Melihat Konservasi dari Mata Adat Istiadat

Posted by Anastasia Joanita on 29 May 2019
Author by WWF-Indonesia/Victor Fidelis Sentosa

Suku asli Borneo, dikenal dengan Suku Dayak, memiliki banyak adat istiadat, budaya dan kearifan lokal. Mereka cukup kuat untuk mempertahankan semua itu. Perjalanan ke wilayah Kabupaten Mahakam Ulu dan Kabupaten Kutai Barat menjumpai beberapa kegiatan atau upacara ritual tersebut.

Mengintip Adat Istiadat Suku Dayak

Saat tiba di Kampung Long Tuyoq, Kabupaten Mahakam Ulu, suasana sangat sunyi. “Salah satu penghuni Rumah Lamin (red: rumah panjang asli Suku Dayak Long Gliit) baru saja meninggal dunia,” Arbiyansah Jueng (Arbi), nara sumber kami menjelaskan.

Ine Uk Tuko, salah satu penghuni Rumah Lamin yang dihormati dan dituakan, meninggal dunia dan dimakamkan 2 hari sebelum kami tiba. Arbi melanjutkan, “Tradisi di sini bila ada yang meninggal di Lamin seluruh penduduk tidak boleh melakukan acara yang ramai. Hal ini dilakukan untuk menghormati keluarga yang sedang berduka.”

Budaya di Dayak Long Gliit, Upacara Pelepasan atau Ngem’aang dilakukan 3 hari setelah jenazah dimakamkan. Kami diundang untuk mengikuti keseluruhan upacara ini. Sejumlah besar kerabat dan penghuni kampung gotong royong untuk prosesi ini. Kegiatan diawali dengan menyiapkan makanan khas kampung bersama-sama yang dimasak secara tradisional menggunakan kayu bakar.

Siang harinya, syukuran makan bersama keluarga besar dan tamu dilakukan di Rumah Lamin. Acara diawali dengan ibadah singkat dan doa dipimpin oleh Pastor karena mayoritas warga di Kampung Long Tuyoq beragama Katholik.

Acara berlanjut dengan pemilihan sesajen makanan yang akan dibawa ke kuburan untuk dipersembahkan. Sebelum dibawa, sambil membelakangi makanan dan dengan tangan kiri, seluruh penghuni Lamin serta para tamu menyentuh makanan dipimpin oleh Ibu bertelinga panjang.

Sore harinya, menjelang senja, ada upacara Pembersihan yang dipimpin oleh Kepala Adat.  Kegiatan ini dilakukan untuk mengusir roh jahat bagi semua yang pergi ke kuburan. “Semua yang datang ke kuburan harus dibersihkan supaya tidak membawa pulang penghuni di sana,” Ibu Katarina pemilik homestay menjelaskan tentang fungsi dari Pembersihan.

Lain lagi di Kampung Barong Tongko, Kabupaten Kutai Barat. Di wilayah ini kami menyaksikan upacara bagi orang meninggal baru atau sekitar 21 hari setelah dimakamkan yang disebut dengan Kenyau. Kegiatan dilakukan selama 4 hari, dan pada acara puncak ada kegiatan mempersembahkan sapi. “Persembahan binatang itu merupakan syarat dari upacara ini,” salah satu kerabat yang meninggal bercerita sesaat sebelum upacara dilaksanakan.

Di dalam tempat acara, terlihat beberapa sesajen yang bertumpuk sebagai bagian dari syarat ritual. Tidak jauh, ada beberapa tulang dari satu orang keluarga lain yang sudah meninggal diletakkan di dekat sesajen. Di dekat tempat upacara di buat Bluntang  atau patung yang melambangkan orang yang meninggal.

Kegiatan upacara lain kami bisa saksikan dari luar rumah di Linggang Melapeh, Kabupaten Kutai Barat.  Belian, demikian namanya, adalah upacara yang dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit. “Ini sakitnya sudah tingkat 3, tingkat paling tinggi karena rumah sakit sudah tidak bisa lagi menyembuhkan,” seorang pria, warga sekitar yang turut menyaksikan jalannya upacara, menjelaskan.

Pemeliat Suhu penyebutan bagi orang yang memimpin upacara. Upacara Belian tersebut dilakukan selama 4 hari dan berlangsung mulai dari sekitar jam 7 malam sampai jam 3 atau 4 pagi keesokan harinya. Pemeliat Suhu dan murid-muridnya menari-mari dengan lagu Bahasa lokal. Di dalam rumah yang sakit, dan di halaman samping tampak tumpukan sesajen yang disiapkan untuk upacara.

Masih di Linggang Melapeh…

Beberapa perempuan Suku Dayak melakukan tradisi sauna dan mandi di alam. Betimung, demikian istilah dalam bahasa lokal. Ibu-Ibu bersama gadis yang akan mandi mencari pucuk-pucuk daun, akar, batang dan bumbu-bumbu. Bahan tersebut direbus sampai mengeluarkan aroma yang wangi, lalu dimasukkan dalam kurungan yang tertutup rapat dimana gadis-gadis sudah ada di dalamnya. Kegiatan ditutup dengan mandi dan keramas di sungai yang juga menggunakan bahan yang mereka kumpulkan di hutan.

“Betimung ini membuat rambut menjadi halus, dan juga membersihkan kotoran-kotoran di kulit badan,” Yovita, Ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, Kampung Linggang Melapeh menyampaikan tujuan dari ritual ini. Tidak heran kalau kulit gadis Suku Dayak putih dan bersih.

Lalu, Mengapa Konservasi?

Menelurusi kembali ritual budaya, masyarakat hampir selalu membutuhkan barang-barang yang mereka ambil di hutan. Di Long Tuyoq misalnya, selain kayu bakar, kami juga melihat mereka memasak nasi di dalam bambu. “Nasinya jadi lebih gurih dimasak dengan cara ini,” Pak Lawing, salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata menjelaskan.

Sementara ritual-ritual lainnya selalu membutuhkan sesajen dan bahan-bahan yang disiapkan cukup banyak, bertumpuk-tumpuk, dan kadang untuk upacara tertentu perlu waktu berhari-hari. “Lihat tuh… banyak sekali sesajennya. Itu semua mereka ambil dari hutan di sekitar sini,” Sofyan, perwakilan dari TFCA Kalimantan, menunjuk sesajen di tempat kami menyaksikan upacara Belian.

Masyarakat lokal sadar sekali bahwa mereka perlu hutan untuk beberapa kebutuhan mereka. Mereka juga paham bahwa mereka harus menjaga dan memelihara hutan sekitar mereka. Bahkan beberapa kampung tercatat secara terang-terangan menolak datangnya perkebunan sawit di wilayah mereka karena mereka tahu bahwa sawit akan menghabiskan air tanah. Mereka mengerti efek jangka panjangnya merusak hutan, sumber bahan-bahan ritual mereka.

“Aturan adat cukup kuat bagi mereka yang tertangkap merusak alam. Di sini, manusia dan alam menyatu,” demikian Arbi turut menjelaskan pentingnya hutan bagi Suku Dayak. 


Catatan: Kunjungan ini didukung juga oleh Yayasan Kehati, TFCA Kalimantan, dan dilakukan bersama dengan team Jejak Petualang Trans7, serta 2 orang media dari Kompas da Media Indonesia.


Cerita Terkini

BMP Perikanan Kepiting Bakau

BMP Perikanan Kepiting Bakau

Badak Sumatera Kritis, Tim Khusus dari Sumatera dan Kalimantan Dilatih untuk Menemukan dan Menyelamatkan Mereka

Badak Sumatera Kritis, Tim Khusus dari Sumatera dan Kalimantan Dilatih untuk Menemukan dan Menyelama

Bangkitknya Kelompok Masyarakat Desa Penyangga Ujung Kulon Setelah Tsunami

Bangkitknya Kelompok Masyarakat Desa Penyangga Ujung Kulon Setelah Tsunami

Get the latest conservation news with email