Kembali

© Administrator

Administrator



Masyarakat Alor Catat Sampah di Pantai Kadelang: 62.7% Adalah Plastik Lunak

Posted by Administrator on 15 March 2019
Author by Ratih Permitha S (Plastic Free Ocean Program Assistant), Alexandra Maheswari Waskita (Marine Tourism Officer Alor)

Dalam Pelatihan Pendataan Sampah Melalui Jejaring Citizen Science (18/12/18) di Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor, peserta melakukan simulasi pengambilan data sampah di kawasan Pantai Kadelang, Kalabahi. 48 peserta yang berasal dari perwakilan unsur pemerintah, organisasi, kelompok masyarakat, pelajar, hingga mahasiswa Universitas Tribuana Kalabahi. Para pemerhati lingkungan ini antusias mempelajari bagaimana cara mendata sampah yang ada di pantai, agar menjadi data ilmiah yang kedepannya bisa menjadi referensi kebijakan pengelolaan sampah di Kabupaten Alor.

Peserta pelatihan belajar mengisi lembar kerja untuk mendata jumlah dan mencatat jenis sampah apa yang di dapatkan, beserta merek produk apa saja yang ditemukan pada setiap titik pengambilan data. Pendataan survei sampah ini menggunakan sistem sampling secara acak (random sampling), dengan penggunaan transek atau garis sebagai jalur pendataan keberadaan sampah.

“Hasil sampah dengan angka tertinggi termasuk dalam tiga kategori jenis sampah yaitu plastik lunak, 62,73%; plastik keras 12,66%, dan karet, 9,14%,” simpul Made Putri Karidewi.

Hasil ini menjadi sumber data awal untuk melakukan pendataan setiap bulan sepanjang tahun 2019. Pembetukan Jaringan Citizen Science di Kabupaten Alor akan mendata sampah di 8 titik perwakilan kecamatan yang telah disepakati berdasarkan kondisi akses pantai, arah arus laut berdasarkan musim, serta kesesuaian lokasi dengan metode yang digunakan. Kedelapan titik tersebut adalah Kalabahi Timur, Alor Kecil, Kokar, Pante Deere, Lembur Barat, Moru, Taramana, dan Mausamang.

“Universitas Tribuana siap mengolah data sampah yang terkumpul pada pendataan sampah bulanan nantinya, untuk disampaikan kepada pemerintah dalam menunjang perumusan kebijakan sampah di Alor,” ungkap Bapak Alvonso F. Gorang, S.Sos., M.Si.

Inisiasi solusi masalah sampah melalui program daur ulang (recycle) tengah dilakukan oleh Departemen Kimia Universitas Tribuana Kalabahi bersama mahasiswa dan siswa/i dari SD Gideon Kalabahi, Alor. Selain itu, terdapat upaya pendirian Bank Sampah Mutiara juga telah diinisiasi sebelumnya pada tahun 2014 oleh sekelompok pemerhati lingkungan. Hal ini menunjukkan telah terdapat kesadaran dan panggilan dari berbagai komunitas untuk ikut serta berpartisipasi untuk mengatasi permasalahan sampah.

Berbagai upaya ini, semoga dapat dikuatkan dengan informasi yang terkumpul dari gerakan pendataan sampah berbasis warga/komunitas. Data sampah memiliki peran penting untuk advokasi penyusunan regulasi persampahan, menyusul peraturan yang telah dikeluarkan di Denpasar, Bogor, Banjarmasin, dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Harapannya sederhana – semakin banyak masyarakat yang peduli dan tergerak untuk melakukan aksi nyata dalam pengurangan sampah (reduce) dan selanjutnya melakukan daur ulang (recycle) dan upaya-upaya nyata lainnya.

“Kami juga berharap kegiatan ini turut memberi kontribusi terhadap efektivitas pengelolaan SAP Selat Pantar dari sisi peran serta warga dalam pengelolaan dan bagaimana kawasan SAP Selat Pantar bebas dari sampah di pantai dan perairannya,” tutur I Made Dharmajaya, Site Coordinator Alor & Flores Timur MPA, WWF-Indonesia.


Cerita Terkini

PT MRT Jakarta dan WWF-Indonesia Jalin Kemitraan Ajak Masyarakat Berg

Jakarta, 20 September 2019 – PT. Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) dan Yayasan WWF-Indonesia (WWF-Indo...

PPATK: Mari Bersama Stop Perdagangan Ilegal Satwa Liar Dilindungi Hing

Oleh: Nur Arinta Perdagangan ilegal satwa liar dilindungi merupakan permasalahan global yang serius dan menja...

Perempuan dan Damar

Beberapa perempuan telah berlalu lalang di tempat ini sejak pagi tadi. Suara sayup-sayup mereka menyatu dengan cip...

Get the latest conservation news with email