Kembali

© Hakikat Ciliwung

Komunitas Hakikat Ciliwung melakukan ksi bersih sampah di Sungai Ciliwung.



Menengok Nasib Sungai Indonesia di Hari Sungai Sedunia

Posted on 13 October 2020
Author by Nur Arinta

Menurut Barbara J. Downes dalam bukunya yang berjudul Monitoring Ecological Impacts: Concepts and Practice in Flowing Waters, sungai merupakan sebuah ekosistem yang terbentuk dari aliran air tawar alami yang mengalir dari hulu hingga ke hilir. Sungai sejatinya merupakan ekosistem yang berperan penting dalam keberlangsungan hidup banyak makhluk hidup di Bumi ini, termasuk manusia. Selain sebagai sumber air dan menjadi habitat banyak biota air tawar, sungai juga berperan terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakat dan budaya kita.

Sejak dulu hingga saat ini, sungai masih banyak dimanfaatkan sebagai jalur transportasi, sumber energi berkelanjutan, sumber pangan, tempat melakukan budidaya, menjadi tempat rekreasi, hingga menjadi tempat yang memberikan mata pencaharian bagi masyarakat di sekitar sungai. Sayangnya, sungai hingga saat ini masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sungai dianggap sebagai “halaman belakang”, tempat membuang sampah dan limbah yang instan sehingga membuat banyak sungai tercemar, hulu sungai pun banyak yang tidak dijaga sehingga hal tersebut menimbulkan kerusakan terhadap ekosistem yang menjadi sumber kehidupan kita.

Dalam rangka memaknai Hari Sungai Sedunia tahun 2020, pada 27 September 2020 lalu, Yayasan WWF Indonesia mendukung salah satu komunitas pemerhati sungai bernama Hakikat Ciliwung dalam penyelenggaraan rangkaian kegiatan bertajuk “Dari Indonesia untuk Dunia”. Kondisi pandemi Covid-19 pun tidak menyurutkan semangat Hakikat Ciliwung dalam upayanya mengajak masyarakat untuk kembali ke sungai melalui aksi dan kampanye secara daring.

Kegiatan-kegiatan dalam acara ini diselenggarakan di salah satu sungai ikonik di Indonesia, yakni Sungai Ciliwung yang mengalir dari Gunung Pangrango melintasi kota Bogor, Depok, Jakarta, hingga akhirnya bermuara di Teluk Jakarta. Pada tanggal 24, 26, dan 27 September 2020, masyarakat dunia—khususnya masyarakat Indonesia diajak menengok bagaimana kondisi aliran Sungai Ciliwung dalam live streaming melalui akun Instagram @suparnojumar yang merupakan co-founder dari Hakikat Ciliwung. Metode ini dipilih karena dinilai paling efektif untuk menjangkau publik guna meningkatkan kesadartahuan masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian ekosistem sungai di tengah situasi pandemi ini.

“Sungai Ciliwung, salah satu sungai penting untuk Jakarta. Permasalahan di Ciliwung cukup pelik seperti pelanggaran aturan dengan berdirinya bangunan di atas garis sepadan sungai, membuang saluran tinja langsung ke sungai, pelaku usaha yang membuang limbah dan sampah ke sungai hingga sub daerah aliran sungai,” jelas Suparno.

Tak hanya menyebarkan pesan konservasi sungai melalui media sosial, Hakikat Ciliwung juga menyelenggarakan webinar bertema “Sungai dan Segala Permasalahannya” pada 25 September 2020. Webinar ini menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya Broer Nicko (Jagakali Cirebon), Suparno Jumar (Hakikat Ciliwung), Bjonar Hotvedt (Kedutaan Besar Norwegia untuk Indonesia), dan dimoderasi oleh Priadi Wibisono. Seperti temanya, dalam bincang daring ini para narasumber memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan dan konservasi sungai di Indonesia. Melalui diskusi dalam kegiatan ini, diharapkan solusi dan peluang kolaborasi untuk menjawab berbagai permasalahan dalam konservasi sungai ke depan.

Broer Nicko dari komunitas Jagakali Cirebon menyampaikan bahwa sebagai upaya kolektif untuk meningkatkan kepedulian terhadap sungai, setiap individu perlu mengambil peran. “Sebagai pekerja seni, kami memasukkan pesan-pesan kepedulian terhadap sungai dilakukan melalui berbagai kegiatan seni budaya seperti lagu, tarian, drama, dan mengolah limbah sampah menjadi barang berdaya guna. Kami merasa cara ini cukup efektif untuk menarik perhatian masyarakat agar memiliki wawasan lingkungan,” pungkasnya.

Tak dapat dipungkiri, sungai merupakan salah satu ekosistem penting yang turut menopang kesejahteraan dan keberlangsungan hidup manusia masih menghadapi banyak problematika, seperti persoalan sampah, rusaknya ekosistem hulu, hingga pendangkalan badan sungai. Berbagai permasalahan itu pun pada akhirnya menimbulkan bencana seperti banjir yang pada akhirnya berdampak negatif bagi kehidupan kita. Hari Sungai Sedunia ini menjadi momentum penting yang mengingatkan kita semua untuk mulai membuka mata dan peduli pada kelestarian ekosistem ini.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mulai berkontribusi dalam menjaga ekosistem sungai di sekitar kita. Kita bisa mulai mendukung pemeliharaan dan restorasi hutan di hulu sungai, mendukung kebijakan pemerintah yang melindungi kelestarian sungai, tidak membuang limbah dan sampah ke sungai, memperhatikan aturan pemanfaatan sungai dan bantaran sungai, turut serta dalam kegiatan pemeliharaan sungai, dan juga mendukung kampanye pelestarian sungai.

Sudah saatnya kita menjaga ekosistem sungai. Karena dengan menjaga sungai, sama artinya dengan turut menjaga sumber kehidupan kita untuk sekarang dan masa depan.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________

Looking at the Fate of Indonesian RIver on World River Day


According to Barbara J. Downes in her book, Monitoring Ecological Impacts: Concepts and Practice in Flowing Waters, a river is an ecosystem formed from natural freshwater flows from upstream to downstream. The river is an ecosystem that plays a prominent role in the survival of many living things on this Earth, including humans. Apart from being a source of water and a habitat for many freshwater biota, rivers also play a role in the growth and development of our society and culture.



Since long time ago up to the present day, rivers are still widely used as a transportation route, a source of sustainable energy, a source of food, a place for cultivation, a place for recreation, and a place that provides a livelihood for the people living surrounding  around the river. Unfortunately, the river is still underestimated by the community. The river is considered as a "backyard", a place to dump trash and waste that is instantaneously polluting many rivers, many of the upstream rivers are not maintained, causing damage to the ecosystem which is our source of life.


In order to give meaning to World River Day 2020, on September 27 2020, the WWF Indonesia supported a river observer community called Hakikat Ciliwung in organizing a series of activities entitled "From Indonesia to the World".  Covid-19 pandemic has not dampened the spirit of Ciliwung Nature in its efforts to invite people to return to the river through online actions and campaigns.



This event was held in one of the iconic rivers in Indonesia, namely the Ciliwung River which flows from Mount Pangrango across the cities of Bogor, Depok, Jakarta, and finally empties into Jakarta Bay. On September 24, 26, and 27 2020, people of the world especially Indonesians were invited to see how the Ciliwung River flows in live streaming through the Instagram account @suparnojumar, which is the co-founder of Hakikat Ciliwung. This method was chosen because it was considered the most effective way to reach the public to increase public awareness of the importance in preserving river ecosystems amid this pandemic situation.



"Ciliwung River, one of the important rivers for Jakarta. The problems in Ciliwung are quite complex, such as violations of regulations by establishing buildings on a river-like line, disposing of feces channels directly into the river, business actors disposing of waste and rubbish into the river to sub-river basins," said Suparno.



Not only spreading the message of river conservation through social media, but Hakikat Ciliwung also held a webinar with the theme "Rivers and All Its Problems" on September 25, 2020. This webinar presented several sources, including Broer Nicko (Jagakali Cirebon), Suparno Jumar (Hakikat Ciliwung), Bjonar Hotvedt (Norwegian Embassy for Indonesia), and moderated by Priadi Wibisono. As with the theme, in this webinar, the speakers explained the various challenges faced in river management and conservation in Indonesia. Through discussions in this activity, it is hoped that solutions and opportunities for collaboration to answer various problems in river conservation in the future.



Broer Nicko from the Jagakali Cirebon community said that as a collective effort to increase awareness of the river, each individual needs to take a role. "As art workers, we include messages of concern for the river through various cultural arts activities such as songs, dances, dramas, and processing waste into useful items. We feel that this method is quite effective in attracting people's attention so that they have environmental insight," he concluded.



It is undeniable that rivers are one of the important ecosystems that contribute to the welfare and survival of humans still face many problems, such as waste problems, damage to upstream ecosystems, to silting of river bodies. These various problems eventually lead to disasters such as floods which in turn harm our lives. World River Day is an important moment to remind us all to start opening our eyes and care for the preservation of this ecosystem.



There are many things we can do to start contributing in maintaining the river ecosystem around us. We can start supporting the maintenance and restoration of forests upstream, supporting government policies that protect river sustainability, not throwing waste and garbage into rivers, paying attention to regulations on river use and riverbanks, participating in river maintenance activities, and also supporting river conservation campaigns.



It is time for us to protect the river ecosystem. Because by protecting the river, it means protecting our source of life for the present and the future.


Cerita Terkini

Mangrove Brotherhood: Wadah Pertemuan Pegiat Lingkungan Pinrang

Pada 5 – 6 September 2020, sekitar 280 anak muda berkumpul di Dusun Tanroe, Desa Baba Binanga, Kecamatan Duampan...

Asap Tak Menghalang Niat Belajar Para Pengajar

Api kebakaran hutan dan lahan masih menyala di sebagian wilayah di Provinsi Riau. Asap semakin tebal hingga membua...

Mengunjungi “Rumah Badak”, Volunteer HSBC Wujudkan Kepedulian Terh

Pagi itu, Sabtu (23/09), sehari setelah seremoni peringatan Hari Badak Sedunia 2017, area Cilintang di kawasan Tam...

Get the latest conservation news with email