Kembali

© Yayasan WWF Indonesia

.



Menjelajah Virtual ke Desa-desa Surga Tersembunyi: Alor

Posted on 05 May 2021
Author by Adam Pudi Luddy dan Alexandra Maheswari

Selama masa pandemi Covid-19, sektor pariwisata menjadi satu dari sekian banyak industri yang terkena dampaknya. Banyak para pelaku wisata yang terpaksa harus kehilangan tamu dan pengunjung, bahkan hingga mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat di berbagai daerah sekitar destinasi wisata di Indonesia. Belakangan ini, kegiatan virtual tour muncul sebagai salah satu solusi agar industri wisata di Indonesia tidak mati sepenuhnya. Virtual tour atau yang kerap disebut sebagai wisata virtual ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang rindu menikmati pesona alam Indonesia di era pandemi. Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berkolaborasi bersama Traval.co dan Caventer Indonesia melalui Program Virtual Desa Wisata yang berlangsung pada bulan Januari-Februari lalu. Kegiatan ini dilakukan melalui aplikasi Zoom dan juga siaran langsung di platform YouTube. 

Program ini terdiri dari 10 rangkaian tur virtual yang bertajuk “Virtual Indonesia: Surga yang Tersembunyi: Tujuan dari program ini adalah untuk mengangkat potensi wisata di berbagai daerah selama pandemi Covid-19 yang dikemas secara menarik dan edukatif. Salah satu destinasi yang termasuk dalam program ini adalah Kabupaten Alor di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tur virtual di Alor dilaksanakan pada 14 Februari 2021 dan telah disaksikan sebanyak 1.418 kali.

Pada tur virtual desa wisata Selat Pantar Alor, para wisatawan yang hadir secara virtual disuguhkan pesona keindahan bawah laut Alor yang mendunia, atraksi budaya, serta fenomena dugong yang unik. Tur virtual ini dihadiri oleh berbagai pembicara yang merupakan para penggiat wisata di Alor yang bercerita tentang kisah unik dan pengembangan yang telah dilakukan. Adapun pembicara yang hadir adalah Maulana Nurhadi selaku anggota dari Aliansi Bahari Alor (ABA), Novita Ayu selaku penggiat pariwisata Alor, dan Bapak Onesimus Laa selaku masyarakat lokal sekaligus pegiat wisata Alor dari Forum Komunikasi Nelayan Kabola, serta menghadirkan Bapak Moses dari Sanggar Monbang, Desa Kopidil. Acara ini dipandu oleh Sumarahadi Kelik selaku Manajer Komunitas Caventer Indonesia dan Mika Maharani yang merupakan vice director dari Mala Tour.

Dalam Kesempatannya, Maulana menyampaikan bahwa ABA yang merupakan gabungan dari delapan dive operator di Alor memiliki komitmen bersama pemerintah untuk mengelola Selat Pantar dengan visi sustainable tourism model. Ia menjelaskan bagaimana pentingnya kelestarian dan rencananya untuk tidak membuka Alor ke arah mass tourism. Maulana juga memberikan saran kepada para wisatawan bahwa waktu terbaik untuk mengunjungi Alor adalah di sekitar bulan April hingga Oktober untuk melihat pesona keindahan alam Alor yang lebih maksimal. “Pada bulan-bulan tersebut, wisatawan dapat melihat keadaan keindahan bawah laut dengan lebih jelas dan kemungkinan wisatawan juga dapat bertemu langsung dengan gerombolan hiu martil, lumba-lumba, pari manta, hingga paus” Ujarnya.

Sementara Bapak One dalam virtual ini menunjukan fenomena dugong yang terlihat mendatangi kapal yang mengunjunginya di Perairan Pulau Sika. Kejadian unik dan tidak biasa ini dipertunjukan secara langsung di dalam tur virtual Desa Wisata Alor. Beliau pun turut menjelaskan bagaimana awal mula pertemuannya dengan dugong liar tersebut, dan mengatakan fenomena unik ini mulai menjadi perhatian banyak orang setelah ia difasilitasi oleh Yayasan WWF Indonesia untuk melakukan workshop di Bogor dan rangkaian kegiatan program Konservasi Dugong dan Lamun pada tahun 2017. Di sesi akhir acara, tidak lupa wisatawan virtual diajak menyaksikan atraksi budaya Monbang serta penjelasan lengkap mengenai ritual dan budaya masyarakat lokal oleh kepala sanggar Monbang.

Untuk menyaksikan keindahan Selat Pantar Alor melalui tur virtual ini, wisatawan dapat mengakses kanal YouTube Pesona Indonesia dengan judul “Virtual Desa Wisata: The Guardian of Selat Pantar (Alor)”.


Cerita Terkini

Harimau Takambang jadi Silek

Pencak silat merupakan seni bela diri khas Indonesia yang telah mendunia. Istilah “pencak” banyak digunakan di...

Panda Mobile Ajak Anak Indonesia #BeliyangBaik demi Kelestarian Lingku

Populasi manusia di dunia terus bertambah, permintaan terhadap suatu produk juga ikut meningkat. Akibatnya, persed...

Dulu Memburu, Kini Melindungi

Mengubah suatu kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Mengubah sikap juga bukanlah hal yang mudah. Begitu juga hal yan...

Get the latest conservation news with email