Kembali

© Konsorsium Pangan Bijak Nusantara

.



Changing the Food Future by Making Wise Choice Today

Posted on 16 October 2021
Author by Konsorsium Pangan Bijak Nusantara

There are two things that contradict each other when we talk about food. Not everyone can have access to the healthy and nutritious food they need for better life quality. While in countries that have access to healthy and nutritious food, they instead choose foods that are high in calories but low in nutrients. Only good on the tongue but not good for health.

Chef Ragil Imam Wibowo, the Nusantara Wisdom Food Ambassador, has deep concerns about this. For World Food Day 2021 he expressed "Eat better not less, eat wisely without waste." According to him, it is very important that people begin to be mindful in consuming food. Not just reducing (or increasing) the amount but choosing what is good for the body. He also recommends consuming food wisely and reducing food waste. Being fully aware as a food consumer is also important when it comes to the phenomenon of climate change. Amanda Katili Niode PhD, an activist, scholar, and expert in the field of environment and climate change, underscores the relationship between food and climate. "The food system is the cause of a third of all greenhouse gas emissions that trigger climate change," said Amanda. Amanda also added that the food system contributed to the loss of 80 percent of biodiversity. This situation is made worse by the presence of COVID-19.

What is the message of World Food Day 2021? "Understand the resources used for food production and choose more climate-friendly food!" Understanding food production resources, including land, seeds, technology, and producers, will make consumers more concerned about the impact of their consumption on climate change. Consumption of locally sourced products helps reduce greenhouse gases as well as resources used up in the food supply chain. Besides of course it can improve the economy of a region, support farmers, fishermen and foresters. "Food can cause problems as well as a solution to the climate crisis," continued Amanda. So, which one do we choose? Food that causes climate problems or food that can be a solution to the climate crisis? The choice is in our hands.

Wise Food Choice the Base of Indonesia's Future

Authentic Indonesian food shows the identity of the people: who we are, where we come from, and how we will survive in the era of global climate change and in the future. Realizing a food-sovereign Indonesia requires people who care about local and traditional cuisine, which can help preserve culinary roots, such as typical plants, recipes, and the culture from which the cuisine originates. Indonesia's diverse heritage food patterns are a strong basis for Indonesia's future food system.

Of the many varieties of native Indonesian food, one of them is sago. It used to be the main food source throughout the archipelago, but now it is attached as special food for the regions in eastern Indonesia. Dr.Saptarining Wulan, Ambassador of the Wise Food of the Archipelago, said that sago actually has great potential as a solution to food sovereignty. "As a source of carbohydrates from nature, sago can be developed to meet people's food reserves. Ecologically, sago is very suitable to grow in the archipelago so that it supports environmental sustainability. In addition, sago is healthy food."

There are still many other Indonesian food potentials that we need to explore and develop. Wise food that promotes local, healthy, fair, and sustainable values is the basis of a bright future for Indonesian food. Making it happen starts from making wise food choices, starting from yourself, your family, and the environment. Happy World Food Day!

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

MENGUBAH MASA DEPAN PANGAN DENGAN MEMBUAT PILIHAN BIJAK HARI INI

Ada dua hal yang saling bertentangan bila kita bicara soal makanan atau pangan. Tidak semua orang dapat memeroleh makanan sehat dan bergizi yang mereka butuhkan untuk hidup yang lebih berkualitas. Sementara di negara-negara yang punya akses untuk pangan sehat dan bergizi, mereka malah memilih makanan yang tinggi kalori namun rendah nutrisi. Hanya enak di lidah tapi tidak enak untuk kesehatan. 

Chef Ragil Imam Wibowo, Duta Pangan Bijak Nusantara, punya keprihatinan mendalam tentang hal ini. Untuk Hari Pangan Sedunia 2021 ia mengekspresikan "Eat better not less, eat wisely without waste." Menurutnya sangat penting orang mulai berkesadaran penuh dalam mengonsumsi makanan. Bukan sekedar mengurangi (atau menambah) jumlah, tetapi memilih apa yang baik untuk tubuh. Ia juga menganjurkan untuk mengonsumsi pangan secara bijak dan mengurangi limbah pangan. Berkesadaran penuh sebagai konsumen pangan itu juga penting kalau dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim. Amanda Katili Niode PhD seorang pegiat, penatar dan pakar di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim menggarisbawahi hubungan antara makanan dan iklim. "Sistem pangan merupakan penyebab sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim," ujar Amanda. Ia juga menambahkan bahwa sistem pangan itu berkontribusi terhadap punahnya 80 persen keanekaragaman hayati. Kondisi ini diperparah dengan adanya COVID-19. 

Apa pesannya di Hari Pangan Sedunia 2021? "Pahami sumberdaya yang digunakan untuk produksi makanan dan pilih makanan yang lebih ramah iklim!" Memahami sumberdaya produksi pangan di antaranya lahan, bibit, teknologi dan produsen, akan membuat konsumen lebih peduli dampak konsumsinya pada perubahan iklim. Konsumsi produk yang diperoleh secara lokal membantu mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam rantai pasokan makanan. Selain tentu dapat meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani, nelayan dan perimba. "Makanan dapat menyebabkan masalah sekaligus juga merupakan solusi krisis iklim," lanjut Amanda. Jadi, kita pilih mana? Pangan yang menyebabkan masalah iklim atau pangan yang bisa menjadi solusi krisis iklim? Pilihan ada di tangan kita.  

Pilih Pangan Bijak Pangkal Masa Depan Indonesia

Pangan asli Indonesia menunjukkan identitas masyarakat: siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita akan bertahan di era perubahan iklim global dan di masa yang akan datang. Mewujudkan Indonesia berdaulat pangan membutuhkan masyarakat yang peduli terhadap kuliner lokal dan tradisional, yang dapat membantu melestarikan akar kuliner, seperti tanaman khas, resep dan budaya tempat masakan tersebut berasal. Pola pangan warisan nusantara yang banyak ragamnya adalah basis kuat untuk sistem pangan Indonesia masa depan.

Dari banyak ragam pangan asli Indonesia, salah satunya adalah sagu. Dulunya pernah menjadi sumber pangan utama seantero nusantara, namun kini melekat sebagai pangan khas daerah-daerah di Indonesia bagian timur. Dr. Saptarining Wulan, Duta Pangan Bijak Nusantara menyebut sagu sesungguhnya memiliki potensi besar sebagai solusi kedaulatan pangan. "Sebagai sumber karbohidrat dari alam, sagu bisa dikembangkan untuk memenuhi cadangan pangan masyarakat. Sagu secara ekologis sangat cocok tumbuh di bumi nusantara sehingga mendukung kelestarian lingkungan. Selain itu sagu merupakan pangan sehat."

Masih banyak potensi pangan nusantara lainnya yang perlu kita gali dan kembangkan. Pangan bijak yang mengangkat nilai-nilai lokal, sehat, adil dan lestari adalah pangkal dari masa depan cerah pangan Indonesia. Mewujudkannya dimulai dari menetapkan pilihan pangan secara bijak, mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Selamat Hari Pangan Sedunia!


Cerita Terkini

Kura-kura Moncong Babi

Kura-kura moncong-babi (Carettochelys insculpta) yang merupakan satwa endemik Papua. Persebaran kura-kura moncong...

Belajar Mewarnai Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Storytelling

Tiap mengingat Training of Trainer (ToT) Nature X Youth for Biodiversity yang dilaksanakan bersama dengan rekan-re...

WWF-Indonesia Impact Stories 2018

Sepanjang 2013 hingga 2018, WWF melanjutkan dan memperluas upayanya untuk membangun masa depan di mana manusia hid...

Get the latest conservation news with email