Kembali

© Jürgen Freund / WWF

.



PRESS RELEASE

Misi Baru KM Gurano Bintang bagi Pendidikan, Penelitian, dan Pelayanan Kesehatan Universitas Pattimura

Posted on 15 November 2021
Author by Yayasan WWF Indonesia

  • Universitas Pattimura menerima hibah kapal kayu berbobot mati 34 GT KM Gurano Bintang dari Yayasan WWF Indonesia 
  • KM Gurano Bintang menjadi armada laut untuk mobilitas kegiatan penelitian kelautan dan kemaritiman, pendidikan dan pengabdian masyarakat, serta pelayanan kesehatan.

Maluku, 15 November 2021 – Universitas Pattimura, Maluku, hari ini menerima hibah kapal pinisi bernama Kapal Motor Gurano Bintang (KM Gurano Bintang) dari Yayasan WWF Indonesia yang akan menjadi armada pusat kemaritiman dan kelautan untuk mendukung mobilitas kegiatan penelitian, pendidikan dan pengajaran, serta pelayanan kesehatan di pulau-pulau kecil di Maluku. 

Hibah kapal ini merupakan wujud dukungan Yayasan WWF Indonesia untuk memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap upaya konservasi kelautan dan pendidikan lingkungan, juga sebagai dukungan terhadap program kerja pemerintah Indonesia yaitu Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Armada ini juga diharapkan dapat menjadi tempat belajar bagi mahasiswa untuk menguak potensi alam Indonesia timur untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (SDGs 4), yaitu pendidikan untuk semua.

Gambar: Penyerahan KM Gurano Bintang dari Yayasan WWF Indonesia ke Universitas Pattimura Maluku secara simbolis

Penyerahan hibah dilakukan oleh Aditya Bayunanda, Plt. CEO Yayasan WWF Indonesia mewakili Alexander Rusli, Ketua Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia, kepada Prof. Dr. M.J. Saptenno, SH., M.HUM, Rektor Universitas Pattimura. Hadir pula dalam acara serah terima ini Kepala Pusat Kemaritiman dan Kelautan Universitas Pattimura, Gino V. Limmon. 

“Universitas Pattimura adalah mitra kerja Yayasan WWF Indonesia sejak tahun 1990-an. Kami telah bekerja sama erat sekali untuk konservasi ekosistem dan fauna laut di berbagai bentang laut di wilayah timur Indonesia, antara lain di Laut Aru, Laut Arafura, Seram Timur dan Kepulauan Kei,” ujar Aditya Bayunanda dalam sambutannya. 

Lebih lanjut Aditya mengungkapkan, “Kami senang sekali karena KM Gurano Bintang dapat meneruskan dan memperluas misinya dengan menjadi bagian dari tim Universitas Pattimura. Ini menjadi perwujudan Yayasan WWF Indonesia dalam mendukung program pemerintah Indonesia dalam bidang Pendidikan melalui kampus merdeka dan merdeka belajar, juga tentunya pengembangan riset konservasi alam”.

Gambar: KM Gurano Bintang, sang armada untuk edukasi kelestarian laut Indonesia

KM Gurano Bintang sebelumnya beroperasi di wilayah Papua Barat, mengemban misi mendukung pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Nabire, dan Tambraw melalui kegiatan edukasi dan pelayanan kesehatan, serta mendukung pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih dalam kegiatan pengamatan, penelitian, dan survei ekologi.

Prof. Dr. M.J. Saptenno, SH., M.HUM mengatakan, “Universitas Pattimura berterima kasih dan sangat menghargai hibah kapal pinisi Gurano Bintang dari Yayasan WWF Indonesia yang akan melengkapi armada laut kami untuk keperluan pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan laut Indonesia yang begitu luas, sehingga dibutuhkan kemitraan yang saling mendukung untuk bisa menjaga agar sumber pangan kita tetap lestari. Kami akan memanfaatkan KM Gurano Bintang dengan sebaik-baiknya, dan kami berharap kerjasama dengan Yayasan WWF Indonesia bisa terus berlanjut”.

Kapal pinisi bermesin diesel buatan tahun 2007 ini berukuran panjang 19,6 meter, lebar 5,25 meter, dan berbobot mati 34 GT. KM Gurano Bintang dioperasikan oleh tujuh awak kapal, memiliki fasilitas alat navigasi lengkap, ruang belajar dan perpustakaan, sepuluh tempat tidur, kamar mandi dan dapur, sehingga layak difungsikan sebagai stasiun terapung untuk berbagai kegiatan.

Gambar: Anak-anak melambaikan tangan ke KM Gurano Bintang

Nama Gurano Bintang diberikan saat kapal ini mulai beroperasi di wilayah Papua, diambil dari julukan masyarakat Papua bagi ikan hiu paus (Rhincodon typus). Sebelumnya kapal ini melayani wilayah Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Alor yang merupakan bagian dari kawasan konservasi Laut Sawu dengan nama Kotekelema, julukan masyarakat Lamalera untuk paus sperma (Physeter macrocephallus). Kapal ini sudah memberi kegiatan edukasi bagi ribuan siswa tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat.

--- SELESAI ---


Untuk informasi dan pertanyaan, silahkan menghubungi:

Karina Lestiarsi, Communication, Campaign & Public Relations Team | [email protected] | T. 0852-181-616-83

Dokumentasi dapat diakses di sini 


Tentang Yayasan WWF Indonesia

Yayasan WWF Indonesia adalah organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan, dengan dukungan lebih dari 100.000 suporter. Misi Yayasan WWF Indonesia adalah untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam, melalui pelestarian keanekaragaman hayati dunia, pemanfaatan sumber daya alam terbarukan yang berkelanjutan, serta dukungan pengurangan polusi dan konsumsi berlebihan. Untuk berita terbaru, kunjungi www.wwf.id dan ikuti kami di Twitter @WWF_id | Instagram @wwf_id | Facebook WWF-Indonesia | Youtube WWF-Indonesia | Line Friends WWF Indonesia



Cerita Terkini

EcoEduLab: Belajar Tentang Air dan Satwa di Laboratorium Air Tawar Sub

“Halo, sobat! Selamat datang di Laboratorium Air Subayang WWF! Di sini sobat bisa mendapatkan banyak informasi m...

Seafood Savers dan MSC Dukung Ketelusuran Produk dan Manajemen Rantai

Keberlanjutan sumber daya laut Indonesia sangat tergantung pada kemampuan produk perikanan kita bersaing menembus ...

BMP Perikanan Kerang

Penulis: Davidson Rato Noto (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Better Management Practices (BMP), Seri...

Get the latest conservation news with email