Kembali

© Administrator

Administrator



Menjaga Keberlanjutan Perikanan Sidat di Indonesia

Posted by Administrator on 09 January 2019
Author by

Oleh: Faridz Rizal Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)

Baca Sebelumnya: Melacak Asal Usul Benih Ikan Sidat dari Sukabumi, Jawa Barat

“Permintaan benih sidat mulai meningkat banyak ketika pada tahun 2009 hingga sekarang,” cerita Bapak Yayan Supendi, seorang nelayan dan pengepul di Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. “Kami inginnya, perikanan benih sidat ini tetap lestari hingga masa depan karena sudah menjadi mata pencaharian para nelayan,” imbuh ia.
 
Bapak Yayan Supendi dan ratusan nelayan lainnya menghabiskan sepanjang malam menangkap benih sidat, dengan beberapa jam saja diluangkan untuk beristirahat. Jumlah mereka mencapai 100-200 orang, apabila masuk dalam musim puncak (Oktober – April) bisa mencapai 300-400 nelayan.
 
Di muara Sungai Cimandiri, laju penangkapan glass eel pada musim paceklik berkisar antara 20-40 gr/nelayan/malam dan mencapai 50-100 gr/nelayan/malam pada musim puncak. Hasil tangkapan nelayan ini akan ditampung sementara di pengepul sebelum dikirim ke perusahaan via darat dan udara.
 
Pentingnya Regulasi untuk Perbaikan Perikanan Sidat 
 
Kajian sumber benih sidat ini dilakukan dengan menghimpun berbagai informasi melalui wawancara dan data sekunder lainnya yang didapatkan dari seluruh stakeholder yang terlibat, antara lain nelayan, pengepul kecil, pengepul besar, perusahaan, NGO dan pemerintah.
 
Pemerintah telah menerbitkan regulasi yang mendukung pengelolaan ikan sidat, yakni Permen KP No. 19 tahun 2012 mengenai Larangan Pengeluaran Benih Sidat dari Wilayah NKRI ke luar wilayah NKRI (untuk pelarangan ekspor sidat di bawah ukuran 150 g).
 
Selain itu, Peraturan Bupati Sukabumi No. 25 tahun 2018 mengenai Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Ikan Sidat, serta Surat Edaran Bupati  Sukabumi (29 Maret 2018) terkait pencatatan produksi dan kewajiban restocking indukan ikan sidat bagi pelaku usaha.
 
Hasil penilaian awal mengenai penangkapan benih sidat di Sukabumi ini menjadi gambaran terkait arah kebijakan pengelolaan jenis ikan sidat menuju keberlanjutan di masa depan.
 
Dalam konsultasi publik laporan penilaian awal praktik perikanan benih sidat mengacu pada standar Marine Stewardship Council (MSC) (27/08/18), langkah yang dapat diambil untuk memperbaiki pengelolaan perikanan sidat adalah mendorong adanya Keputusan Menteri (KepMen) terkait status perlindungan sidat (terutama A. bicolor) oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJ-PRL) melalui program IFISH-FAO Project.
 
Dengan regulasi pemerintah, disinergikan dengan komitmen pebisnis perikanan, kita bisa selangkah menuju melestarikan ikan sidat di alam, salah satunya untuk menopang kehidupan nelayan pesisir kita, dimulai dari Jawa Barat.


Cerita Terkini

Mangrove

...

BEEP - Seri Jejak Ekologis

Buku panduan ini disusun oleh tim WWF-Indonesia program pariwisata bahari yang bertanggung jawab (Responsible Mari...

Siswa SPH Karawaci Menonton Film Perlindungan Satwa Bersama Panda Mobi

Rabu (04/03) pagi, tim Panda Mobile WWF-Indonesia berkesempatan menyampaikan pesan konservasi dalam acara Soccer C...

Get the latest conservation news with email