Kembali

© Administrator

Administrator



Melacak Asal Usul Benih Ikan Sidat dari Sukabumi, Jawa Barat

Posted on 09 January 2019
Author by

Oleh: Faridz Rizal Fachri (Capture Fisheries Officer, WWF-Indonesia)

Selepas maghrib, muara Sungai Cimandiri, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, ramai dengan nelayan yang tengah menggunakan sodok dan anco (sejenis push net dan lift net) untuk menangkap benih sidat (glass eel).
 
Dengan penerangan lampu petromax dan baju anti air, nelayan menangkap benih sidat di tepi pantai tepat pecahan gelombang datang. Mereka mengayunkan sodok dan anco pada permukaan gelombang datang seakan menyaring benih sidat yang berusaha muncul ke permukaan ketika bulan gelap.
 
Perairan Indonesia memang habitat bagi ikan sidat tropis, mulai dari pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Kalimantan, hingga perairan Sulawesi, Maluku, dan Papua. Indonesia memiliki 10 spesies ikan sidat (Arai, 2016). Namun, yang cukup populer untuk pasar ekspor Jepang adalah dari jenis A. bicolor bicolor.
 
Untuk pertama kalinya, WWF-Indonesia bersama mitra akademisi dari Universitas Diponegoro melakukan penilaian awal praktik penangkapan (pre-assessment) benih ikan sidat (glass eel) untuk rantai pasar PT Iroha Sidat Indonesia di wilayah perairan Sukabumi, Jawa Barat (12/06/18).
 
Praktik penangkapan benih sidat di Sukabumi sendiri terpusat di beberapa wilayah muara sungai, dengan lokasi utama berada di muara Sungai Cumandiri, Sukabumi dengan menggunakan anco (lift net) dan sodok (push net), proses ini dilakukan tanpa menggunakan armada.

Ada Apa dengan Ikan Sidat?

Ikan sidat berbeda dengan belut yang hidup di lumpur. Berbentuk menyerupai belut, ikan sidat mungkin tidak terlalu populer bagi masyarakat Indonesia. Tapi, komoditas perikanan sidat sangat populer di Asia Timur, terutama Jepang, dengan nama dagang kabayaki. Jepang mengkonsumsi hingga 70% produksi belut di dunia.
 
Tingginya permintaan kabayaki menimbulkan tekanan pemanfaatan yang cukup besar bagi sumber daya sidat lokal asli Jepang dari jenis Anguilla japonica. Melihat fakta menurunnya populasi ikan sidat di Jepang, banyak pelaku bisnis mulai melihat pentingnya menyediakan produk olahan ramah lingkungan, termasuk PT Iroha Sidat Indonesia.
 
PT Iroha Sidat Indonesia (ISI) adalah perusahaan produksi ikan sidat ekspor dalam bentuk kabayaki ke Jepang dan menjadi salah satu anggota dari Seafood Savers, inisiatif WWF-Indonesia untuk menjembatani pelaku bisnis menuju perikanan berkelanjutan.
 
Jika mengacu pada standard Marine Stewardship Council (MSC), perikanan sidat tergolong dalam enhanced fisheries, yaitu perikanan yang menggunakan bibit dari alam untuk praktik budi daya. Setelah mengambil benih, perusahaan melakukan budi daya sidat di tambak hingga mencapai ukuran panen. Selanjutnya, sidat diolah menjadi sidat panggang (kabayaki) beku di pabrik pengolahan.
 
Nah, agar pemanfaatan ikan sidat tetap berkelanjutan, penting untuk memastikan sumber benih ikan sidat yang akan digunakan oleh industri. Hal ini untuk menjamin keterlacakan sumber benih yang praktik penangkapannya sesuai kaidah ramah lingkungan.

Baca Selanjutnya: Menjaga Keberlanjutan Perikanan Sidat di Indonesia


Cerita Terkini

Inisiatif multi-pihak untuk mendorong praktik keuangan berkelanjutan d

Singapura, 21 Januari 2019 - Hari ini Asia Sustainable Finance Initiative (ASFI) yang bertujuan untuk mendorong pe...

WWF-Indonesia Jalin Kemitraan dengan PT PLN untuk Tingkatkan Kualitas

Yayasan WWF Indonesia dan PT PLN (Persero) melakukan penadatanganan Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (...

Sosok dibalik Penyelamatan Badak Sumatera di Taman Nasional Bukit Bari

Oleh: Dedi Kurnia Putra, Irfan Nurarifin, dan Hijrah Nasir Nyanyian serangga mewarnai perjalanan tim pagi ini...

Get the latest conservation news with email