Kembali

© Yayasan WWF Indonesia / Qodly Zaka Sy

.



Melindungi Hulu Ciliwung dengan Minum Kopi

Posted on 26 July 2021
Author by Fakhri N. Syahrullah

Siapa yang tidak mengenal kopi, minuman yang cukup digemari oleh berbagai kalangan baik, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Tahukah Sobat, kopi merupakan komoditas tanaman perkebunan yang paling banyak diperdagangkan? Ada dua jenis varietas tanaman kopi yang banyak dibudidayakan di Indonesia, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan kopi robusta (Coffea robusta). Dua jenis kopi ini juga yang banyak ditemukan di perkebunan kopi milik masyarakat di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, tepatnya di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. 

Kopi Cibulao sudah mulai dikenal ketika pada tahun 2016, kopi robusta Cibulao memenangkan Kontes Specialty Coffee Indonesia. Kopi Cibulao juga dikenal sebagai kopi konservasi, karena dulunya kawasan ini sempat mengalami kekeringan dan juga bencana longsor, dikarenakan kurangnya daerah resapan air. Namun setelah ditanami kopi dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, kopi di Cibulao mulai tumbuh subur. Apalagi untuk menanam kopi, dibutuhkan juga pohon peneduh lain seperti pohon Suren, Pinus, Puspa dan lain-lain. Sehingga adanya kopi dan pohon peneduh lainnya ini dapat menurunkan tingkat erosi, yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama penyebab banjir.  

Melihat pengaruhnya terhadap perlindungan hulu DAS Ciliwung dan juga terhadap perekonomian  masyarakat setempat, Yayasan WWF Indonesia dan PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) bekerja sama untuk mendukung pengembangan kopi Cibulao yang berkelanjutan. Hal ini dilakukan bersama-sama dengan pemangku kepentingan lainnya dengan berbagai kegiatan seperti penguatan dan dan peningkatan kapasitas kelembagaan, praktik prinsip-prinsip pertanian kopi yang bertanggung jawab dan lain-lain. 

Beberapa pelatihan telah dilakukan, salah satunya adalah pelatihan budidaya kopi yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka langsung oleh perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor. Para peserta kegiatan ini berasal dari beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH) dari Kabupaten Bogor, yaitu KTH Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao, KTH Cikoneng, KTH Rawa Gede, KTH Cisuren.

“Kopi, selain memiliki nilai ekonomi, juga tinggi nilai konservasinya. Ini yang harus terus dijaga, bagaimana caranya agar kebun-kebun kopi bisa turut menjadi “hutan kopi” karena kebun kopi juga perlu pohon lain yang menjadi naungan untuk tumbuh,” tutur Ayu Suteja, trainer kopi dari Gunung Puntang Bandung, saat memberikan pelatihan. Ayi juga menjelaskan pentingnya kegiatan sharing dan pelatihan seperti ini untuk rutin dilakukan agar menambah wawasan dan keahlian para petani kopi. 

“Kami masih sangat awam dalam hal budidaya kopi dan sangat menantikan adanya pelatihan seperti ini. Untuk membudidayakan kopi secara baik dan berkelanjutan, aspek konservasi tanah dan air sangat penting, sehingga bisa menjadi tanaman peneduh pun bisa tumbuh subur dan berdampingan dengan tanaman kopi,’’ ujar Kang Dudi, petani kopi dari Kampung Rawa Gede.

Semoga dengan upaya-upaya yang telah dilakukan para petani kopi di Hulu Ciliwung ini bisa memberikan kontribusi positif bagi pelestarian lingkungan, khususnya untuk pelestarian sungai Ciliwung, yang dampaknya akan dirasakan sampai ke hilir.


Cerita Terkini

Produsen Udang di Jember Laksanakan Aksi Lingkungan

Jember, 10 Januari 2020 – Bergabung dengan program perbaikan perikanan WWF-Indonesia melalui keanggotaan Seafood...

CEO WWF-Indonesia Menjadi Pimpinan Inisiatif Global di Asia Pasifik

WWF-Indonesia Antusias Atas Penunjukan Rizal Malik sebagai Pimpinan Inisiatif Global “New Deal for Nature dan Pe...

BMP Perikanan Lobster

Penulis: Windy Rizki (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)Better Management Practices (BMP), Seri Pandua...

Get the latest conservation news with email