Kembali

© Wiliyan Ardi Fitrianto

 



Menjaga Keseimbangan Ekosistem Pesisir Desa Perancak dengan Sains dan Kearifan Lokal

Posted on 04 November 2022
Author by Dananjaya Bagaskara & MA Indira Prameswari

Bagi masyarakat Bali, alam dan adat istiadat adalah satu kesatuan. Segala aspek kehidupan warga Bali, khususnya Hindu Bali, dijalankan berdasarkan nilai-nilai lokal dan ajaran Hindu. Sebagian besar nilai-nilai tersebut mengatur kehidupan sehari-hari. Salah satu ajaran Hindu yang dipegang dan diterapkan masyarakat Bali adalah semangat gotong-royong dan nilai Jagat Kerthi, yakni upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.

Pada 29-30 September 2022, masyarakat Kabupaten Jembrana, Bali mengimplementasikan nilai tersebut melalui kegiatan peduli terhadap lingkungannya yaitu dengan melakukan pendataan sampah di pesisir dan pembersihan Pantai Perancak di Desa Perancak. Pantai ini merupakan bagian dari calon kawasan konservasi perairan di Kabupaten Jembrana dan sebagai area peneluran penyu di Jembrana. Mendukung kawasan tersebut untuk menjadi kawasan konservasi perairan di Kabupaten Jembrana, melalui pencegahan berbagai ancaman yang dihadapi oleh pantai tersebut, salah satunya dengan pencegahan kebocoran sampah plastik ke laut yang menjadi tanggung jawab bersama untuk menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap kawasan pesisir di kabupaten Jembrana.  

Menjawab kondisi ini, pemerintah daerah bersama lembaga masyarakat bekerja sama untuk menjaga pesisir dari bahaya sampah plastik melalui pembangunan kapasitas masyarakat dan manajemen sampah pesisir. Implementasi peningkatan kapasitas yang baru saja dilakukan adalah kegiatan Pelatihan Pendataan Sampah melalui inisiasi Plastic Free Ocean Network (PFON) dan kegiatan bersih-bersih pantai dalam agenda Bali Resik Sampah Plastik.

Menjaga Pesisir Perancak Melalui Pendekatan Citizen Science
Yayasan WWF Indonesia didukung oleh Indosat Ooredoo Hutchison melakukan pelatihan  kepada masyarakat yang berada di Desa Perancak, Kabupaten Jembrana untuk membangun inisiasi kelompok PFON menjadi bagian dari kelompok masyarakat untuk meningkatkan kesadartahuan publik terhadap pentingnya pengurangan sampah plastik sekali pakai, guna mencegah kebocoran sampah plastik ke laut. 
Di Pantai Perancak ada muara sungai tempat pelabuhan kapal-kapal yang akan melaut dari beberapa desa lain. Namun di sisi lain,  pantai ini juga merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Jembrana yang menjadi tempat peneluran penyu. Adanya aktivitas masyarakat di area tersebut kerap menimbulkan beberapa masalah sampah di pesisir pantai, seperti bekas-bekas jaring nelayan dan pecahan gabus. Tak hanya itu, di masa perubahan musim, banyak ditemukan sampah kiriman yang terdampar  di pesisir pantai tersebut.

PFON mendampingi masyarakat area sekitar untuk mengetahui cara melakukan pendataan jenis-jenis sampah yang ditemukan di daerah pesisir dengan pendekatan sains warga (citizen science). Ini berarti, pendataan dilakukan sepenuhnya berdasarkan partisipasi masyarakat lokal dan menjadikan mereka sebagai peneliti amatir. Pendekatan ini berfungsi untuk membangun kesadaran ilmiah dan kapasitas penelitian masyarakat lokal, khususnya untuk  pencegahan kebocoran sampah plastik di pesisir  Pantai Perancak.

Peserta pelatihan pendataan PFON Kabupaten Jembrana, Bali.

Pelatihan dilakukan selama satu hari dengan melibatkan Keluarga Besar Remaja Desa Perancak, mahasiswa Universitas Triatma Mulya, dan taruna Politeknik Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jembrana. 16 peserta yang terlibat belajar berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menjaga laut dari ancaman sampah plastik, mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai, pentingnya mengetahui jenis-jenis sampah plastik di pesisir, dan langkah-langkah untuk melakukan pendataan sampah plastik di pesisir bersama PFON. Sebagai bentuk akhir pelatihan, peserta diajak untuk bergotong-royong melakukan praktikum mendata sampah plastik di Kawasan Konservasi Penyu Kurma Asih – Pantai Perancak.

Salah satu peserta kegiatan bersih-bersih pantai, I Putu Dedi Hendrawan menyampaikan bahwa kegiatan bersih-bersih seperti sebaiknya dilakukan secara rutin, selain itu edukasi pada masyarakat di sepanjang aliran sungai juga dirasa perlu dilakukan. Karena sampah di muara sungai Pantai Perancak umumnya terbawa dari sungai, sehingga banyak ditemukan yang berada menyangkut pada ranting-ranting pepohonan.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh muda-mudi Perancak, terdapat lima jenis sampah yang ditemukan di Kawasan Konservasi Penyu Kurma Asih: 58,82% terdiri atas sampah plastik lunak, 17,65% sampah plastik keras, 11,76% sampah busa, dan masing-masing 5% sampah kaca dan karet. Pendataan ini diharapkan dapat menjadi awal dari komitmen masyarakat khususnya di kabupaten Jembrana dalam mengembangkan kegiatan PFON serta meningkatkan kesadartahuan masyarakat (public awareness) akan keberadaan dan ancaman sampah plastik lautan di sekitar Pantai Perancak. 

Bali Resik Sampah Plastik
Selain melakukan pendataan, rangkaian kegiatan juga dilakukan dengan  bersih-bersih pantai di Pantai Perancak. Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian acara ‘Bali Resik Sampah Plastik’ yang dilakukan di seluruh provinsi Bali untuk menyambut hari raya keagamaan Tumpek Wayang. Masyarakat diminta untuk merayakan Tumpek Wayang dengan melakukan Upacara Jagat Kerthi dan/atau Atma Kerthi (menegakkan kesucian bagi arwah) sebagai pelaksanaan nilai-nilai kearifan lokal Bali.

Pemerintah Kabupaten Jembrana bersama Stopping Tap on Ocean Plastics (STOP) dan Yayasan WWF Indonesia didukung oleh Indosat Ooredoo Hutchison melakukan kegiatan Bali Resik Sampah Plastik yang dilakukan di Kecamatan Jembrana, khususnya di Pantai Perancak. Terdapat 300 peserta yang terdiri dari Wakil Bupati Kabupaten Perancak, elemen Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana, Pemerintah Kecamatan Jembrana, Pemerintah Desa Perancak, TNI-Polri, serta lembaga masyarakat lokal.

Wakil Bupati Kabupaten Jembrana melakukan pembersihan sampah plastic di Muara Pantai Perancak
bersama Yayasan WWF Indonesia dan Indosat Ooredoo Hutchison. 

Wakil Bupati Kabupaten Jembrana, IGN Patriana Krisna, ST., M.T. meminta kepada masyarakat agar kegiatan pembersihan sampah pesisir tidak hanya dilakukan sebagai formalitas belaka, namun dapat diresapi sebagai penghayatan menghargai lingkungan. Selain itu, lembaga-lembaga masyarakat didorong untuk selalu mendampingi dengan berbagai edukasi kepada masyarakat dalam mengelola sampah berbasis sumber dan pemaknaan kearifan lokal sesuai dengan arahan Pemerintah Provinsi Bali.

Sekretaris Daerah Kabupaten Jembrana melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jembrana, Dewa Gede Ary Candra Wisnawa, S.STP, M.Si. juga menegaskan bahwa kegiatan bersih-bersih Pantai Perancak adalah wadah untuk memperkenalkan pembatasan penggunaan sampah plastik sekali pakai kepada warga Desa Perancak. “Kegiatan Resik Sampah Plastik tidak berhenti sampai di sini, tetapi harus dilanjutkan dengan aksi berhenti menggunakan plastik sekali pakai,” jelasnya.

Lokasi bersih pantai yang dipilih adalah di Muara Pantai Perancak dan pesisir Pura Segara Perancak, di mana kedua titik tersebut memiliki volume sampah plastik yang lebih banyak daripada lokasi lainnya di Pantai Perancak. Hasil bersih-bersih sampah tersebut mampu mengumpulkan sekitar 30 karung sampah plastik dengan total berat mencapai 590 kilogram. Jumlah ini merupakan berat kotor yang belum dihitung dengan residu yang menempel pada sampah plastik.

Kegiatan pendataan sampah pesisir dan bersih-bersih adalah langkah awal yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana, masyarakat Desa Perancak, dan Yayasan WWF Indonesia untuk mewujudkan Perancak sebagai desa yang peduli tentang kebocoran sampah plastik dan juga untuk mendukung Kawasan Konservasi Perairan di Jembrana. Harapan kedepannya program ini dapat terlaksana di desa lain secara berkala dengan sinergitas antar pemangku kepentingan dan masyarakat di Jembrana.

Cerita Terkini

The Last Long Earlobes

By: Ari Wibowo, Community Organizer in Kutai Barat, East Kalimantan, WWF-IndonesiaEditor: Arum Kinasih, WWF HoB C...

Sekolah Tzu Chi dan Panda Mobile Ajak Siswa Dukung Pelestarian Alam

Senin, 15 Juli 2019 adalah hari pertama sekolah bagi sebagian besar siswa di seluruh Indonesia. Biasanya, sekolah-...

Mewujudkan Hidup Selaras antara Manusia dan Gajah di Peusangan

Panik! ini terjadi pada warga Desa Karang Ampar dan Bergang, Aceh Tengah ketika dengar kabar ditemukan jejak Gajah...

Get the latest conservation news with email