Kembali

© Danny Moenggoro/WWF-Indonesia

Semangat peserta Training of Trainer Nature x Youth Regional I



Membangun Peradaban Melalui Pendidikan

Posted on 02 May 2020
Author by Roqsunnisa Dienda

Pendidikan  menjadi  salah  satu  komponen  dasar  ataupun  fokus  pada  Sustainable Development  Goals  2030  (SDGs)  yang  disahkan  sejak  25  September  2015  melalui  Sidang Umum  Perserikatan  Bangsa  Bangsa  (PBB). Hal  ini  menunjukkan  aspek  penting  dapat  dicapai melalui  pendidikan.  Dalam  sejarah  peradaban  dunia,  perkembangan  kehidupan  dapat  berjalan pesat  setelah  ilmu  pengetahuan  berkembang.  Indonesia  contohnya,  sejak  diterapkannya  politik elit/politik  balas  budi  oleh  Belanda  untuk  membangun  pendidikan  di  Indonesia,  para  kaum terpelajar lahir dan berkembang. Pemikiran tumbuh subur melahirkan tokoh tokoh pembangun bangsa  seperti  Ki  Hajar  Dewantara  yang  juga  mengenyam  pendidikan  di  Sekolah  Belanda. Hebatnya,  Raden  Mas  Soewardi  Soerjaningrat  atau  yang  lebih  dikenal  dengan  Ki  Hajar Dewantara  ini,  mampu  mendobrak  sistem  pendidikan  kolonial  yang  hanya  terbatas  pada kalangan elit saja. Melalui pendirian Taman Siswa beliau dapat mengembangkan pendidikan di tanah   air   sehingga  mampu   melahirkan   generasi-generasi   terdidik   yang   berhasil   merebut kemerdekaan  Indonesia.  Pergerakan  Ki  Hajar  Dewantara  sebagai  aktivis  pendidikan  tentu  saja tidak  mudah  berbagai  rintangan  dan  tantangan  terus  dihadapi  namun  semangat  juangnya  terus ada.  Perjuangannya,  tak  lekang  oleh  waktu.    Melalui  pendidikan,  ilmu  pengetahuan    dan peradaban  dapat  berkembang  pesat.  Adapun  Ki  Hajar  Dewantara  sebagai  Bapak  Pendidikan Indonesia menuturkan:

“Di  dalam  hidupnya,  anak-anak  adalah  tiga  tempat  pergaulan  yang  menjadi  pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda.”

Ki  Hajar  Dewantara  menuturkan  bahwa  alam  pergerakan  pemuda  juga  menjadi  salah satu pusat pendidikan. Begitu pula dedikasi beliau dalam memperjuangkan pendidikan maupun kemerdekaan menjadi cermin bagaimana ranah alam pergerakan pemuda dilaksanakan. Melalui pendidikan  pula  kita  dapat  meningkatkan  manusia  yang  lebih  berbudaya.  Berbudaya  dalam masyarakat maupun berbudaya dalam kehidupan. Menjaga segala aspek termasuk bumi dengan segala  penghidupannya.  Kerusakan  mengenai  tatanan  sosial  dan  kerusakan  alam  menjadi tanggung jawab bersama. Permasalahan ini dapat diatasi dengan meningatkan kesadaran setiap individu  melalui  pendidikan  untuk  pembangunan  yang  berkelanjutan.  Penggerak  pendidikan dapat dilakukan oleh siapapun. Terlebih pemuda sebagai agent of changes. Sudah terbukti dalam sejarah bahwa pergerakan pemuda dapat membentuk kekuatan mendasar bagi sebuah perubahan. Pengorganisasian  masa  seperti  budi  utomo  misal,  ataupun  penghimpunan  pemuda  daerah,  atau bahkan  generasi  muda  dalam  memperjuangkan  kemerdekaan  bangsa.  Meskipun  tak  semuanya efektif, organisasi tersebut dapat meningkatkan eskalasi pergerakan bangsa dalam satu cita-cita, menuju Indonesia merdeka. Begitu pula saat ini, setelah terjadinya berbagai kerusakan termasuk ancaman  alam  seperti  bencana  dan  perubahan  iklim,  akibat  aktivitas  manusia,  tentu  sangat berpengaruh  pada  kehidupan  kita.  Kemerdekaan  atas  kerusakan  yang  terjadi  dapat  dicapai melalui penyadaran pada setiap individu. Peran pemuda dibutuhkan dalam pergerakan maupun pengorganisasian. Aktif dalam kegiatan kepemudaan baik sekadar memberikan aspirasi, maupun aksi nyata di lapangan menjadi hal yang dapat diupayakan untuk sebuah perubahan.

Keterlibatan  pemuda  dalam  penyadaran  masyarakat  salah  satunya  tercermin  pada kegiatan yang diadakan oleh WWF-Indonesia melalui  Education for  Sustainable  Development  (ESD).  Dalam  kegiatan  ini,  pemuda  yang  merupakan  perwakilan setiap daerah diberi pemaparan materi mengenai pelestarian alam melalui pendidikan. Targetnya para  pemuda  dapat  memberikan  edukasi  mengenai  pelestarian  alam  kepada  anak  sekolah  pada usia  SD  dan  SMP.  Pergerakannya  tercermin  melalui  usaha  mengenalkan  lingkungan  serta memupuk  rasa  memiliki  terhadap  lingkungannya  kepada  siswa.  Rasa  kepemilikan  ini  dapat menimbulkan  keinginan  untuk  menjaga  apa  yang  telah  dimiliki,  termasuk  menjaga  alamnya. Pengetahuan  dasar  mengenai  alam  serta  segala  kehidupan  di  sekitar  dapat  meningkatkan kepedulian  anak  juga  sebagai  upaya  membentuk  pola  budaya  dalam  pelestarian  lingkungan. Dalam memberikan pendidikan lingkungan hidup, peserta ditantang untuk menggunakan metode yang menarik sehingga memberikan hak pada siswa untuk belajar secara merdeka sesuai dengan pengajaran  yang  telah  diberikan  sebelumnya.  Kegiatan  ini  terbukti  mampu  meningkatkan antusiasme  siswa  dalam  belajar  dan  mengenal  lingkungannya.  ESD  hanya  satu  contoh  dari begitu banyak pergerakan yang dapat dilakukan pemuda untuk memberikan pencerdasan sosial. Melalui  pendekatan  yang  sesuai,  pencerdasan  kepada  masyarakat  dapat  memberikan  dampak yang  signifikan  guna  meningkakan  kualitas  kehidupan  untuk  terus  membaik.  Termasuk  dalam merawat peradaban bumi dengan segala penghidupannya.


Cerita Terkini

Memperkenalkan Sustainable Development Goals (SDGs) Mempersiapkan Desa

Melalui Melawi Youth Program yang diusung oleh WWF Indonesia dan SuaR Institute 2016  telah melahirkan Forum ...

Pertemuan Perdana Volunteer Panda Mobile Angkatan 2019

Pada Sabtu (07/09) lalu, WWF-Indonesia mengundang 41 relawan baru untuk menghadiri pertemuan perdana volunteer Pan...

Ikan Mola-Mola Terdampar di Muara Sungai Waehaong, Teluk Ambon

Oleh: Abdul Maskur Marasabessy/MPA and Biodiversity Officer Seram Seascape Jumat, 11 Januari 2019, seekor ika...

Get the latest conservation news with email