusia mempengaruhi kelestarian dan masa depan Bumi ini. 

Setelahnya, peserta diajak berlatih cara mempraktikan “Beli yang Baik”. Peserta belajar membuat daftar belanjaan berisi lima benda yang hendak dibeli di Pasar Serba Ada. Peserta bebas memilih jenis barang, mulai dari makanan hingga alat tulis, tergantung kebutuhan masing-masing. Dua daftar belanjaan yang terpilih akan dievaluasi bersama di penghujung pertemuan.

Lalu, tiba saatnya cerita “Anak yang Baik, Beli yang Baik”. Peserta diajak mengikuti perjalanan tokoh bernama Andi dalam membeli barang sesuai dengan kampanye #BeliYangBaik. Gerakan #BeliYangBaik sendiri membawa pesan turunan, yaitu #BeliYangPerlu, #BeliYangLokal, #BeliYangAwet, #BeliYangAlami, #BeliYangEkolabel, dan #MauDibawaKemana. Filosofi di balik #BeliYangPerlu dan #BeliYangLokal mencoba mengintervensi konsumen agar memikirkan ulang alasan membeli barang sesuai dengan kebutuhan dan mengurangi jejak karbon. Sementara anjuran #BeliYangAwet dan #BeliYangAlami, mencoba mengadvokasi konsumen untuk mengonsumsi produk yang tahan lama dan mengandung atau bersumber bahan alami. Adapun #BeliYangEkolabel dan #MauDibawaKemana mengajak konsumen ikut memikirkan proses produksi hingga limbah yang berdampak minimal bagi lingkungan sebelum berbelanja. Keseluruhan kampanye mengajarkan anak belanja dengan bijak, dari mulai membeli produk sampai  menggunakan barang dan membuangnya. 

Kisah perjalanan Andi dikemas dengan ringan, sederhana, dan dekat dengan keseharian peserta. Cerita ini juga diselingi kegiatan-kegiatan interaktif, dimana peserta bisa ikut terlibat dengan memanfaatkan fitur chat dan annotation. Pada sesi ini, fasilitator bisa menangkap bahwa mayoritas peserta sudah mulai menerapkan gaya hidup “Beli yang Baik”, seperti belanja produk yang perlu saja, memilih barang yang awet, memprioritaskan produk lokal dan alami, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Hampir seluruh pesan turunan #BeliYangBaik dapat dipahami oleh peserta, kecuali #BeliYangEkolabel. Kata “ekolabel” memang kurang familiar di telinga siswa kelas 1-6 Sekolah Dasar. Maka, fasilitator perlu menjelaskan bahwa produk ekolabel diproses menggunakan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan dan menerapkan pemanfaatan bertanggung jawab. Keterangan ini pun masih memunculkan pertanyaan yang terlihat dari raut wajah peserta. 

Kenapa sih harus membeli barang-barang yang ramah lingkungan? Karena kita bisa ikut menjaga keberlangsungan satwa dan tumbuhan. Contohnya, seperti dalam penggunaan tisu dan kertas yang bisa berdampak pada peningkatan aktivitas penebangan pohon sehingga merusak ekosistem di hutan. Pada akhirnya, banyak satwa yang kehilangan tempat tinggalnya.

Lalu, fasilitator melanjutkan penjelasan terkait pesan #MauDibawaKemana. Ke mana perginya sampah dari produk yang sudah dibeli dan digunakan? Barang bekas pakai sebaiknya dipilah ke dalam kategori sampah daur ulang dan sampah yang bisa terurai secara alami. Contohnya seperti  sampah botol plastik bisa dipisahkan dengan sampah sayuran. Botol plastik bekas sendiri bisa dimanfaatkan kembali untuk membuat pot tanaman sehingga tidak menumpuk di tempat pembuangan atau malah berakhir di laut.

Sekilas, perilaku #BeliYangEkolabel dan pesan tersirat dari anjuran #MauDibawaKemana dilakukan semata untuk kelangsungan hidup satwa dan kelestarian lingkungan saja. Namun sebenarnya, kelestarian alam sangat berdampak pada kehidupan manusia. Misalnya, ketika sampah berakhir di laut maka akan menyakiti berbagai biota yang ada di kawasan perairan. Saat ekosistem laut terganggu, maka salah satu sumber pangan manusia pun berkurang. Jadi, jika manusia tidak bijak sehingga menyebabkan satwa sakit atau lingkungan rusak, akibatnya akan kembali kepada manusia juga.

Menjelang akhir acara, fasilitator mengadakan sesi kuis. Setelah tanya jawab, peserta diajak mengikuti foto bersama, yang dilanjutkan dengan pembacaan kalimat “Aku Anak Baik, Aku Beli yang Baik”. Seluruh peserta membacakan janji tersebut dengan kompak. Untuk menutup kegiatan, tim Panda Mobile menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah menunjukkan rasa antusias selama berpartisipasi dalam acara. Harapannya, generasi penerus bangsa dapat mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.


Cerita Terkini

Pembangunan Kawasan Pedesaan (PKP) Desa-desa Penyangga TNUK Wilayah Ke

Kegiatan konservasi badak Jawa telah menjadi fondasi munculnya lembaga WWF di Indonesia di tahun 1962. Dalam kegia...

TREATING THE PEAT ECOSYSTEM AND HELPING THE COMMUNITY ECONOMY IN LONDE

RIMBA Cluster II Corridor Project in Peat Protected Forest Londerang  Area, Tanjung Jabung Timur and Muaro Ja...

Get the latest conservation news with email